Can I Love You, Can’t I?

CanILoveYouCanI2

Title: Can I Love You, Can’t I?

Author: Felicia Rena

Rating: PG 15+

Genre: Friendship, Hurt/Comfort

Main Cast: Xi Luhan, Im Yoona, Kris Wu

Disclaimer: I do not own anything except storyline. This story is pure fiction. All casts belongs to God.

Poster by Felicia Rena

Author’s Note: Ini adalah FF Exoshidae pertamaku. FF ini dibuat dalam rangka ikut lomba beberapa bulan yang lalu, walaupun nggak menang sih. Hehe. Akhirnya aku putusin buat nge-publish FF ini disini daripada jamuran (?) di laptop 🙂 Oh ya, FF ini juga terinspirasi dari lagunya 2AM yang judulnya “A Confession of a Friend”.

Hope you’ll enjoy!

NO PLAGIAT, Please…:)

.

.

.

You hold my hand and tell me you only have me

Keeping me as a friend

you say it’s a blessing

Whenever you say let’s never change

I had to push my feelings down

(A Confession of a Friend – 2AM)

Seorang namja tampak berlari ditengah keramaian kota Seoul di malam hari. Beberapa kali dia menabrak pejalan kaki namun dia tidak berhenti bahkan untuk sekedar meminta maaf. Pikirannya hanya dipenuhi kecemasan pada seseorang. Seorang yeoja yang sudah merebut hatinya sejak beberapa tahun lalu.

“Yoona-ah, dimana kau?” Namja tersebut mulai tampak frustasi. Rasanya dia sudah berlari berkeliling ke beberapa tempat mencari yeoja bernama Yoona itu namun belum mendapatkan hasil apapun.

Ketika namja tersebut berlari melewati taman kota, matanya menangkap sosok yang sejak tadi dicarinya.  Seorang yeoja duduk di salah satu bangku taman sambil menatap lurus ke arah kolam di tengah taman. Perasaan lega menjalar ke seluruh tubuh namja itu setelah memastikan bahwa yeoja itu memang orang yang sedang dicarinya.

Namja itu berjalan mendekati yeoja yang sepertinya tidak menyadari kehadiran orang lain di dekatnya. Yeoja itu masih menatap kosong ke arah kolam. Sepertinya dia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Yoona-ah.” Namja itu memanggil nama si yeoja.

Yeoja yang dipanggil Yoona itu menoleh dan tampak sedikit terkejut melihat kehadiran seorang namja disebelahnya. “Luhan-ah!”

“Apa yang kau lakukan disini? Apa kau tidak tahu kalau eomma-mu sangat mengkhawatirkanmu? Sudah berapa lama kau berada disini?” tanya Luhan.

“Sejak pukul satu,” jawab Yoona pelan yang lebih menyerupai bisikan.

Luhan mengecek jam tangannya. Sekarang sudah hampir pukul setengah tujuh. Jadi Yoona sudah berada disini selama itu?

“Kenapa kau tidak mengangkat telepon dari eomma-mu? Dia sangat panik dan mengira terjadi sesuatu padamu sampai eomma-ku harus menenangkannya,” kata Luhan.

Rumah Luhan dan Yoona memang bersebelahan. Karena letak rumah mereka itu jugalah yang membuat Yoona dan Luhan akhirnya bersahabat sejak mereka masih kecil. Ditambah dengan fakta bahwa dilingkungan mereka hanya Yoona dan Luhan yang seumuran. Selain itu, hubungan keluarga mereka juga sudah sangat dekat seperti layaknya keluarga sesungguhnya.

Mianhae.” Hanya itu yang diucapkan oleh Yoona.

Luhan mengernyit bingung ke arah Yoona. Yeoja itu nampak tidak terlihat seperti biasanya. Yoona yang dikenal Luhan adalah gadis yang ceria dan mendekati hyperactive. Yoona hampir tidak pernah berwajah murung seperti sekarang ini.

“Kau ini sebenarnya menunggu siapa?” tanya Luhan walaupun sebenarnya dia sudah mengetahui jawabannya.

“Kris,” jawab Yoona.

Dugaan Luhan benar. Yoona pasti sedang menunggu kekasihnya, Kris. Namja itu tahu benar bahwa sudah hampir setahun ini Yoona menjalin hubungan dengan seorang namja bernama Kris. Well, sebenarnya hubungan mereka lebih karena kedua orangtua Yoona dan Kris menjodohkan anak-anak mereka. Suatu hal yang konyol menurut Luhan. Namun toh nyatanya Yoona memang mencintai Kris, walaupun namja itu tidak terlihat membalas perasaan Yoona bahkan sering mengecewakan yeoja itu.

“Kalian berjanji untuk bertemu disini?” tanya Luhan lagi yang dijawab dengan anggukan oleh Yoona.

