We Got Married: Episode 3 (22nd Day)

wegotmarried

Title: We Got Married [Episode 1] [Episode 2]

Author: Felicia Rena

Rating: PG 13+

Genre: Romance, Family, and others

Main Cast: Im Yoon Ah, Lee Jong Hyun

Disclaimer: I do not own anything except storyline. This story is pure fiction. All casts belongs to God.

Author’s note: Sedikit keterangan yang lupa dijabarkan di episode-episode sebelumnya (kalau aja ada yang masih bingung). Kalimat yang berwarna merah merupakan komentar dari para MC di studio. Kalimat yang berwarna oranye adalah pertanyaan dari PD-nim di sesi interview. Kalimat yang berwarna pink adalah kata-kata Yoona di sesi interview sementara yang berwarna biru adalah Jonghyun di sesi interview.

Hope you’ll enjoy this fanfic ^^

NO PLAGIAT, Please…:)

.

.

.

EPISODE 3 – 22nd Day

January 17, 2014 – Myeongdong, Seoul

Korea memiliki banyak hari-hari spesial untuk dirayakan oleh semua pasangan. Mulai dari Valentine, White Day, Pepero Day, sampai hari-hari peringatan seperti 22nd day, 100th day, 200th day, dan 300th day. Bagi pasangan di Korea, merayakan hari-hari seperti itu seolah sudah menjadi tradisi.

PD: Hari ini adalah 22nd day untuk kalian berdua.

Jonghyun: Ah, jinjjayo? Benarkah? Aku tidak menghitungnya (tertawa). Kami bahkan belum bertemu lagi sejak tahun baru.

Yoona: Aku tahu. Aku menghitungnya (tertawa).

PD: Apakah kalian pernah merayakan 22nd day sebelumnya?

Yoona: Belum. Tapi aku berharap aku bisa melakukannya kali ini.

Jonghyun: Aku tidak pernah merayakan hari-hari spesial. Apakah kita perlu melakukannya?

MC4: Kurasa mereka akan bertengkar hari ini.

Seorang laki-laki tampak berjalan sendiri dalam balutan mantelnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantelnya sementara wajahnya tertutup masker. Ia kemudian terlihat memasuki sebuah kedai ramyun.

Mwoya? Ia belum datang?” tanyanya setelah melihat ke sekeliling kedai yang berukuran kecil itu dan tidak menemukan sosok yang dicarinya.

Laki-laki itu kemudian berjalan menuju salah satu meja dan duduk di kursi. Ia lalu melepas maskernya dan menyimpannya ke dalam saku. Kedua matanya mulai menjelajah isi kedai tersebut sembari menunggu.

Tidak lama kemudian, seorang gadis nampak memasuki kedai. Gadis itu langsung menyapukan pandangannya ke seluruh sudut kedai sampai ia melihat Jonghyun. Ia bergegas menghampiri Jonghyun dengan ekspresi bersalah.

Mianhae. Maaf aku terlambat. Apakah kau sudah menunggu lama?” ucap Yoona sambil duduk di seberang Jonghyun.

Jonghyun menggelengkan kepalanya. “Belum terlalu lama,” jawabnya.

“Apakah kau sudah memesan sesuatu?” tanya Yoona sambil mengambil buku menu.

“Belum,” sahut Jonghyun. “Kau yang mengajakku kemari jadi aku menunggu rekomendasi darimu. Apa yang enak disini?”

“Kalau begitu aku akan memesankannya untukmu,” ujar Yoona tanpa melepaskan pandangan dari buku menu di tangannya.

“Apakah kau tahu kalau hari ini adalah hari ke-22 sejak kita bersama?” tanya Yoona setelah ia memesankan ramyun untuk dirinya dan Jonghyun.

Jonghyun terlihat berpikir. “Benarkah? Sudah secepat itu?” komentarnya.

Yoona mengangguk. “Kita bahkan belum bertemu lagi sejak tahun baru kan? Tepatnya kita belum pernah bertemu lagi sejak pulang dari Jeju waktu itu,” kata Yoona.

