(Heirs Fiction) The Story of Lee Bo Na and Yoon Chan Young: Before Story

storyofbonachanyoung

Title:

The Story of Lee Bo Na and Yoon Chan Young

[Teaser]

Author: Felicia Rena

Rating: PG 13+

Genre:

School life, friendship, romance, drama

Main Cast:

Krystal Jung as Lee Bo Na

Kang Minhyuk as Yoon Chan Young

Other Cast:

Jeon Soo Jin as Kang Ye Sol

Park Hyung Sik as Jo Myung Soo

Disclaimer:

The Heirs, Lee Bo Na, and Yoon Chan Young belongs to Kim Eun Sook. I do not own anything.

Author’s Note:

Maafkan untuk update yang lama. Aku sempet ragu mau posting ini atau enggak walaupun ceritanya udah jadi sejak beberapa hari yang lalu. Hope you’ll enjoy this fanfic dan semoga bisa mengobati rasa kangen kalian pada ChanBona couple! ^^

.

.

.

Jarum jam sudah menunjukkan waktu masuk sekolah. Bel sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Kini para siswa terlihat berlalu-lalang, bergegas memasuki ruang kelas masing-masing.

Lee Bo Na melangkahkan kakinya gontai. Sesekali ia menghentakkan kakinya kesal ketika ia megingat laki-laki itu. Laki-laki yang sudah mematahkan hatinya menjadi berkeping-keping. Laki-laki menyebalkan yang meninggalkannya kemudian bertunangan dengan gadis lain. Dan sekarang justru menghilang ke Amerika. Merasa mood-nya benar-benar jelek, Bo Na mengumpat pelan dalam bahasa Inggris.

“Berhentilah mengumpat dan cepat masuk kelas!”

Bo Na sudah sampai di depan kelasnya, tetapi alih-alih berjalan masuk, ia justru menoleh kesal untuk melihat siapa yang berani memerintahnya seperti itu. Seorang laki-laki berdiri dengan wajah tanpa dosa menatapnya.

Ya! Yoon Chan Young! Urus saja urusanmu sendiri!” ketus Bo Na.

Gadis itu kemudian berbalik lagi dan melangkah angkuh ke dalam kelas meninggalkan siswa bernama Yoon Chan Young itu di depan kelas. Chan Young menggelengkan kepalanya melihat tingkah Bo Na. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman kecil.

Sepanjang pelajaran berlangsung, Bo Na nampaknya masih saja melamun dan tidak memperhatikan pelajaran. Sebelah tangannya mengetuk-ngetukkan pulpen ke atas meja dan sebelah lagi menopang kepalanya. Setiap beberapa saat sekali, ia akan mengetukkan pulpennya dengan kekuatan lebih sehingga menimbulkan suara yang cukup keras untuk mengalihkan perhatian Chan Young yang duduk di sebelahnya.

Chan Young yang semula serius memperhatikan pelajaran, kini mulai teralihkan. Ia menatap Bo Na selama beberapa saat. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu sampai membuatnya terlihat begitu kesal. Entah apa yang membuat Chan Young menjadi tertarik untuk memperhatikan setiap lekuk wajah Bo Na. Bibirnya yang mengerucut dan alisnya yang mengerut justru terlihat sebagai suatu poin yang lucu di mata Chan Young. Sekali lagi, seulas senyum muncul di bibirnya.

“Ah! Benar-benar mengesalkan!”

Chan Young terlonjak kaget ketika tiba-tiba saja Bo Na berteriak seperti itu. Bukan hanya Chan Young, tetapi seisi kelas juga sekarang memperhatikan Bo Na yang baru menyadari perbuatannya. Gadis itu terlihat malu dan langsung menundukkan wajahnya.

“Lee Bo Na! Kerjakan soal di depan!” perintah Jung sonsaengnim yang sepertinya tidak suka pelajarannya diinterupsi.

Bo Na membelalak kaget. Ia benar-benar tidak mendengarkan apapun sejak tadi, jadi bagaimana mungkin ia bisa mengerjakan soal itu. Dan angka-angka apa yang sebenarnya tertulis di papan tulis itu? Sebenarnya pelajaran apa sih yang sedang berlangsung sekarang?

“Lee Bo Na, kau mendengarku?”

Bo Na bergidik ngeri mendengar suara Jung sonsaengnim yang terdengar mengerikan. Akhirnya ia bangkit berdiri dan melangkah lemas ke depan kelas. Mungkin seperti ini rasanya menyongsong kematian.

