Separation

bcofhyukstalseparation

Title: Separation

Author: Felicia Rena

Rating: PG 13+

Genre: Romance, Hurt

Main Cast: Krystal Jung, Kang Minhyuk

Disclaimer: I do not own anything except storyline. This story is pure fiction. All casts belongs to God.

Poster by Felicia Rena

Author’s Note: Akhirnya aku bikin FF Krystal-Minhyuk lagi, karna banyak yang minta supaya aku bikin FF tentang mereka lagi. Ide FF ini terlintas waktu lagi dengerin sambil baca translate-an lagu S.M. The Ballad “Breath”, jadi bagian awal FF ini terinspirasi dari lagu itu, tetapi ide dan jalannya cerita murni pemikiranku. Oya, di FF ini bakal ada timeline yang lompat-lompat, jadi perhatikan setting waktunya ya. Hehe. Well, semoga FF ini bisa menghibur semua Krystal-Minhyuk shipper 😀

Hope you’ll enjoy this fanfic ^^

NO PLAGIAT, Please…:)

.

.

.

January 14, 2014 – S Figueroa St, Los Angeles

Yeoboseyo?”

Krystal mematung saat mendengarkan suara seorang laki-laki menjawab panggilan teleponnya. Ia menutup kedua matanya. Suara laki-laki di seberang telepon itu masih sama seperti yang diingatnya, dan yang terus terngiang di telinganya.

Yeoboseyo?” Suara laki-laki itu kembali terdengar.

Tanpa terasa, airmata Krystal perlahan jatuh membasahi wajah gadis cantik itu. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang dan begitu menyesakkan.

Yeoboseyo?” ulang lelaki itu.

KLIK

Krystal memutuskan sambungan teleponnya tanpa berkata apa-apa. Tubuhnya mulai merosot ke lantai. Ia menelungkupkan wajahnya di antara lututnya dan menangis tanpa suara.

‘Apa kabar?’, ‘Bagaimana keadaan disana?’, ‘Sudah lama tidak bertemu.’, ‘Maaf baru sekarang aku menghubungimu.’

Entah mengapa kata-kata sederhana seperti itu tidak bisa terucap dari mulut Krystal. Ini bukan yang pertama kalinya. Berkali-kali ia mencoba, namun tetap tidak ada yang bisa ia katakan. Pada akhirnya selalu hanya airmata yang mengalir turun setiap kali laki-laki itu menjawab panggilan teleponnya. Dan entah apa juga yang membuat Krystal akhirnya selalu kembali menekan nomor laki-laki itu.

Krystal mengangkat kepalanya dan menyandarkan punggungnya ke dinding. Matanya terlihat merah dan bengkak karena hari-hari belakangan ini ia habiskan dengan menangis. Kepalanya terasa pening karena terlalu banyak menangis.

Ia tidak pernah merasa serapuh ini. Selama bertahun-tahun, ia selalu berhasil mengatasi rasa rindu yang membuncah dalam dirinya. Ia tidak pernah merasa selemah ini. Mungkin inilah puncaknya, ketika perasaan yang selalu ia timbun sudah waktunya untuk meluap keluar. Ia tidak tahan lagi. Rasa rindu dalam dirinya begitu menyesakkan sampai ia merasa dadanya bisa meledak kapan saja. Ia begitu merindukan laki-laki itu. Laki-laki yang selama lima tahun ini tidak pernah meninggalkan hatinya. Ia sangat merindukan Kang Minhyuk.

.

January 14, 2014 – Cheongdamdong, Seoul

Minhyuk menurunkan ponsel dari telinganya. Kerutan kecil muncul di antara kedua alisnya. Ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan telepon tanpa suara. Ia memang pernah beberapa kali mendapatkan telepon tanpa suara itu, tetapi akhir-akhir ini intensitasnya semakin sering.