Ne.” Jonghyun membenarkan. “Kau sibuk syuting dramamu kan? Kau bahkan tidak menghadiri acara akhir tahun.”

Ne, jadwal syutingku sangat padat sampai hari ini. Aku bahkan tidak bisa datang di acara Golden Disk Awards kemarin,” sahut Yoona dengan ekspresi sedih.

PD: Apakah jadwal syutingmu sepadat itu?

Yoona: Ne. Semua jadwalku sejak akhir tahun lalu sampai awal tahun ini sudah dipadatkan. Aku bahkan tidak berkesempatan untuk tampil di panggung akhir tahun. Sebenarnya aku merasa sedikit sedih karena itu berarti aku sudah tidak tampil di panggung akhir tahun selama dua tahun berturut-turut.

“Para memberku mengatakan kalau mereka bertemu denganmu di belakang panggung kemarin,” ujar Yoona. “Apakah mereka mengatakan atau melakukan hal yang aneh-aneh?”

Jonghyun mengerutkan keningnya. “Aku juga bertemu mereka di rangkaian acara akhir tahun lalu. Mereka memanggilku Jjong-seobang sekarang,” cerita Jonghyun sambil tertawa. “Itu mengingatkanku pada julukan yang kalian berikan pada Yonghwa hyung. Dulu aku menertawainya dan sekarang ia ganti menertawakanku.”

Yoona tertawa mendengar cerita Jonghyun. Ia bisa membayangkan bagaimana eonnideul-nya akan menggoda Jonghyun setiap kali mereka bertemu. Sama seperti yang dulu mereka—termasuk dirinya—lakukan pada Yonghwa dan Seohyun.

“Ah, lalu apa yang akan kita lakukan hari ini untuk merayakan ‘two twoday?” tanya Yoona.

Jonghyun menatap Yoona dengan ekspresi ngeri di wajahnya. “Haruskah kita melakukan sesuatu untuk merayakannya?”

MC1: Kurasa pertengkaran pertama mereka sebentar lagi akan dimulai.

“Tentu saja!” balas Yoona dengan antusias. “Aku ingin sekali melakukan sesuatu untuk merayakannya. Aku belum pernah merayakan ‘two two’ day sebelumnya.”

 “Untuk apa? Aku juga tidak pernah merayakannya sebelumnya,” ucap Jonghyun.

Ya! Karena itu kali ini kita harus merayakannya,” balas Yoona.

“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Jonghyun, kini dengan ekspresi malas. “Aku tidak pernah merayakan hari-hari seperti itu.”

“Kau harus mencobanya tuan Lee.” Yoona masih belum menyerah untuk membujuk Jonghyun. “Kau harus mencoba banyak hal selagi kau masih muda, kau tahu? Itu termasuk soal hubungan. Kau harus mengalami banyak hal termasuk merayakan ‘two twoday.”

Shireo,” tolak Jonghyun. “Apa untungnya sih merayakan hari-hari seperti itu?”

Ya! Kau ini benar-benar—“

Ucapan Yoona terpotong karena saat itu seorang pelayan mendatangi meja mereka untuk mengantarkan pesanan. Seperti yang bisa di tebak, perhatian Yoona dan Jonghyun teralihkan dengan datangnya makanan. Mereka seolah melupakan perdebatan mereka sebelumnya dan berganti fokus untuk menikmati makanan masing-masing.

MC2: Entah apakah kita harus senang atau kecewa karena pesanan mereka sudah datang.

MC3: Semudah itukah mereka melupakan pertengkaran mereka karena makanan?

MC1: Kurasa di masa depan nanti akan mudah sekali untuk mendamaikan mereka jika sedang bertengkar. Berikan saja mereka makanan.

Yoona: Ia selalu mengatakan tidak ingin melakukannya, tetapi aku terus memaksanya.