“Dan dia belum datang sampai sekarang?” Luhan menatap Yoona tidak percaya. Mereka berjanji untuk bertemu sejak lebih dari lima jam yang lalu dan Yoona masih tetap menunggu namja itu sampai sekarang?

“Dia pasti datang,” ucap Yoona.

“Sekarang sudah hampir pukul tujuh, Yoona-ah. Kenapa kau berpikir bahwa dia pasti datang?” Luhan mulai terdengar frustasi.

“Dia tidak pernah mengingkari janjinya. Dia pasti datang,” sahut Yoona.

Tidak pernah mengingkari janji? Apa Yoona baru saja terbentur dan mengalami amnesia? Bahkan Luhan saja mengingat berapa kali namja bernama Kris itu mengingkari janjinya pada Yoona. Misalnya saat Kris berjanji akan menjemput Yoona dari tempat kerjanya, dia tidak pernah muncul sampai akhirnya Luhan yang berinisiatif untuk menjemput Yoona. Atau ketika Kris berkata bahwa dia akan menemani Yoona ke pesta pernikahan salah satu temannya. Yoona terus menunggu kedatangan Kris dan akhirnya harus menanggung malu karena namja itu tidak datang sementara Yoona sudah berkata pada teman-temannya bahwa kekasihnya akan datang.

Luhan mengenal Kris dengan cukup baik. Mereka satu sekolah sejak SMP hingga di bangku kuliah. Awalnya Luhan berteman dekat dengan Kris, tetapi sejak Kris menjalin hubungan dengan Yoona dan sering sekali menyakiti yeoja itu, Luhan mundur teratur dari hadapan Kris. Luhan tahu bahwa Yoona bukanlah gadis yang dicintai oleh Kris. Luhan tahu bahwa Kris mencintai orang lain. Tapi bagaimana mungkin Luhan tega mengatakan hal itu jika dia sendiri tahu bahwa sahabatnya ini begitu mencintai Kris?

“Pulanglah sekarang, Yoong. Dia tidak akan datang,” bujuk Luhan.

“Tidak. Dia pasti datang,” Yoona tetap bersikeras.

Luhan menghela napas. Dia tidak tahu bagaimana caranya membujuk yeoja itu supaya mau pulang. Luhan tahu penantian gadis itu akan berakhir sia-sia. Namja brengsek itu tidak akan pernah muncul walaupun Yoona menunggunya selama seabad.

“Apakah kau sudah mencoba menghubunginya?” tanya Luhan.

“Sudah, tetapi nomornya tidak aktif,” jawab Yoona.

Lihat kan? Sudah jelas bahwa Kris pasti menghindari Yoona. Hanya saja sepertinya Yoona memang sudah dibutakan oleh cinta.

Luhan menatap sedih pada Yoona. Awalnya dia mengira Kris bisa memperlakukan Yoona dengan lebih baik. Sayangnya Luhan harus menelan pil kekecewaan yang teramat sangat. Kris justru membuat Yoona menangis, sesuatu yang sejak dulu selalu diusahakan oleh Luhan supaya tidak pernah terjadi.

Sejak itu Luhan berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga Yoona. Menjaga supaya airmata yeoja itu tidak perlu lagi mengalir sia-sia demi Kris. Namun seringkali juga usahanya sia-sia karena Yoona nampak begitu mudah meneteskan airmatanya karena Kris.

Akhirnya Luhan memutuskan untuk duduk disamping Yoona dan menemani gadis itu. Saat ini menurutnya hal itu lebih baik daripada harus meninggalkan Yoona sendiri disini. Setidaknya dengan berada di samping Yoona, Luhan bisa menjaganya supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Yoona.

“Dia tidak akan datang, Yoong,” ulang Luhan setelah beberapa menit keheningan menyelimuti mereka.

“Kau benar.” Jawaban Yoona mengangetkan Luhan. “Dia tidak akan datang.”

Luhan menoleh dengan heran pada Yoona. “Lalu kenapa kau masih disini?”

Yoona menatap sepatunya seolah benda itu adalah benda paling menarik di dunia. “Entahlah. Sebagian dari diriku masih tetap berharap bahwa dia akan datang. Walaupun aku tahu—semua penantianku sia-sia,” ujar Yoona dengan suara tercekat.

Luhan melihat sebutir airmata sudah mulai turun dari mata cantik Yoona tanpa bisa dicegah. Namja itu akhirnya menarik Yoona ke dalam pelukannya dan menyandarkan kepala yeoja itu ke bahunya. Tangannya mengelus pundak Yoona dengan gestur menenangkan.

“Katakan saja semua perasaanmu, Yoong. Kau tahu benar bahwa aku selalu ada untukmu. Kau tahu bahwa kau selalu bisa menceritakan apapun padaku,” kata Luhan.

“Aku lelah,” bisik Yoona dengan suara bergetar. “Sebenarnya aku sudah lelah dengan semua sikapnya padaku. Aku tahu dia tidak pernah mencintaiku.”