Ia berpikir keras. Siapakah kira-kira yang meneleponnya kemudian memutuskan sambungan tanpa berkata apa-apa. Apakah salah satu fans-nya? Tidak. Ia yakin kalau nomornya itu tidak akan tersebar karena ia benar-benar menggunkannya untuk urusan pribadi dan hanya sedikit sekali yang mengetahui nomor itu.

Ya, hanya sedikit yang mengetahui nomor itu. Bahkan manager dan membernya pun tidak mengetahui nomor itu. Hanya keluarganya serta satu atau dua teman dekatnya, dan—

“Soo Jung!” Kedua mata Minhyuk melebar ketika ia mengingat nama itu.

Ia segera meraih ponselnya dan membuka daftar panggilan masuk. Ia berniat untuk menelepon balik siapapun yang meneleponnya tadi. Sayangnya, ketika Minhyuk melihat di daftar panggilannya, rupanya orang yang meneleponnya tadi menggunakan private number.

Minhyuk kembali meletakkan ponselnya dan mengerang frustasi. Kenapa baru sekarang nama gadis itu terlintas di otaknya? Padahal selama lima tahun ini ia tidak pernah berhenti memikirkan gadis itu dan terus berharap kalau gadis itu akan menghubunginya suatu hari nanti.

Jung Soo Jung—atau lebih dikenal dengan nama Krystal di negara tempat gadis itu tinggal sekarang—adalah satu-satunya hal yang disesali oleh Minhyuk sejak ia kembali ke Korea. Ia tidak pernah berhenti menyesali keputusannya meninggalkan gadis itu. Sekalipun sekarang ia sudah berhasil meraih impiannya—yang menjadi alasannya meninggalkan gadis itu—tetapi bayangan Krystal tidak pernah lepas dari dirinya.

Sampai saat ini, Minhyuk masih mengingat dengan jelas pertemuan terakhir mereka, yang juga menjadi akhir dari hubungan yang sudah mereka jalin selama dua tahun terakhir. Krystal tersenyum padanya, namun kedua mata gadis itu tidak bisa berbohong. Minhyuk tidak pernah bisa melupakan sorot mata Krystal yang dipenuhi kesedihan itu. Ia begitu menyukai tawa Krystal yang nyaring, jadi ia benci melihat Krystal sedih atau menangis. Terlebih lagi jika alasan dibalik itu adalah dirinya.

Minhyuk menghela napasnya. Memikirkan gadis itu membuatnya merasa hampir gila. Ia sangat merindukan Krystal. Tidak pernah sedetikpun selama lima tahun ini ia lewatkan tanpa merindukan seorang Krystal Jung.

.

December 28, 2008 – Los Angeles

“Aku akan kembali ke Korea.”

Krystal mengangkat kepalanya kaget mendengar ucapan laki-laki itu. Ia menatap laki-laki di hadapannya dengan tidak percaya.

“Apa maksudmu?” tanya Krystal cepat. “Kau bercanda kan?”

Kang Minhyuk menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bercanda, Soo Jung-ah.”

Krystal melengos mendengar Minhyuk memanggilnya dengan nama Korea-nya. Disini tidak ada yang memanggilnya nama itu kecuali Minhyuk.

“Aku pernah mengatakan padamu kalau aku ingin menjadi seorang drummer kan? Aku mendapatkan tawaran audisi untuk menjadi trainee sebuah agensi di Korea,” jelas Minhyuk.

“Kenapa harus di Korea? Kalau kau ingin menjadi seorang drummer, kau bisa melakukannya disini!” seru Krystal.

 “Orangtuaku juga akan ikut pindah. Ayahku kembali ditugaskan di Korea,” ucap Minhyuk dengan tatapan menerawang.

Ayah Minhyuk adalah seorang diplomat. Keluarga mereka pindah ke Amerika ketika Minhyuk akan memasuki bangku SMA karena pekerjaan ayahnya itu.

Minhyuk yang pada dasarnya adalah anak yang pendiam, kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Apalagi saat itu bahasa Inggris Minhyuk belum terlalu bagus. Walaupun pekerjaan ayahnya adalah seorang diplomat, tetapi Minhyuk tidak suka belajar bahasa asing. Saat itulah Krystal datang padanya dan menyapanya dengan ramah.