Jonghyun: Kupikir aku tidak akan bisa menolak permintaannya. Kurasa aku akan kalah. Ia selalu membuatku tidak bisa menolak apapun yang ia inginkan. (menghela napas) Aku khawatir kali ini aku juga tidak akan bisa menolak permintannya.

Suasana sangat sepi sementara Yoona dan Jonghyun menghabiskan ramyun masing-masing. Mereka berdua memang tidak pernah terlihat mengobrol ketika sudah tiba waktunya untuk makan.

MC4: Apakah mereka tidak bisa mengatakan sesuatu ketika sedang makan?

MC2: Kenapa kita harus selalu menonton mereka makan dalam diam seperti ini?

Jonghyun lebih dulu menyelesaikan ramyunnya sebelum Yoona. Sembari menunggu Yoona selesai, laki-laki itu hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa. Ia lebih memilih untuk mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan.

Jonghyun: Aku takut ia akan kembali pada pembicaraan tentang ‘two twoday itu lagi (tertawa canggung).

“Ah, aku hampir lupa!” seru Yoona tiba-tiba tepat setelah ia menyelesaikan makanannya.

Jonghyun mendongak menatapnya. Laki-laki itu tidak bisa menyembunyikan sorot khawatir di matanya. Ia sepertinya takut jika Yoona akan kembali melontarkan ide-ide yang—menurutnya—sama sekali bukan dirinya.

“Tanggal 14 Januari kemarin adalah perayaan 4 tahun debut CNBLUE kan? Chukhahae!” lanjut Yoona sambil bertepuk tangan.

Jonghyun sedikit menghela napas lega. Ia sudah berpikir kalau Yoona akan kembali menyinggung soal ‘two twoday mereka.

Gomawo,” balas Jonghyun sambil tersenyum.

“Kudengar kalian akan membangun sekolah kedua kalian di Filipina,” ujar Yoona.

“Oh, ne. Kami baru saja mendonasikan hasil tour untuk membangun sekolah di Filipina,” kata Jonghyun.

PD: Bisakah menceritakan sedikit tentang CNBLUE school?

Jonghyun: Kami—CNBLUE—mendonasikan hasil dari world tour kami untuk membangun sekolah-sekolah di beberapa tempat. Sekolah yang pertama kami bangun di Burkina Faso, Afrika. Saat ini kami sedang dalam rencana pembangunan sekolah yang kedua di Filipina.

“Waah, kalian benar-benar melakukan banyak hal baik,” puji Yoona yang tampak kagum.

“Bukan hanya kami,” lanjut Jonghyun. “Fans kami juga banyak membantu mendonasikan untuk peralatan sekolah dan sebagainya.”

“Aku berharap aku juga punya kesempatan seperti itu,” gumam Yoona sambil merenung sesaat.

“Ah!”

Jonghyun kembali memasang ekspresi waspada mendengar suara Yoona yang mendadak kembali bersemangat. Kedua mata gadis itu terlihat berbinar.

“Bagaimana kalau kita merayakan 22nd day kita dengan kegiatan amal?” usul Yoona.

Ne? Mwo?” Jonghyun memandang Yoona dengan ekspresi aneh di wajahnya.

“Kita bisa melakukannya berdua. Kegiatan amal dalam rangka 22nd day, bukankah itu terdengar sangat bagus? Itu bukan hal yang sia-sia seperti yang kau takutkan,” papar Yoona.

Jonghyun terlihat berpikir namun sulit untuk menolak. “Aku sudah banyak melakukan hal baik,” ucapnya.

Ya! Jangan puas hanya dengan sudah pernah melakukan hal baik. Kau bisa melakukan banyak hal yang lebih baik lagi. Kebaikan harus dilakukan tanpa henti, tuan Lee,” balas Yoona.

“Tidak perlu menyumbangkan sesuatu dalam bentuk materi. Kita bisa menjadi pekerja sosial untuk sehari. Bukankah itu menyenangkan?” lanjut Yoona.