Luhan hanya terdiam mendengarkan semua perkataan Yoona. Membiarkan yeoja itu mencurahkan semua ganjalannya mungkin memang hal yang terbaik untuk saat ini. Yoona sudah terlalu lama memendam semuanya sendiri. Kali ini saja Luhan ingin supaya Yoona membagi semuanya pada dirinya.

“Tapi—“ lanjut Yoona, kali ini diselingi dengan isak tangis. “Aku sangat mencintainya.”

Luhan mengeratkan pelukannya pada Yoona, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di bahunya. Selama beberapa menit kedepan, Luhan tetap diam dan memeluk Yoona. Sesekali tangannya akan menepuk atau mengelus lembut pundak Yoona sekedar untuk memberikan ketenangan pada yeoja itu.

“Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah sudah lebih baik?” tanya Luhan ketika Yoona sudah berhenti menangis. Yoona sudah duduk tegak, tetapi Luhan belum melepaskan rangkulannya di pundak Yoona.

“Sudah jauh lebih baik. Gomawo, Luhan-ah. Terima kasih karena kau selalu ada di sampingku. Kau adalah sahabat terbaik yang bisa kumiliki,” kata Yoona sambil tersenyum walaupun kedua matanya masih sembap.

Luhan berusaha ikut tersenyum walaupun kata-kata Yoona tadi sedikit menohoknya. Yoona hanya menganggapnya sebagai sahabat. Sahabat terbaik yang bisa dimilikinya. Apakah selamanya arti dirinya tidak akan berubah lebih bagi Yoona?

“Lebih baik kita pulang sekarang. Bisa gawat kan kalau sampai eomma-mu lapor polisi?” ajak Luhan, kali ini sambil tertawa kecil dan berdiri sambil mengulurkan tangan kanannya pada Yoona untuk membantunya berdiri.

Yoona tersenyum sambil menyambut uluran tangan Luhan. Perasaannya sudah jadi lebih baik setelah mencurahkan seluruh isi hatinya pada Luhan tadi. Hanya pada Luhan-lah Yoona bisa menceritakan semuanya. Yoona benar-benar merasa beruntung memiliki Luhan sebagai sahabat yang selalu ada disampingnya. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan sahabat seperti Luhan.

Kajja. Kita pulang,” kata Yoona. “Tapi tolong jangan katakan pada eomma bahwa aku menunggu Kris disini sejak siang. Eomma pasti akan jadi sangat khawatir.”

Luhan hanya mengangguk. Seperti biasanya, Yoona akan tetap melindungi Kris dan Luhan terpaksa harus berbohong bersamanya. Walaupun merasa sedikit kesal, namun Luhan akan tetap melakukan apapun demi Yoona. Salahkah jika dia terlalu mencintai gadis itu?

.

Keramaian kota Seoul memang tidak pernah padam. Walaupun waktu sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, pusat kota Seoul masih tetap bersinar. Jalanan kota masih tetap dipenuhi kendaraan yang berlalu-lalang. Bahkan pejalan kaki-pun masih tampak menyusuri trotoar.

Luhan mengemudikan mobilnya menuju salah satu bar di tengah kota. Jika bukan karena undangan sahabat baiknya yang sedang berulangtahun, Luhan tidak akan mau menginjakkan kaki di bar pada jam segini.

Setelah sampai di tempat tujuannya, Luhan memarkir mobilnya di tempat parkir yang memajang sederet mobil-mobil mewah lainnya. Bar yang dikunjunginya ini memang salah satu tempat terkenal di Seoul. Karena itu tidak heran jika harga yang tertera termasuk golongan mahal dan hanya bisa dijangkau bagi mereka yang berduit.

Luhan langsung mengernyitkan dahinya begitu memasuki bar. Sejak dulu Luhan memang tidak suka pergi ke bar. Lampu sorot warna-warni yang ada disana terlalu terang dan menyakitkan mata bagi Luhan. Luhan kemudian berjalan masuk sambil melindungi kedua matanya dari sorotan lampu yang membuatnya pusing.

“Oi! Luhan-ah!

Luhan menoleh dan melihat kumpulan namja duduk di salah satu meja yang ada di sudut ruangan. Salah satu dari mereka melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Namja itu bernama Xiumin, yang hari ini merayakan ulangtahunnya yang ke-23.

“Xiumin-ah! Saengil chukhaeyo!” sapa Luhan setelah mendekati Xiumin dan menjabat tangan sahabatnya sejak SMP itu.

Ya! Luhan-ah! Kenapa kau lama sekali datangnya?” tanya Xiumin sambil menepuk-nepuk pundak Luhan dan mengisyaratkan pada namja itu supaya duduk di sebelahnya.

Mianhae. Aku tadi masih ada urusan dulu dan di jalan juga sempat macet tadi,” jawab Luhan sambil duduk di samping Xiumin.