Krystal yang bisa berbahasa Inggris dengan lancar karena sudah tinggal di Amerika sejak kecil itu banyak membantu Minhyuk untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya. Krystal juga adalah satu-satunya siswa keturunan Korea selain Minhyuk di sekolah mereka. Karena persamaan itulah mereka berdua kemudian menjadi dekat dan akhirnya saling jatuh cinta.

“Kapan—“ Krystal bertanya dengan suara tersendat.

“Setelah kelulusan,” jawab Minhyuk sambil mendesah. “Kami mungkin akan tinggal selama beberapa hari setelah kelulusan untuk mengurus beberapa hal, tetapi sudah dipastikan kami akan pergi setelah kelulusanku.”

“Aku—aku tidak ingin berpisah denganmu, Minhyuk-ah,” lanjut Krystal dengan suara lirih. Airmata mulai menggenangi pelupuk matanya.

Minhyuk menatap Krystal sedih. Ia juga tidak ingin meninggalkan Krystal, tetapi keadaan memaksanya untuk pergi. Selain karena tawaran itu, tentu saja karena orangtuanya tidak mungkin meninggalkannya sendirian di negara asing. Minhyuk adalah anak tunggal di keluarganya. Orangtuanya, terutama ibunya, jelas tidak ingin tinggal berjauhan dengan satu-satunya anak yang mereka miliki.

“Kita masih bisa tetap berhubungan,” ucap Minhyuk pelan. Ia menyentuh tangan Krystal dan menggenggamnya erat. “Aku tidak ingin putus denganmu.”

Krystal menatap Minhyuk dengan kedua matanya yang masih memerah. “Apakah itu mungkin?” tanyanya.

“Tentu saja,” sahut Minhyuk menenangkan. Tangannya bergerak untuk mengusap pipi Krystal yang sudah basah karena airmata. “Uljima. Jangan menangis lagi, kumohon. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau kau tidak berhenti menangis karena aku.”

“Aku tidak ingin berpisah denganmu,” bisik Krystal pelan, mengulangi kata-kata yang tadi sudah diucapkannya.

“Aku tahu,” balas Minhyuk sambil tersenyum lembut. “Aku juga tidak ingin berpisah denganmu. Maafkan aku.”

Krystal bergerak memeluk Minhyuk. Tangannya mencengkeram bagian belakang seragam Minhyuk erat-erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Minhyuk melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Krystal dan balas memeluknya. Ia menepuk pelan punggung gadis itu, berharap bisa memberikan ketenangan untuknya. Ia bisa merasakan keresahan Krystal saat ini. Itu juga yang sekarang sedang dirasakannya.

“Aku mencintaimu,” ucap Krystal dengan suara nyaris menyerupai bisikan.

“Aku juga. Nado saranghaeyo,” sahut Minhyuk.

.

February 02, 2009 – Los Angeles

Minhyuk menutup kedua matanya, mencoba untuk menerima keputusan yang telah di ambil oleh gadis yang sekarang berada di hadapannya. Kegelisahan dan ketakutan yang dirasakannya selama beberapa minggu menjelang kepergiannya ini akhirnya terbukti. Krystal memilih untuk mengakhiri hubungan mereka.

“Kita tidak harus mengakhiri semuanya, Soo Jung-ah,” desah Minhyuk yang belum membuka matanya.

Mianhae. Maafkan aku, Minhyuk-ah. Aku—aku tidak bisa menjalaninya,” ujar Krystal dengan kepala tertunduk. “Aku tidak sanggup menjalani hubungan jarak jauh ini.”

“Aku sudah mencari semua informasi yang bisa kudapatkan,” lanjut Krystal. “Menjadi seorang trainee membutuhkan konsenterasi dan tentunya menyita waktu dan perhatianmu. Aku—aku tidak ingin mengganggumu.”