Bo Na merutuk kesal. Ia benar-benar merasa kesal hari ini. Akibat dari tidak bisa menjawab soal yang diberikan oleh Jung sonsaengnim tadi, ia sekarang harus berkutat dengan angka-angka dan berbagai rumus matematika yang membuat kepalanya terasa pening.

Semua ini gara-gara laki-laki itu yang tidak mau menyingkir dari kepalanya! Bo Na mengeluh keras-keras, yang akhirnya hanya membuatnya ditegur karena mengeluarkan suara berisik di dalam perpustakaan. Kim Tan, pergilah kau dari kepalaku! batin Bo Na geram.

Ia mulai mencoba untuk memfokuskan dirinya menghadapi untaian angka yang tersaji di depannya. Melihatnya saja sudah membuat Bo Na merasa muak, tetapi mau tidak mau ia harus menyelesaikan soal-soal itu. Ia menarik buku yang berisi rumus-rumus matematika dan membaca isinya, mencoba memahami setiap cara yang tertera.

Hasilnya nihil. Bo Na tetap tidak bisa mengerti apa-apa. Ia mendesah frustasi. Jika ia tidak mengumpulkan tugas tambahan ini, entah apa yang akan dilakukan Jung sonsaengnim padanya. Ia sudah cukup malu dihadapan teman-teman sekelasnya tadi. Ia tidak mau dihukum lagi.

“Butuh bantuan?”

Bo Na menoleh dan melihat Chan Young menarik kursi dan duduk di sebelahnya.

“Kenapa kau pikir aku butuh bantuan?” Bo Na menjawab ketus.

“Yah, aku memberhatikanmu sejak tadi dan kelihatannya kau sedang kesulitan, jadi aku datang untuk menawarkan bantuan,” sahut Chan Young.

Bo Na mengerutkan keningnya. “Kau memperhatikanku? Dan kenapa kau memperhatikanku?” serangnya.

“Semua orang disini juga akan memperhatikanmu kalau kau terus-menerus mengeluarkan suara berisik di perpustakaan,” jawab Chan Young santai.

Bo Na langsung melihat ke sekelilingnya. Benar saja, beberapa orang menatapnya dengan pandangan menegur.

“Jadi, aku bertanya lagi padamu, apakah kau butuh bantuan?” tawar Chan Young.

Bo Na mendesah pelan. Tidak ada ruginya menerima bantuan Chan Young. Lagipula, ia memang sangat membutuhkan bantuan saat ini. Ia sudah tidak sanggup lagi melihat angka-angka yang hanya membuatnya pusing itu. Lebih baik ia menerima tawaran Chan Young sebelum ia mempermalukan dirinya lebih jauh lagi.

“Oke, baiklah! Aku butuh bantuanmu!” ucap Bo Na pasrah.

Chan Young berhenti berjalan dan menoleh mendengar suara manja yang memanggil namanya itu. Ia tersenyum ketika melihat Bo Na berlari ke arahnya sambil memeluk buku-bukunya.

“Kali ini apa lagi?” tanya Chan Young.

Bo Na menunjukkan buku-buku pelajarannya pada Chan Young.

Araseo. Kajja.” Chan Young mengangguk dan membiarkan Bo Na menariknya pergi.

Sejak Chan Young membantu Bo Na untuk tugas matematikanya, Bo Na sering kembali padanya dan meminta untuk di ajarkan berbagai mata pelajaran yang lain. Karena alasan itu jugalah mereka kini semakin dekat. Chan Young yang pintar dan sikapnya yang ramah juga murah senyum membuat Bo Na merasa nyaman untuk bertanya pada Chan Young mengenai pelajaran yang tidak dimengertinya. Belajar bersama kini sudah menjadi kegiatan baru mereka bersama.

Bo Na sibuk merumuskan soal-soal matematikanya sesuai dengan cara yang sudah di ajarkan oleh Chan Young tadi. Sementara itu, disebelahnya Chan Young justru mengerutkan keningnya menghadapi buku bahasa Inggrisnya. Ya, Chan Young memang siswa paling pintar di angkatannya, tetapi nilai bahasa Inggrisnya tidak bisa dikatakan paling tinggi di antara teman-temannya. Ia cukup lemah dengan bahasa asing yang sayangnya menjadi salah satu pelajaran wajib di Jeguk High School.

Bo Na berhenti menghitung ketika mendengar Chan Young menggumamkan kata-kata bahasa Inggris dengan lafal yang membuatnya ingin tertawa. Ia menoleh dengan ingin tahu ke arah Chan Young dan berusaha melihat apa yang sebenarnya dibaca oleh laki-laki itu.