Hyung! Lama tidak berjumpa!” kata namja di sisi lain Luhan.

“Kenapa kau jarang ikut kumpul bersama kami, hyung?” tanya namja lain di seberang Luhan.

Mianhae, Sehun-ah, Kai-ah. Kalian selalu memilih waktu untuk berkumpul ketika aku sudah punya jadwal lain,” balas Luhan sambil tertawa.

“Ah, apakah kau sekarang sudah mempunyai seorang yeojachingu sampai-sampai kau kehabisan waktu untuk kami, hyung?” timpal namja yang duduk disebelah Sehun sambil terkekeh.

Luhan balas tertawa. “Bagaimana denganmu, Lay? Apakah kau juga sudah mempunyai seorang yeojachingu?

“Ah, hyung! Jangan malah balik bertanya!” sahut Lay sambil memasang wajah cemberut yang membuat Luhan semakin tertawa.

Luhan melihat ke sekelilingnya. Memang benar, sudah lama sekali dia tidak berkumpul bersama sahabat-sahabatnya ini. Awalnya mereka menjadi dekat melalui komunitas dance yang ada di sekolah mereka saat SMP. Ketika memasuki SMA, sebagian dari mereka masuk ke SMA yang lama dan kembali membentuk komunitas dance. Di antara mereka sekarang bahkan ada yang sudah menjadi trainee dari salah satu agensi besar industri hiburan Korea Selatan.

Karena sudah bersama-sama selama kurang lebih sepuluh sampai sebelas tahun, tidak heran jika hubungan di anatara mereka sudah seperti saudara. Meskipun sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka akan meluangkan waktu setidaknya dua minggu sekali untuk berkumpul bersama seperti sekarang ini. Luhan sendiri sekarang jarang hadir karena waktu yang ditentukan biasanya memang tidak mengijinkannya untuk bisa pergi.

Setelah menatap berkeliling, pandangan Luhan tertuju pada seorang namja yang duduk disebelah Kai. Namja itu lebih banyak diam dan hanya tersenyum mendengar candaan dari teman-temannya. Namja itu sepertinya menyadari tatapan Luhan karena berikutnya dia menatap Luhan dengan tatapan yang sulit di artikan. Tidak ingin membuat atmosfir yang ada menjadi canggung, Luhan memaksakan seulas senyum pada namja itu sebelum memalingkan wajahnya.

Luhan memperhatikan ketika namja itu bangkit dari kursinya dan menggumamkan bahwa dia perlu ke kamar mandi sebentar. Selama beberapa saat, Luhan bertarung dengan pikirannya apakah dia harus mengikuti namja itu atau tidak. Sekitar selang lima menit kemudian, Luhan ikut bangkit berdiri dari kursinya.

“Luhan-ah, kau mau kemana?” tanya Xiumin yang baru saja menenggak satu gelas wine.

“Aku mau ke kamar mandi sebentar,” jawab Luhan yang hanya dibalas anggukan oleh Xiumin.

Luhan memperhatikan yang lain tampaknya sudah mulai terbawa pengaruh dari wine yang mereka minum. Walaupun begitu, Luhan tahu bahwa teman-temannya ini selalu tahu batas. Mereka tidak akan minum sampai mabuk berat, apalagi mengingat bahwa mereka harus pulang dengan kendaraan masing-masing.

Luhan berjalan menuju kamar mandi. Berbeda dengan ruang utama bar yang ramai, suasana di dekat kamar mandi sangat sepi walaupun cahaya yang muncul masih tetap menyilaukan. Luhan sudah berbelok di lorong menuju kamar mandi ketika namja tadi keluar dari kamar mandi. Untuk beberapa saat, kedua namja ini hanya saling bertatapan dengan pandangan yang sama-sama sulit di artikan.

“Kris,” panggil Luhan setelah beberapa menit hening dalam tatapan masing-masing. “Ada yang ingin kubicarakan.”

Kris tetap berdiri dalam diam tanpa melepaskan pandangannya pada Luhan. Sepertinya namja ini sudah mengetahui ke arah mana Luhan akan membawa pembicaraan mereka. Kris tampak menimbang apakah dia perlu mendengarkan Luhan atau tidak.

“Tentang apa?” tanya Kris akhirnya.

“Yoona,” jawab Luhan singkat. Dia menyadari perubahan air muka Kris saat dia menyebut nama Yoona ditengah-tengah mereka.

“Aku tidak akan berbasa-basi. Kau sendiri tahu bahwa aku tidak suka berbasa-basi,” lanjut Luhan yang berusaha menjaga dirinya tetap tenang. “Kenapa kau membatalkan janjimu dengan Yoona kemarin dan tanpa pemberitahuan apapun?”