Jonghyun tidak membalas ucapan Yoona. Ia seolah kehilangan kata-katanya. Yang ia lakukan hanyalah menatap Yoona yang masih berbinar dan bersemangat dengan idenya.

“Kau tidak menjawab berarti kau setuju kan? Kau benar-benar orang yang baik,” kata Yoona akhirnya. Gadis itu kemudian tertawa penuh kemenangan.

“Di sekitarku benar-benar terlalu banyak orang baik,” gumam Jonghyun sambil menggelengkan kepalanya kemudian tertawa kecil.

PD: Tempat apa yang ingin dikunjungi untuk kegiatan sosial seperti itu?

Yoona: Mmm… Panti asuhan? Kurasa karena aku sangat menyukai anak kecil, jadi tempat itu segera terlintas di kepalaku.

“Memangnya apa yang akan kita lakukan?” tanya Jonghyun.

Kedua alis Yoona bertaut menandakan gadis itu sedang berpikir. “Bagaimana kalau ke panti asuhan?” usulnya.

“Panti asuhan?” Jonghyun mengangkat kedua alisnya. “Ya, kau bahkan belum mendapatkan ijin apapun, bagaimana mungkin kau mengusulkan panti asuhan? Memangnya mudah untuk masuk kesana?”

“Salah satu teman eonni-ku bekerja di panti asuhan. Bagaimana kalau kita bertanya padanya apakah kita bisa mampir kesana atau tidak?” ucap Yoona sambil mengeluarkan ponsel dan mulai menekan-nekan tombolnya.

“Baiklah, coba saja,” sahut Jonghyun sambil menghela napasnya.

.

Yoona dan Jonghyun turun dari mobil milik Jonghyun. Keduanya berjalan berdampingan menuju sebuah rumah besar. Seorang wanita sudah menunggu mereka di depan pintu utama.

MC2: Tempat apa yang mereka kunjungi?

Eonni, annyeonghaseyo!” Yoona menyapa wanita itu dan memeluknya sebagai bentuk salam.

“Yoona-ya, apa kabar?” sahut wanita itu sambil balas memeluk Yoona.

Eonni, ini Lee Jonghyun. Jonghyun-ah, kenalkan ini Hyejung eonni. Ia adalah teman kakakku,” ucap Yoona memperkenalkan Jonghyun dan Hyejung.

Annyeonghaseyo,” sapa Jonghyun sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.

Ne, annyeonghaseyo,” balas Hyejung. Ia kemudian menoleh ke arah Yoona dan berkata dengan nada menggoda, “Kita sudah lama tidak bertemu dan sekarang kau sudah menikah. Waktu benar-benar cepat berlalu.”

“Apa yang ingin kalian lakukan disini?” tanya Hyejung.

“Hari ini kami merayakan ‘two twoday dan aku berpikir untuk melakukan suatu kegiatan sosial. Eonni, kau tahu aku sangat menyukai anak kecil. Apakah ada yang bisa kami bantu disini?” jelas Yoona.

“Hmmm.” Hyejung nampak berpikir. “Kebanyakan anak-anak disini adalah bayi dan balita. Apakah kalian mau belajar untuk mengasuh mereka? Kebetulan ada beberapa staff yang cuti bersamaan saat ini”

Yoona menoleh ke arah Jonghyun yang juga menoleh padanya. Mereka saling menatap selama beberapa saat tanpa mengeluarkan suara. Yoona lalu mengangguk sambil tersenyum pada Hyejung.

“Baiklah, kalau begitu, ayo ikut,” ujar Hyejung.

“Oh ya, ngomong-ngomong, Jonghyun-ssi,” Hyejung memanggil Jonghyun dalam perjalanan mereka, “aku pernah bertemu denganmu tahun 2011 lalu, apakah kau ingat?”

Jonghyun menautkan kedua alisnya pertanda ia sedang berpikir namun tidak ada satupun ide yang terlintas di kepalanya. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum minta maaf.