Wons a-pon a taim, der laip a—

Ya! Bahasa Inggrismu jelek sekali!” komentar Bo Na.

Chan Young menoleh ke arahnya. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sudut bibirnya tertarik membentuk cengiran malu.

“Bahasa Inggris adalah pelajaran yang paling tidak aku kuasai. Jadi jangan menertawakanku,” ucap Chan Young.

“Kau beruntung, Yoon Chan Young!” sahut Bo Na.

“Apanya? Beruntung karena bahasa Inggrisku jelek?” Chan Young bertanya bingung.

Aniya! Bukan itu maksudku!” Bo Na menggertakkan giginya kesal. “Kau beruntung karena ada aku disini. Dan satu-satunya pelajaran yang bisa kubanggakan adalah bahasa Inggris!”

Chan Young melebarkan kedua mata sipitnya. Ia baru ingat jika Bo Na pernah tinggal di Amerika, jadi sudah jelas gadis itu fasih berbahasa Inggris. Bahkan beberapa kali Chan Young mendengarnya mengumpat dalam bahasa Inggris—yang tentu saja selalu ia tegur setelah itu.

“Kau mau membantuku?” tanya Chan Young.

Bo Na menganggukkan kepalanya. “Tentu saja! Kau sudah banyak membantuku dalam pelajaran lain. Bahasa Inggris sama sekali bukan masalah bagiku,” ucapnya sambil menarik buku Chan Young mendekat.

Once upon a time, there lived a lion in a forest.” Bo Na mengajarkan cara melafalkan yang benar pada Chan Young.

Chan Young berusaha keras mengikuti lafal yang di ajarkan oleh Bo Na. Sedikit demi sedikit ia mulai bisa melafalkan kata per kata dengan benar.

Gomawo,” ucap Chan Young.

“Untuk apa?” tanya Bo Na bingung.

“Karena kau sudah mengajariku,” sahut Chan Young.

Ya! Sudah kukatakan ini bukan apa-apa. Kau membantuku lebih banyak dari ini,” balas Bo Na.

“Tetap saja, gomawo, Lee Bo Na,” ujar Chan Young sambil menatap Bo Na dan tersenyum.

Bo Na merasakan jantungnya berdebar dua kali lebih cepat ketika tatapan Chan Young masuk ke dalam matanya. Senyum laki-laki itu selalu terlihat tulus dan menyenangkan. Rasanya Bo Na sanggup menghabiskan berjam-jam hanya dengan melihat senyuman itu.

Bo Na merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Ia menghela napasnya dan menatap langit-langit kamar.

Kim Tan. Sudah beberapa hari ini nama itu tidak lagi berkeliaran di kepalanya. Tidak lagi membuatnya menghentakkan kakinya kesal. Tidak lagi membuat mood-nya rusak dalam sekejap mata. Dan hal itu terjadi tepatnya sejak ia mulai menghabiskan waktu bersama Chan Young.

Yoon Chan Young. Senyuman laki-laki itu kembali terbayang di benak Bo Na. Gadis itu memegangi dadanya, mencoba merasakan detak jantungnya sendiri. Ia menyadari detak jantungnya yang ber-ritme semakin cepat ketika ia memikirkan Chan Young. Rasanya hampir sama seperti setiap kali ia memikirkan Kim Tan dulu.

Mungkinkah? Bo Na termenung memikirkan ini. Apakah mungkin ia menyukai Chan Young?

Ia sangat menikmati menghabiskan waktunya bersama Chan Young. Belajar tidak lagi menjadi hal yang menyebalkan baginya karena ia melakukannya bersama Chan Young. Ia akhirnya menyadari sebagian besar waktunya akhir-akhir ini ia habiskan bersama seorang Yoon Chan Young, seolah ia tidak bisa lagi lepas dari laki-laki itu. Kedekatan mereka begitu sederhana, namun Bo Na sangat menikmatinya.

“Yoon Chan Young, do I like you?” bisik Bo Na sambil memejamkan kedua matanya.

Lee Bo Na.

Senyuman akan selalu terukir di wajah Chan Young setiap kali ia mendengar atau memikirkan nama itu. Entah apa yang sebenarnya dilakukan seorang Lee Bo Na padanya sampai ia bertingkah seperti ini hanya dengan mendengar namanya saja.