“Apa yang kau katakan?” Minhyuk mulai merasa gusar. “Bagaimana mungkin kau bisa berpikir kalau kau akan menggangguku? Aku membutuhkanmu, Soo Jung-ah.”

Krystal meraih jemari Minhyuk dan menelusupkan jemarinya sendiri di sela-sela jari laki-laki itu.

“Aku selalu ada untukmu,”  bisiknya. “Aku akan selalu mendukungmu, kau tahu itu.”

“Aku hanya—maaf—aku benar-benar tidak bisa menjalaninya, Minhyuk-ah. Ini terlalu berat untukku,” lanjut Krystal.

Araseo,” kata Minhyuk akhirnya. “Aku mengerti. Aku akan menerima keputusanmu ini.”

“Tapi ingatlah satu hal,” sambungnya. Ia menatap Krystal dalam-dalam. “Suatu saat nanti, setelah aku berhasil meraih mimpiku, aku akan kembali kesini. Dan saat itu, jika perasaan kita belum berubah, maukah kau mempertimbangkan untuk kembali padaku? Saat itu, tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita.”

Krystal balas menatap Minhyuk dengan tatapannya yang sendu. Perlahan seulas senyum terukir di bibirnya.

“Aku akan menunggu datangnya saat itu,” jawabnya.

Minhyuk mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Krystal. Gadis itu menerimanya dengan bingung.

“Itu nomor ponselku di Korea. Aku membelinya saat pergi ke Korea minggu lalu,” jelas Minhyuk menjawab tanda tanya yang diberikan Krystal padanya.

“Berjanjilah kau akan menghubungiku,” ujar Minhyuk.

Krystal hanya tersenyum sambil memasukkan kertas itu ke dalam tasnya. Ia tidak menjanjikan apapun pada Minhyuk.

.

January 18, 2014 – Cheongdamdong, Seoul

Krystal tidak pernah menghubunginya. Setiap hari, setiap waktu, Minhyuk selalu menunggu telepon dari gadis itu. Ia sudah mencoba menghubungi Krystal, tetapi nomornya tidak pernah aktif. Minhyuk tidak pernah tahu nomor kontaknya dan ia tidak pernah tahu lagi bagaimana caranya menghubungi Krystal. Mereka kehilangan kontak sejak Minhyuk melangkahkan kakinya memasuki pesawat yang membawanya ke Korea.

Dering ponsel membuat Minhyuk tersentak. Ia menoleh mencari sumber suara dan memastikan ponsel mana yang mendapatkan panggilan.

Private number.

Tanpa menunggu lagi, Minhyuk langsung menekan tombol jawab dan menempelkan ponsel itu di telinganya.

Yeoboseyo!” jawab Minhyuk.

Lagi. Seperti sebelum-sebelumnya, tidak ada jawaban di seberang sana. Namun kali ini, Minhyuk semakin yakin kalau Krystal-lah yang berada di balik telepon itu.

“Soo Jung-ah,” panggil Minhyuk pelan. “Soo Jung-ah, ini kau kan?”

.

January 18, 2014 – S Figueroa St, Los Angeles

Krystal kembali menatap ponselnya. Jemarinya mulai bergerak dan melakukan panggilan pada nomor di seberang benua sana. Ia menempelkan ponsel itu ditelinganya, menunggu seseorang menjawab panggilannya.

Yeoboseyo!” Suara itu kembali terdengar.

Krystal menutup matanya mendengar suara itu. Hatinya terasa tenang setiap kali mendengar suara itu. Mendengar desahan napas yang keluar dari laki-laki itu. Walaupun ia harus membayarnya dengan rasa rindu yang semakin membuatnya sulit untuk bernapas.

“Soo Jung-ah.” Krystal membuka kedua matanya lebar-lebar mendengar laki-laki itu memanggil namanya.

“Soo Jung-ah, ini kau kan?”

Krystal menutup mulutnya, mencegah supaya suara tangisnya yang kembali pecah tidak terdengar sampai seberang sana.