Kris tampaknya sudah mengantisipasi munculnya pertanyaan itu. “Aku ada meeting mendadak di kantor dan baterai ponselku habis, jadi aku tidak bisa mengabari Yoona,” jawab Kris.

“Kenapa kau tidak datang ke tempat perjanjian kalian setelah meeting-mu selesai? Seharusnya kau tahu bahwa Yoona akan terus menunggumu. Dia masih menunggumu sampai jam setengah tujuh malam. Kalau aku tidak menjemputnya, mungkin dia masih akan tetap berada disana sampai sekarang,” sahut Luhan.

Luhan mulai merasa kesal karena Kris sendiri sama sekali tidak menunjukkan raut wajah bersalah. Seolah-olah bahwa meninggalkan Yoona seperti itu adalah hal yang wajar dan bukan suatu kesalahan.

Kris sendiri sebenarnya tampak agak terkejut mendengar berapa lama Yoona menunggunya, namun dia tidak menampilkan ekspresi terkejut itu di depan Luhan. Sebagai gantinya, Kris memasang wajah datarnya yang dia tahu justru akan membuat Luhan merasa kesal.

Kris sendiri sebenarnya bukan ingin bermaksud jahat pada Yoona. Hanya saja namja itu memang tidak menyukai ide perjodohan kedua orangtua mereka. Dia berharap jika dia memperlakukan Yoona dengan buruk, maka gadis itu akan meminta pada orangtuanya supaya membatalkan perjodohan itu. Namun rupanya Kris salah besar. Yoona tetap tersneyum padanya dan tidak pernah sekalipun mengeluhkan sikapnya yang buruk. Walaupun begitu, tetap saja, Kris tidak pernah bisa mencintai Yoona.

“Kenapa kau begitu peduli padanya?” Kris balas bertanya.

“Tentu saja karena dia sahabatku! Kau tahu sendiri bahwa dia sudah seperti saudari bagiku,” jawab Luhan.

“Apakah kau mencintainya?”

Pertanyaan yang dilontarkan oleh Kris benar-benar diluar dugaan Luhan. Luhan bahkan tidak sempat menyembunyikan rasa terkejutnya. Kris sendiri sekarang menatap Luhan dengan tatapan penuh kemenangan. Jelas sekali bahwa memang sudah sejak lama, Kris ingin sekali melempar pertanyaan itu pada Luhan.

“Apa maksudmu?” sergah Luhan. “Bukankah sudah kukatakan bahwa dia itu seperti saudari bagiku?”

“Tapi dia bukan benar-benar saudaramu kan? Aku hanya bertanya, Luhan-ah. Tidak perlu bereaksi sekeras itu kalau jawabannya tidak,” sahut Kris sambil tersenyum.

“Kau—“ Luhan mulai kehabisan kata-kata.

“Sudahlah, Luhan-ah. Kuberitahu satu hal padamu. Kalau memang tidak mencintai Yoona, maka jangan pernah mencampuri urusanku dengan Yoona. Aku tidak peduli apakah kau menganggapnya sebagai saudarimu atau apapun.Aku tidak suka ada orang lain yang mencampuri hubungan kami,” ujar Kris.

“Aku tidak akan pernah membiarkanku menyakitinya lagi, Kris,” ucap Luhan pelan nyaris berupa bisikan namun terdengar tajam di telinga Kris. “Tidak ada yang boleh menyakiti Yoona.”

“Aku tidak menyakitinya,” balas Kris. “Dia yang menyakiti dirinya sendiri.”

Setelah berkata seperti itu, Kris berjalan pergi meninggalkan Luhan. Ketika Luhan kembali ke meja teman-temannya, Sehun memberitahunya kalau Kris harus pulang lebih dulu karena merasa tidak enak badan. Luhan menghabiskan sisa malamnya dengan lebih banyak diam dan memikirkan percakapan kecilnya dengan Kris.

Mungkin kata-kata Kris ada benarnya. Yoona memang menyakiti dirinya sendiri dengan memberikan harapan-harapan palsu bahwa suatu saat Kris akan merubah sikapnya. Bahwa suatu saat Kris akan mencintainya.

Luhan menghela napasnya. Apalagi yang bisa dia lakukan? Dia tidak ingin Yoona terluka, namun yeoja itulah yang memegang pisau yang menyayat dirinya sendiri. Luhan hanya bisa berharap Kris mau membuka hatinya sedikit saja untuk Yoona. Asalkan Yoona bahagia, Luhan rela memberikan semuanya, termasuk mengorbankan perasaannya.

.

“Luhan-ah, terima kasih kau sudah mau menemaniku hari ini,” kata Yoona.

Yoona dan Luhan baru saja keluar dari salah satu pusat perbelanjaan. Hari ini Luhan memang menemani Yoona berbelanja macam-macam kebutuhan bayi untuk salah satu sahabat mereka yang baru saja melahirkan. Yoona terlihat sangat senang sekali terutama saat memilih pakaian-pakaian bayi yang lucu. Dan tentu saja Luhan rela membayar dengan apapun demi melihat Yoona tersenyum.