Gadis yang manja dan kekanak-kanakan, tetapi di sisi lain juga sangat lucu dan manis. Chan Young mulai memperhatikan Bo Na sejak ia pertama kali melihat gadis itu berjalan sendirian di lorong sekolah sambil menggumamkan sesuatu yang nampaknya ditujukan untuk dirinya sendiri—berhubung tidak ada orang lain bersamanya. Gadis itu juga seringkali terlihat kesal tanpa sebab dan menggerutu keras-keras.

Awalnya Chan Young berpikir jika gadis itu sangat aneh. Tetapi kemudian ia mendengar kalau penyebab Lee Bo Na bertingkah seperti itu adalah karena patah hati. Pacar sekaligus cinta pertamanya memutuskan hubungan mereka kemudian bertunangan dengan gadis lain karena perjodohan. Dan sekarang laki-laki itu justru terbang ke Amerika untuk sekolah disana.

Chan Young akhirnya memahami sikap Bo Na. Gadis itu hanyalah seorang gadis lugu yang baru pertama kali merasakan patah hati. Sejak itulah segala tingkah Bo Na justru terlihat lucu dan menggelikan di matanya. Bo Na hanya seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk karena tidak berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.

Lagi. Chan Young tertawa kecil saat bayangan Bo Na yang sedang kesal muncul di benaknya. Ia begitu gemas dan ingin sekali mencubit pipi Bo Na ketika gadis itu sedang merajuk.

“Lee Bo Na—“ Chan Young mengucapkan nama itu lambat-lambat. Kedua matanya mulai tertutup. Ia mencoba meresapi apa yang ia rasakan pada gadis itu. Perasaan apa yang sebenarnya muncul setiap kali ia melihat Bo Na dan setiap kali ia berada di dekatnya.

“Apakah aku menyukaimu?”

Bo Na membuka lokernya dan memasukkan beberapa bukunya lalu mengambil yang lain. Ia juga menyempatkan diri untuk bercermin dan memastikan rambutnya masih rapi dan tidak ada make-up yang luntur.

“Jadi, kau semakin dekat dengan Yoon Chan Young?”

Bo Na berhenti merapikan rambutnya dan menoleh dengan tidak suka ke arah Kang Ye Sol, sahabatnya. Ye Sol menatapnya dengan tatapan meremehkan. Tidak, bukan meremehkan Bo Na. Lebih tepatnya ia meremehkan Chan Young. Dan entah mengapa Bo Na sama sekali tidak menyukainya.

“Apa maksudmu?” tukas Bo Na.

“Sekarang kau mendekati Yoon Chan Young?” ulang Ye Sol. “Apa yang kau lihat darinya?”

Ya! Aku memperingatkanmu! Berhenti berbicara seperti itu!” Bo Na berkata dengan ketus.

“Memangnya kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kau memang sedang dekat dengannya kan? Apa kau menyukainya?” tanya Ye Sol.

“Ugh—Ya! Hubungan kami tidak seperti itu! Ia hanya membantuku dalam pelajaran!” elak Bo Na kesal.

“Benarkah? Bagiku tidak terlihat seperti itu,” ucap Ye Sol cuek.

“Tapi baguslah kalau kau memang tidak menyukainya. Lagipula ia kan bukan siapa-siapa,” tambah Ye Sol sambil mengangkat bahunya, “Ia hanya anak seorang sekretaris biasa.”

Gadis itu tidak tahu jika ia sudah membuat Bo Na geram dengan kata-katanya.

Ya! Kang Ye Sol! Jangan pernah kau berkata seperti itu lagi tentang dirinya di depanku!” seru Bo Na.

Bo Na kemudian menutup lokernya kasar sehingga menimbulkan bunyi debam yang menimbulkan gaung di lorong. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan Ye Sol yang menurutnya sudah membuatnya gerah. Ye Sol sendiri menatap kepergian Bo Na sambil menggelengkan kepalanya.

“Seperti itu dan kau masih mengatakan kalau kau tidak menyukainya? Ck, kau pembohong besar, Lee Bo Na,” gumamnya.

“Tapi baguslah kalau kau memang tidak menyukainya. Lagipula ia kan bukan siapa-siapa.”

Chan Young memukul kepalanya sendiri. Ia tidak sengaja mendengar percakapan antara Bo Na da temannya. Perkataan gadis bernama Kang Ye Sol itu memang benar. Ia memang bukan siapa-siapa. Ia bukan anak pemilik perusahaan seperti kebanyakan siswa lainnya. Ia hanyalah anak seorang sekretaris yang masuk ke Jeguk High School ini melalui beasiswa.