“Lama tidak bertemu,” lanjut Minhyuk di telepon. Laki-laki itu sepertinya tidak peduli apakah Krystal akan menyahutnya atau tidak. Dan nampaknya ia memang begitu yakin jika Krystal-lah yang sedang meneleponnya saat ini.

Minhyuk berusaha menjaga supaya suaranya terdengar biasa, namun Krystal mengetahui perbedaan suara Minhyuk yang sedikit bergetar saat ini.

Krystal masih tetap pada posisinya, tidak bergerak sedikitpun. Ia sama sekali tidak menyangka jika Minhyuk bisa menebak bahwa dirinyalah yang menelepon. Padahal sebelumnya Minhyuk tidak pernah berkata apa-apa

Selama beberapa saat, mereka hanya terdiam. Tidak ada lagi yang bersuara. Mungkin Minhyuk menunggu Krystal untuk berbicara, tetapi gadis keturunan Korea itu tetap diam. Hanya suara desahan napas mereka yang terdengar.

Krystal ingin sekali menutup teleponnya seperti sebelumnya, tetapi sesuatu menahannya kali ini. Ia tidak bisa menutupnya begitu saja. Berkali-kali juga ia membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

“Soo Jung-ah.” Minhyuk kembali memanggil Krystal. “Aku akan segera menemuimu. Maukah kau menungguku?”

Krystal menggigit bibirnya. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang dimaksud oleh laki-laki itu? Menemuinya? Apakah itu artinya—

“Kuharap kau masih mau bertemu denganku. Aku berjanji, tidak akan lama lagi. Maaf karena aku sudah membuatmu menunggu lama,” lanjut Minhyuk.

“Aku harus pergi sekarang. Gomawo, aku senang sekali bisa berbicara denganmu.” Minhyuk terdiam sesaat sebelum menambahkan, “Bogoshipeoseo. Aku merindukanmu.”

Krystal memegangi dadanya ketika sambungan telepon terputus. Berbeda dengan biasanya, kali ini bukan rasa sesak yang menyakitkan yang memenuhi rongga dadanya. Bahagia. Mendengar Minhyuk berbicara padanya seperti itu membuatnya merasa sangat bahagia.

Lima tahun berlalu, namun perasaannya pada Minhyuk tidak pernah pudar. Lima tahun mereka tidak pernah bertemu, namun rasanya cinta yang dimiliki Krystal justru semakin kuat. Apakah kali ini Minhyuk benar-benar akan menemuinya?

.

January 23, 2014 – Los Angeles

Krystal tersenyum menatap poster besar yang terpasang di salah satu jalanan kota Los Angeles. Poster itu menampilkan foto empat orang laki-laki berwajah Asia yang menamai diri mereka sebagai CNBLUE. Besok malam, band asal Korea Selatan itu akan menggelar konser mereka di Los Angeles untuk pertama kalinya.

“Kau benar-benar kembali, Minhyuk-ah?” gumam Krystal. Tatapannya tidak lepas dari foto seorang laki-laki yang merupakan member dari band tersebut.

Dengan senyum yang masih mengembang, Krystal berjalan memasuki sebuah kafe yang sudah menjadi langganannya sejak masih SMP dulu. Kafe itu juga menjadi salah satu tempat kenangannya bersama Minhyuk.

One Americano, please.” Krystal menyebutkan pesanannya. Ia kemudian membawa pesanannya dan memilih tempat duduk di pojok dekat jendela.

Krystal menyesap Americano-nya. Sesekali ia akan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kafe yang tidak terlalu besar itu. Kadang ia juga akan menatap lama-lama bangku kosong di hadapannya. Ditempat itulah Minhyuk biasanya duduk bersamanya.

Krystal memalingkan wajahnya melihat ke jalanan diluar. Ia kembali membayangkan ketika dirinya dan Minhyuk masih bersama menyusuri jalanan diluar sana. Senyum kembali terukir di wajah cantik gadis bermarga Jung itu. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mengenang masa-masa itu dengan senyum seperti ini.