“Saat itu kau dan membermu mengikuti kampanye adopsi yang di adakan oleh fotografer Cho Sei Hyun. Aku menjadi salah satu staf yang membawa anak-anak itu ke tempat pemotretan,” terang Hyejung.

“Ah.” Jonghyun mulai menganggukkan kepalanya walaupun masih tidak bisa mengingatnya.

“Apakah kau menyukai anak kecil, Jonghyun-ssi?” tanya Hyejung.

Ne. Aku memang menyukai anak kecil,” jawab Jonghyun.

Hyejung lalu membawa mereka ke sebuah kamar. Tepat ketika mereka berada di depan kamar itu, terdengar suara tangisan dari dalam. Hyejung segera masuk dan mencari sumber dari siapa tangisan itu berasal.

Aigo—“ Hyejung mengangkat seorang bayi yang nampaknya belum genap satu tahun dan menggendongnya. “Apa kau lapar? Tunggu sebentar—“

Yoona dan Jonghyun sama-sama menyapukan pandangan mereka keliling ruangan. Ada total lima bayi di kamar tersebut. Empat bayi lainnya nampak tidur dengan lelap seolah sama sekali tidak terganggu dengan suara tangisan teman mereka.

“Yoona-ya,” panggil Hyejung. “Bisakah kau menolongku untuk menggendongnya sebentar? Aku harus membuatkannya susu.”

Yoona mengangguk dan mengambil bayi itu dari gendongan Hyejung. Saat bayi itu sudah ada di gendongan Yoona, Jonghyun ikut mendekat untuk melihat bayi itu.

MC3: Omo! Mereka terlihat seperti sebuah keluarga.

MC2: Majayo. Mereka terlihat sangat cocok dengan gambaran seperti itu.

“Namanya Hye Soo.” Hyejung memberitahu mereka sambil membuat susu.

Eonni, dia cantik sekali,” ujar Yoona.

“Ia cantik kan? Aku benar-benar heran mengapa ada orangtua yang tega membuang anak secantik dia,” kata Hyejung.

“Ia benar-benar terlihat seperti malaikat kecil,” gumam Yoona.

PD: Bagaimana perasaanmu setelah melihat anak-anak disana?

Yoona: Aku merasa sangat sedih. Hatiku terasa sakit melihat mereka. Mereka masih begitu kecil dan tidak tahu apa-apa tapi mereka sudah tidak memiliki orangtua untuk melindungi mereka.

Yoona: Aku juga tumbuh tanpa seorang ibu. Kedua orangtuaku bercerai dan aku tidak pernah lagi bertemu dengan ibuku sejak aku masih kecil. Walaupun aku masih memiliki ayah, tetapi setiap kali memikirkan tentang ibu dan melihat teman-temanku bersama ibu mereka, aku akan merasa sedih. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana mereka yang tidak memiliki ayah dan ibu. Aku merasa ingin menangis membayangkannya (tertawa).

MC4: Yoona pasti merasa sangat sedih melihat anak-anak disana. Ia teringat akan masa kecilnya tanpa sosok ibu disampingnya.

MC2: Tentu saja. Pastinya berat sekali, terutama bagi anak perempuan untuk tumbuh tanpa ibunya.

Setelah Hyejung memeberikan susu untuk Hye Soo, beberapa anak lainnya bangun dan menangis karena lapar. Maka sementara Hyejung membuatkan susu untuk mereka semua, Yoona dan Jonghyun menggendong dan menenangkan mereka. Sesekali Yoona akan melirik Jonghyun yang terlihat santai saat menggendong dan tidak kaku seperti kebanyakan laki-laki yang dikenalnya.

Yoona: Aku sama sekali tidak menyangka. Ia sama sekali tidak terlihat kaku dan seperti sudah biasa melakukannya. Kurasa ia bisa menjadi ayah yang baik (tertawa).

Jonghyun: Aku menyukai bayi dan anak kecil. Aku suka menggendong mereka. Di antara member CNBLUE, mungkin akulah yang paling tidak kaku jika harus mengurus anak kecil.