“Tidak apa-apa. Kebetulan aku juga sedang tidak sibuk,” balas Luhan.

“Aku sebenarnya tadi mau minta tolong pada Kris untuk menemaniku, tetapi lagi-lagi nomornya tidak aktif. Sepertinya dia sedang sibuk sampai-sampai tidak bisa dihubungi seperti itu,” kata Yoona.

‘Atau mungkin dia sudah ganti nomor tanpa memberitahumu,’ batin Luhan sambil memutar bola matanya.

“Hei, apakah kau mau ikut pergi ketempat Sica eonni dan Donghae oppa? Kau juga sudah lama tidak bertemu dengan mereka bukan?” ajak Yoona.

“Hhmm, benar juga ya. Aku bahkan tidak akan tahu kalau anak pertama mereka sudah lahir kalau kau tidak memberitahukannya padaku,” kata Luhan sambil terkekeh.

“Iya kan? Kalau begitu kau harus ikut denganku ke tempat mereka,” ujar Yoona.

“Bilang saja kalau kau minta ditemani,” sahut Luhan yang hanya dijawab Yoona dengan tertawa.

Luhan ikut tertawa sambil tetap melangkah sebelum dia menyadari bahwa Yoona tidak lagi melangkah disebelahnya. Menyadari hal itu, Luhan berhenti berjalan dan menoleh ke arah Yoona yang tertinggal di belakang.

Yoona menatap lurus ke depan dengan ekspresi aneh. Rasa kaget, sakit hati, kecewa, tidak percaya, tampak bercampur menjadi satu. Luhan berjalan mendekati Yoona dan mengikuti arah pandangan yeoja itu.

Sekitar sepuluh kilometer di depan mereka tampak Kris sedang menggandeng tangan seorang yeoja cantik. Luhan mungkin akan mencoba berpikir positif bahwa bisa saja yeoja itu adiknya jika dia tidak tahu bahwa Kris tidak mempunyai saudara perempuan. Terlebih lagi, cara Kris menatap yeoja itu adalah tatapan yang sangat dikenal oleh Luhan. Itu adalah tatapan yang sama seperti ketika Luhan menatap Yoona.

Luhan menoleh dengan khawatir ke arah Yoona yang masih mematung. Yoona sendiri masih berusaha mencerna apa yang dilihatnya barusan. Berikutnya, tanpa bisa dihentikan, setetes airmata mengalir turun dari mata indahnya yang sudah penuh dengan airmata yang siap menerobos turun.

Kajja.” Tanpa menunggu persetujuan dari Yoona, Luhan langsung menarik tangan Yoona pergi dari tempat itu.

Yoona menurut saja ketika tangannya ditarik oleh Luhan. Tetapi walaupun mereka sudah pergi meninggalkan tempat itu, bayangan Kris yang sedang bergandengan tangan mesra dengan seorang yeoja terus muncul dalam pikiran Yoona tanpa bisa dicegah. Cairan bening kembali mengalir dari kedua matanya.

Luhan membawanya ke taman yang terletak dibelakang pusat perbelanjaan tempat mereka berbelanja tadi. Sesampainya disana, Luhan mendudukkan Yoona di salah satu bangku taman. Luhan sendiri kemudian berjongkok di depan Yoona dan menatap langsung wajah yeoja itu yang tertunduk.

“Jangan menangis,” ucap Luhan lembut. Tangan kanannya mengusap pelan wajah Yoona yang sudah basah oleh airmata. “Airmatamu terlalu berharga untuk sekedar menangisinya, Yoong. Dia tidak pantas untuk kau tangisi.”

Yoona masih tetap terisak sampai akhirnya Luhan memutuskan untuk memeluknya. Luhan tetap diam dan membiarkan Yoona membasahi kemejanya dengan airmata. Mungkin saat ini, menangis adalah jalan yang paling baik bagi Yoona. Luhan sadar bahwa Yoona sudah terlalu lama menahan emosinya. Kali ini, Luhan harus tetap ada di samping yeoja itu. Dia tahu kalau Yoona sedang sangat membutuhkannya saat ini—sebagai sahabat.

.

Sejak kejadian dirinya dan Yoona memergoki Kris dengan seorang yeoja yang tidak dikenal, Luhan belum bertemu lagi dengan Yoona. Gadis itu nampaknya masih cukup terguncang dan Luhan tidak mau menambah beban Yoona. Mungkin saat ini Yoona masih ingin sendiri untuk menenangkan pikirannya supaya bisa berpikir jernih.

Walaupun merasa sangat mencemaskan Yoona, namun Luhan tetap bertahan dengan tidak menemuinya. Luhan tahu bahwa Yoona akan kembali padanya setelah gadis itu sudah siap dan merasa jauh lebih baik.