Krystal baru akan kembali menghadapi Americano-nya ketika matanya menangkap sosok seorang laki-laki melintas tepat diluar jendelanya. Krystal tertegun menatap punggung laki-laki diluar itu. Jantungnya tiba-tiba berdebar dengan sangat kencang. Laki-laki itu memunggunginya dan Krystal tidak merasa mengenal seseorang yang berpotongan seperti itu. Tetapi mengapa rasanya Krystal begitu mengenal laki-laki itu?

Laki-laki diluar itu menolehkan kepalanya menatap jalan raya, tampak sedikit ragu saat melangkahkan kakinya dua kali kemudian berlari meyeberang. Seketika itu juga Krystal berdiri dari tempat duduknya. Ia mungkin tidak mengenali potongan laki-laki itu, tetapi ia tidak pernah melupakan cara laki-laki itu berjalan dan berlari.

Dengan cepat Krystal berlari keluar kafe dan mengikuti jejak laki-laki itu. Ia tidak mempedulikan tatapan heran orang-orang karena berlari dengan masih menggunakan heels. Ia juga tidak menoleh ketika menabrak beberapa pejalan kaki. Yang ada dalam pikirannya hanyalah menemukan laki-laki itu.

Krystal berlari ke segala tempat yang bisa dijangkaunya, yang mungkin dikunjungi oleh laki-laki itu. Sayang hasilnya nihil. Ia tidak menemukan laki-laki itu dimanapun. Krystal mendesah kesal. Ia mulai menyerah dan memutuskan untuk kembali saja ke apartemennya.

Jarak apartemennya tidak jauh lagi dari tempat ia berada sekarang, maka ia memutuskan untuk melanjutkan dengan berjalan kaki saja. Krystal bahkan tidak tahu sudah sejauh mana ia berlari tadi, tetapi jika melihat jarak kafe itu dengan apartemennya, maka ia berlari sudah cukup jauh untuk memenangkan medali olimpiade.

Hari mulai gelap saat Krystal berjalan pulang. Lampu-lampu di sepanjang jalan sudah dinyalakan, termasuk lampu di depan gedung apartemen Krystal yang sudah terlihat di depan sana.

Krystal tidak memperhatikan sekelilingnya. Ia berjalan lunglai dengan kepala tertunduk. Ia sudah melepas heels-nya yang kini bertengger di tangannya.

“Jung Soo Jung.”

Krystal berhenti berjalan ketika mendengar suara itu. Suara yang sama dengan yang beberapa hari lalu didengarnya melalui telepon. Suara yang sama yang selalu terngiang di benaknya selama lima tahun ini. Suara yang sama yang dulu selalu memanggilnya seperti itu. Tidak berubah sedikitpun. Krystal masih mengingatnya dengan jelas.

Krystal mengangkat kepalanya. Di depan gedung apartemennya, Minhyuk berdiri menatapnya. Laki-laki itu terlihat jauh lebih dewasa dari terakhir kali mereka bertemu. Ketika Minhyuk berjalan mendekatinya, Krystal menyadari kalau Minhyuk juga bertambah tinggi.

“Minhyuk-ah.”

Minhyuk tersenyum mendengar Krystal memanggil namanya. Ia berhenti tepat di depan gadis itu dan menatapnya lembut, tetapi kemudian ekspresi wajahnya berubah kesal.

“Aku sudah mencarimu kemana-mana. Aku pergi ke rumahmu, tetapi ternyata kau sudah pindah. Bagaimana mungkin kau tidak memberitahuku soal itu? Kenapa kau tidak memberiku kabar sama sekali, padahal aku sudah berkata aku akan kembali kesini? Apa kau tahu kalau aku sudah mencarimu kemana-mana? Aku mendatangi semua tempat yang dulu sering kita datangi berdua tetapi kau tidak ada dimanapun. Kau ini sebenarnya kemana?” cecar Minhyuk.