Hyejung kemudian membawa Yoona dan Jonghyun keluar untuk bertemu dengan anak-anak lainnya. Beberapa anak yang sudah lebih besar mengenali Yoona dan Jonghyun. Mereka langsung bergerak mendekat dan membentuk kerumunan kecil mengelilingi Yoona dan Jonghyun.

Yoona mengajak mereka bermain sementara Jonghyun mengambil gitarnya. Ketika Jonghyun kembali, mereka semua duduk membentuk lingkaran dan bernyanyi bersama. Semua anak tampak gembira dan bernyanyi dengan riang.

PD: Apa saja yang kalian lakukan untuk merayakan ‘two twoday kalian?

Yoona: Kami mengunjungi sebuah panti asuhan dan bermain dengan anak-anak disana. Kurasa ini adalah pengalaman yang menarik. Aku dan Jonghyun sama-sama belajar banyak tentang mengurus anak—dan aku juga bisa melihat sisi lain dari Jonghyun ketika berhadapan dengan anak kecil. Itu sangat menarik bagiku.

Jonghyun: Sudah kukatakan aku tidak bisa menolak keinginannya (tertawa sambil menghela napas). Kami pergi ke panti asuhan dan membantu disana. Aku merasa senang melihat anak-anak disana dan bisa bermain dengan mereka. Ketika kami bernyanyi bersama, mereka terlihat sangat gembira dan itu melihat itu membuatku seolah lupa akan masalah-masalah yang kualami. Joahaeyo. Aku sangat menyukainya.

TO BE CONTINUED

PREVIEW EPISODE 4 – THEIR FIRST HOUSE

Pagi itu, Jonghyun dan Yoona kembali bertemu di sebuah rumah makan. Seperti sebelumnya, mereka sarapan bersama sebelum memulai kegiatan mereka untuk hari itu. Setelah selesai makan, mereka berdua pergi bersama dengan menggunakan mobil Jonghyun.

Yoona: (tersenyum penuh arti) Hari ini kami akan melihat rumah baru kami.

Yoona: Aku sangat bersemangat untuk melihat seperti apa rumah kami nantinya. Aku juga memikirkan bagaimana kita akan mendekorasi rumah kita dan apa saja yang harus dibeli. Memikirkannya saja membuatku merasa senang.

Jonghyun: Aku tidak pernah memikirkan hidup selain bersama dengan memberku. Tapi untuk kali ini, aku merasa bersemangat sekali. Menempati rumah bersama setelah menikah, seperti inikah rasanya?

Sesampainya di rumah baru mereka, Yoona dan Jonghyun mengecek setiap ruangan yang ada. Mereka juga mendiskusikan apa saja yang mereka butuhkan dan bagaimana mereka akan mendekorasi setiap ruangan.

Persoalan muncul ketika mereka tiba di bagian dapur. Tidak ada satupun di antara mereka yang dapat dikatakan baik dalam hal memasak.

Yoona: Aku suka memasak, tapi setiap kali aku masuk dapur di dorm-ku, aku tidak tahu apa yang kulakukan disana.

Jonghyun: Kurasa aku hanya suka makan.

.

Please leave your comment

Advertisements

17 thoughts on “We Got Married: Episode 3 (22nd Day)

  1. Hahahaha pasti lucu dech di ep selanjutnya krn mrk sama2 suka makan, tapi sama2 ga bisa masak wkwkwk… kira2 masakan apa ya nanti yg akan mrk masak? Jd penasaran… ditunggu lanjutannya thor sabtu depan…

  2. Episode2 selanjutnya pasti makin seru neh, gimana dua org yg punya banyak kesamaan ini melakukan hari2 mereka. Ditunggu nextnya yah thor.

  3. Akh pasti jd kluarga yg bahagia, ank mreka pasti lucu2 😀
    Seandainya merka ikut WGM bneran pasti seru bgt 😀
    Next pasrt ttg rmh baru ya? Hmnn akn kaya gmna nanti mreka di rmh baru? Pasti seru 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s