Hari ini adalah akhir pekan dan Luhan memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Suasana rumah memang cepat membuatnya merasa bosan, apalagi ketika dia sedang tidak memiliki apapun untuk dikerjakan.

Luhan membiarkan kakinya memimpinnya melangkah kemanapun yang dia suka. Suasana sore hari ini sangat teduh dan tenang. Suasana seperti ini memang cocok sekali untuk berjalan-jalan menikmati hari.

“Luhan-ah.”

Luhan langsung berhenti melangkah ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya memanggil lembut namanya. Dia segera berbalik dan menemukan Yoona berdiri beberapa meter dibelakangnya sambil tersenyum.

“Yoona-ah,” balas Luhan sambil tersenyum

Luhan mengamati Yoona dari atas sampai bawah. Keadaan yeoja itu nampaknya sudah lebih baik. Yoona sudah tersenyum seperti biasa walaupun masih ada yang mengganjal dalam sorot matanya.

“Sudah lama tidak bertemu,” lanjut Luhan ketika Yoona berjalan mendekatinya.

“Ya. Maaf kalau aku terlalu lama mengurung diri,” ucap Yoona sambil kembali tersenyum manis.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Luhan.

“Sudah jauh lebih baik. Ayo kita cari tempat lain. Ada yang ingin kuceritakan padamu,” kata Yoona sambil menarik tangan Luhan untuk kembali berjalan.

Luhan hanya menurut ketika Yoona menarik tangannya. Sentuhan-sentuhan kecil seperti ini saja sudah bisa membuat jantungnya berdetak dua sampai tiga kali lebih cepat.

Yoona membawanya ke sebuah sekolah dasar yang ada di dekat rumah mereka. Sewaktu masih kecil, Yoona dan Luhan suka sekali bermain ke tempat ini. Mereka akan menikmati bermain perosotan bersama atau berlomba siapa yang bisa bermain ayunan paling cepat. Terkadang Yoona sangat merindukan masa-masa itu.

Yoona duduk di salah satu ayunan dan Luhan mengikutinya duduk di ayunan di sebelahnya. Selama beberapa saat, Yoona hanya berayun-ayun ditempatnya. Sementara itu, Luhan hanya berdiam diri sambil menunggu Yoona untuk memulai ceritanya.

“Aku sudah membatalkan perjodohanku dengan Kris,” kata Yoona akhirnya.

Luhan langsung menoleh dengan cepat ke arah Yoona. “Benarkah?”

“Ya. Aku sudah bicara dengan kedua orangtuaku. Mereka terkejut, tentu saja. Karena setahu mereka, hubunganku dengan Kris selama ini baik-baik saja. Tapi aku sudah mengatakan pada mereka bahwa aku dan Kris tidak menemukan kecocokan yang berarti. Untunglah mereka tidak memaksaku,” lanjut Yoona sambil tersenyum kecil.

“Apa kau baik-baik saja dengan hal itu?” tanya Luhan sambil menatap Yoona dengan sedikit cemas.

“Aku baik-baik saja. Percayalah,” tambahnya ketika Luhan menampilkan ekspresi tidak percaya.

“Aku memang bodoh,” kata Yoona berikutnya. “Ya, aku menyadarinya. Aku seharusnya tidak memaksakan perasaanku padanya. Aku sendiri yang membuat diriku merasakan sakit hati ini.”

“Apa kau masih mencintainya?” Luhan memberanikan diri menanyakan pertanyaan yang sangat ingin dia ketahui jawabannya sejak tadi.

Yoona menoleh menatap Luhan dengan kedua alis terangkat. Sesaat gadis itu tampak bimbang, namun berikutnya dia kembali tersenyum walaupun matanya tetap tidak menutupi kesedihannya.

“Mungkin masih. Tidak mudah rasanya untuk melupakan orang yang kau cintai dalam sekejap. Aku rasa aku juga butuh waktu untuk bisa melupakannya,” jawab Yoona pelan. Pandangan matanya kembali menerawang ke depan.

“Apa—aku tidak bisa menggantikan posisinya dihatimu?”

Yoona kembali menoleh dengan terkejut ke arah Luhan. Matanya melebar dan mulutnya terbuka seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Luhan. Beberapa kali Yoona mengerjapkan matanya selagi menatap Luhan.

“Apa—maksudmu?”

Luhan menghela napasnya. Mungkin sudah saatnya dia mengatakan semuanya pada Yoona. Saatnya dia jujur tentang perasaannya pada gadis itu.

“Lupakan dia, Yoona-ah. Lupakan Kris. Aku berjanji akan selalu menjagamu,” ucap Luhan sambil menatap langsung kedua mata Yoona.

Saranghaeyo, Yoona-ah.” Akhirnya Luhan mampu mengucapkan kalimat itu di hadapan Yoona, setelah sekian lama dia memendam perasaanya. Luhan menatap Yoona dengan lembut walaupun jantungnya berdebar kencang menunggu reaksi yeoja itu.