Krystal mengerjapkan kedua matanya mendengar omelan panjang lebar dari Minhyuk. Laki-laki itu bicara dengan cepat dan tanpa jeda. Krystal sampai harus fokus untuk mendengar dan mencerna setiap ucapannya.

“Kenapa—“ Krystal kembali bersuara. “Lalu kenapa kau bisa ada disini?”

Tatapan Minhyuk kembali melembut. “Amber,” jawabnya.

Amber adalah sahabat Krystal sejak masih kecil. Sama seperti Krystal, Amber juga merupakan keturunan Asia yang lahir dan tinggal di Amerika. Hanya saja Amber berasal dari Taiwan.

“Apa kau tahu perjuanganku untuk mendapatkan alamat ini dari Amber? Saat pertama melihatku, ia langsung menyerangku dan meneriakiku. Ia memarahiku habis-habisan, kau tahu? Aku sampai harus memohon-mohon dan meyakinkannya untuk mendapatkan alamatmu ini. Akhirnya ia mau memberikanku alamatmu tetapi tidak mau memberitahukan nomor apartemenmu, jadi aku menunggumu disini,” jelas Minhyuk.

Krystal tercengang mendengarkan penjelasan dari Minhyuk. Ia masih tidak percaya kalau Minhyuk kini berdiri di hadapannya.

“Soo Jung-ah?”

Krystal tersentak kaget ketika Minhyuk menggerakkan tangannya di depan wajahnya sambil memanggil namanya. Laki-laki itu terlihat heran dengan sikapnya yang seperti orang bingung.

“Kau—apa kau baik-baik saja?” tanya Minhyuk dengan nada khawatir.

Ne. Aku baik-baik saja,” jawab Krystal. “Aku—aku hanya masih tidak percaya kalau kau sekarang berdiri di depanku.”

Minhyuk tersenyum geli mendengar penuturan Krystal. Ia mengangkat tangannya dan mengacak-acak rambut gadis itu.

Aigo! Ini benar-benar aku. Kang Minhyuk. Apa kau masih tidak percaya?” ujar Minhyuk.

Krystal menatap Minhyuk cukup lama, kemudian sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Minhyuk benar-benar berdiri di hadapannya. Minhyuk sudah kembali. Rasanya ingin sekali Krystal melompat memeluk laki-laki itu.

“Hei,” panggil Minhyuk. “Apa kau masih ingat janji kita dulu?”

Krystal mengerutkan keningnya. “Janji apa?” tanyanya.

“Kau melupakannya?” Minhyuk menatap Krystal tidak percaya. “Kau berjanji untuk kembali padaku saat aku kembali kesini.”

Ya! Aku tidak pernah berjanji seperti itu!” sahut Krystal. “Waktu itu kan kau bilang kalau perasaan kita belum berubah. Aku tidak pernah berjanji untuk kembali padamu.”

“Sama saja. Aku yakin perasaanmu padaku belum berubah,” timpal Minhyuk penuh percaya diri.

Aigo! Kau ini percaya diri sekali? Bagaimana kau bisa tahu kalau perasaanku belum berubah padamu?” tanya Krystal.

“Karena perasaanku padamu belum berubah,” sahut Minhyuk cepat.

Krystal terdiam mendengar jawaban Minhyuk. Laki-laki itu menatapnya dalam-dalam, sama seperti ketika ia mengatakan hal yang sama lima tahun yang lalu. Krystal menatap wajah serius itu tanpa bergerak.

“Jadi—“ Minhyuk meraih tangan Krystal dan menggenggamnya, memberikan kehangatan yang segera menjalar ke seluruh tubuh Krystal. “Apakah kau akan kembali padaku?”

Krystal menggertakkan giginya kesal. Ia melepaskan tangan Minhyuk yang menggenggam tangannya, kemudian mulai memukuli laki-laki itu.

Ya! Sakit! Appo! Apa yang kau lakukan?” jerit Minhyuk yang berusaha menghindari kepalan tangan Krystal yang mengincar tubuhnya.