Bukan hanya Luhan yang jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, tetapi juga Yoona. Dia tidak pernah menyangka bahwa Luhan, sahabatnya, ternyata menyimpan perasaan khusus untuknya. Ah, Yoona jadi bertanya-tanya apakah itu berarti selama ini dia telah menyakiti perasaan Luhan?

“Aku tidak akan pernah menyakitimu seperti yang dilakukan namja itu padamu. Sejak dulu aku berjanji pada diriku sendiri untuk melindungimu. Aku tidak akan membiarkan siapapun membuatmu menangis,” lanjut Luhan pelan namun tegas.

Yoona masih menatap Luhan dengan ekspresi terkejut, namun perlahan senyum mulai mengembang di bibirnya. Yoona meraih tangan kanan Luhan dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya. Luhan sendiri tampak sedikit terkejut ketika Yoona tiba-tiba menggenggam tangannya.

Gomawo, Luhan-ah,” kata Yoona. “Terima kasih untuk perasaanmu padaku. Terima kasih untuk selalu berada disisiku. Terima kasih untuk selalu menjagaku.”

Yoona berhenti bicara sambil masih tetap tersenyum. Luhan tahu bahwa gadis itu belum selesai bicara, maka dia hanya diam menunggu Yoona melanjutkan kata-katanya.

“Memilikimu sebagai sahabat adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Sejak dulu, aku merasa sangat beruntung bisa memilikimu sebagai sahabat,” lanjut Yoona.

“Bisakah—kita tetap menjadi sahabat?”

Yoona menatap Luhan dengan sorot mata lembut namun sedih, begitu pula dengan senyum yang terukir di wajahnya. Bukannya Yoona tidak mencintai Luhan. Yoona yakin, jika dia mencoba, akan sangat mudah jatuh cinta pada sahabatnya itu. Namun bagi Yoona, persahabatan mereka jauh lebih penting. Bagi Yoona, persahabatan mereka jauh lebih berharga dari apapun. Dia tidak mau kehilangan Luhan karena cinta seperti dia kehilangan Kris.

Mianhae,” kata Yoona setengah berbisik. “Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.”

Tangan kiri Luhan yang bebas kini balas menggeggam kedua tangan Yoona. Namja itu tetap tersenyum lembut, walaupun dia tahu cintanya mungkin tidak akan pernah berbalas.

Gwencana, Yoona-ah,” balas Luhan. “Aku mengerti. Maaf kalau aku membuatmu merasa tidak nyaman. Kita akan tetap bersahabat kan?”

Luhan bisa melihat kedua mata Yoona yang perlahan kembali bersinar dan senyum gadis itu yang mengembang semakin lebar. Senyum itulah yang selalu bisa meluluhkan Luhan. Senyum itu juga yang sudah membuat Luhan jatuh cinta. Bahkan sampai saat ini, terkadang Luhan bertanya pada dirinya sendiri, salahkah dia jika jatuh cinta pada senyum itu?

Tanpa peringatan apa-apa, Yoona langsung memeluk Luhan. “Tentu saja,” katanya sambil tetap tersenyum. “Kau adalah sahabat terbaikku dan akan selamanya seperti itu. Tidak akan ada yang berubah, Luhan-ah.

Luhan balas memeluk Yoona sambil menepuk pelan pundak yeoja itu seperti setiap kali dia memeluknya. Sebenarnya hatinya terasa sakit ketika dia harus menahan perasaannya pada Yoona dan tetap memainkan peran sebagai sahabat terbaiknya. Setidaknya, Luhan tahu bahwa baik dirinya maupun Yoona sama-sama tidak mau kehilangan satu sama lain.

Selama dia masih bisa terus berada di sisi Yoona, itu sudah cukup bagi Luhan. Walaupun itu berarti, selamanya, dia harus menekan perasaan cintanya pada Yoona.

.

END

Please leave your comment 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Can I Love You, Can’t I?

  1. Huaaaaaaaa bang wupan minta ditabok (۳˘̶̩̩̩́Д˘̶̩̩̩̀)۳
    Thor,mau nuntut buatin sequel deong
    Please yayayayay
    Jebal (˘ʃƪ˘)
    Pengen luyoon bersatuuuuuuuu
    Demiapapun hiks :”

  2. aduuh, mian telat banget komennya,
    masih pengunjung baru soalnya,
    eon (sksd) buatin sequel dong, bikin Krisnya juga nyesel gak pernah nganggap yoong, tp dilain sisi yoong juga udah males sama kris, jd dia deket sm Lulu terus,, /plak/reader.ngawur/
    hhee mian eon, malah gak jelas komennya, kebawa suasana sihh, bagus FFnya, kalo bisa ada sequel ne *modus
    semangat><keep.writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s