“Kau! Namja pabo! Aku sudah menunggumu selama lima tahun! Apa kau tidak tahu betapa tersiksanya aku selama lima tahun ini? Beraninya kau masih bertanya seperti itu? Apa kau benar-benar bodoh, hah?” seru Krystal nyaring.

Beberapa orang yang lewat menoleh ke arah Minhyuk dan Krystal, namun tidak bisa menangkap apa yang mereka pertengkarkan karena mereka menggunakan bahasa Korea.

Minhyuk akhirnya berhasil menangkap pergelangan tangan Krystal, menghentikan usaha gadis itu untuk mendaratkan pukulannya ke bagian tubuh Minhyuk manapun yang bisa dicapainya. Krystal mendongak dan menatap Minhyuk kesal, tetapi kemudian tatapan itu melembut.

Bogoshipeoseo,” bisik Krystal.

Minhyuk menarik Krystal kedalam pelukannya. “Nado bogoshipeoseo. Neomu neomu bogoshipeoseo. Aku sangat merindukanmu, kau tahu?”

“Kau adalah satu-satunya yang aku sesali dari keputusanku untuk kembali ke Korea. Aku tidak pernah berhenti menyesal berpisah darimu,” ujar Minhyuk. “Tetapi kau juga yang membuatku bertahan untuk meraih mimpiku disana. Karena aku tidak ingin kembali padamu dengan tangan kosong dan membuat perpisahan kita menjadi sia-sia. Jika aku gagal, bagaimana aku akan menghadapimu nanti?”

Krystal tersenyum kecil mendengar cerita Minhyuk. Ia mengeratkan pelukannya pada laki-laki itu, menghirup aroma yang tidak berubah sejak pertama kali ia menghirupnya.

“Kita tidak akan berpisah lagi. Aku berjanji. Walaupun aku masih harus kembali ke Korea, tetapi aku tidak mau lagi berpisah darimu. Jangan pernah mengatakan kalau kau ingin berpisah lagi dariku, eoh! Araseo?” ucap Minhyuk setengah mengancam.

Krystal terkikik geli. Minhyuk-nya sudah kembali sesuai janjinya, dan ia tidak akan pernah melepaskannya lagi.

“Tidak akan, Minhyuk-ah. Aku tidak akan melepaskanmu lagi, apalagi kau sekarang sudah menjadi seorang artis terkenal. Bagaimana mungkin aku begitu bodoh untuk melepaskanmu yang tergila-gila padaku?” gurau Krystal.

Ya!”

The End

Please leave your comment

Advertisements

14 thoughts on “Separation

  1. Hahhahaha. .
    Ku kira bakal ada adegan nangis”lgi. .
    Biar mendramatisir.hahhaha
    Aigoo hyukstal itu emng cute bgt. .
    Ayo buat hyukstal lgi

  2. kereeeeeennnn happy ending pulaaaa
    kyaaaaaa uri hyukstal sweet bgt
    makasiii thor udh buat cerita ttg mereka.
    suka bgttttt.

    keep writing ditunggu karya selanjutnya

  3. Nice Fanfiction,apalagi Uri couple hyukstal..
    Bikin lg fanfic tentang mereka thor!gomawo!
    Dan semangat utk tetap menulis,Fighting!!!

  4. thor sumpahh aku nangis baca ff ini 😀
    lebay banget yahh,
    ff ini daeebbakkk banget thor 😀
    keren banget sumpah :v
    bikin lagi dong thor hyukstal, kangen mereka soalnya 😀
    keep writing thor ^^

  5. sebelumnya perkenalan dulu. annyeong author-nim & readers-deul, naneun dwi imnida. bangapseumnida… 😀 awal2-nya sad tapi akhirnya romantic, daebak!! penantian 5 tahun yg gk sia-sia… ditunggu karya lainnya ^^ oh ya, ijin baca ff2-nya ne *bow 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s