Chan Young menghela napasnya. Ia menyadari kalau ia tidak pantas untuk seorang Lee Bo Na. Gadis seperti Bo Na jelas lebih pantas bersama dengan seseorang yang memiliki status sederajat dengannya. Ia tidak boleh membiarkan perasaannya pada Bo Na berkembang lebih jauh dan akhirnya hanya akan menyakiti dirinya sendiri.

“Chan Young-aa!”

Ia mendengar Bo Na memanggil namanya, tetapi ia tidak berhenti berjalan seperti yang biasanya ia lakukan. Ia terus berjalan seolah tidak mendengar Bo Na yang terus memanggilnya.

“Chan Young-aa!”

Bo Na berhasil menarik lengan Chan Young, memaksa laki-laki itu berbalik untuk menghadapinya.

Wae? Aku memanggilmu sejak tadi. Apa kau tidak mendengarku?” tanya Bo Na sambil mengerucutkan bibirnya.

“Untuk apa kau memanggilku?”

Bo Na melepaskan pegangannya pada lengan Chan Young ketika mendengar nada suara dingin yang keluar dari mulut lelaki itu. Lebih lagi, tidak ada senyum dan tatapan hangat yang biasanya diberikan Chan Young untuknya.

Wae geurae? Apa yang terjadi padamu?” Bo Na sedikit takut melihat tatapan tajam yang diberikan Chan Young untuknya. Tatapan itu begitu menusuk sampai membuat hatinya terasa sakit.

“Apa yang kau inginkan?” ulang Chan Young tanpa menjawab pertanyaan Bo Na.

“Aku—aku—“ Bo Na kehilangan kata-katanya dibawah tatapan Chan Young.

“Kalau tidak ada yang ingin kau katakan, jangan ganggu aku lagi,” desis Chan Young.

Laki-laki itu lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Bo Na yang kebingungan di belakangnya. Seolah baru tersadar, Bo Na kembali mengejar Chan Young. Setidaknya ia harus tahu apa yang terjadi dengan laki-laki itu. Apakah ia sudah berbuat kesalahan? Tetapi apa yang dilakukannya sampai membuat Chan Young bersikap seperti itu padanya?

Ya! Yoon Chan Young! Berhenti!” teriak Bo Na.

Ia harus berlari untuk mengejar Chan Young karena lelaki itu tidak mau berhenti walaupun Bo Na yakin kalau ia mendengar teriakannya.

Ya! Yoon Chan Young!” Sekali lagi Bo Na menarik lengan Chan Young.

Chan Young kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Bo Na. Ekspresi wajahnya masih tampak dingin dan bibirnya terkatup rapat. Bo Na benar-benar tidak menyukai sikap Chan Young yang seperti ini. Ia harus tahu apa yang membuatnya berubah.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Memangnya apa salahku?” Bo Na langsung memberondong Chan Young dengan berbagai pertanyaan.

“Tidak ada yang terjadi padaku, Lee Bo Na. Berhentilah mengejarku. Aku ini bukan siapa-siapa,” ucap Chan Young, masih dengan nada dinginnya.

Bo Na tersentak mendengar ucapan Chan Young. Apakah—

“Aku hanya membantumu dalam pelajaran. Sekarang nilai-nilaimu sudah naik bukan? Jadi kau sudah tidak membutuhkanku lagi,” lanjut Chan Young.

Bo Na mengerjapkan kedua matanya. Chan Young mendengar pembicaraannya dengan Ye Sol tadi! Oh, ia benar-benar ingin mengumpat sekarang.

“Chan Young-ah, apa yang kau katakan?” Suara Bo Na mengecil sampai nyaris berupa bisikan.

“Kau tahu apa yang kukatakan dan apa yang kumaksud, Lee Bo Na,” sahut Chan Young.

“Kau—mendengar pembicaraanku dengan Ye Sol?” Bo Na memberanikan diri menayakan hal itu pada Chan Young.

Chan Young tidak menjawab pertanyaannya, tetapi tatapan laki-laki itu sudah cukup menjawab kalau ia memang mendengarkan pembicaraan Bo Na dan Ye Sol.

Ya! Yoon Chan Young! Aku tidak bermaksud seperti itu! Kenapa kau begitu marah seperti ini?” seru Bo Na.

Kali ini giliran Chan Young yang tersentak. Benar. Kenapa ia harus semarah ini? Rasanya benar-benar menyakitkan saat mendengar pembicaraan Bo Na dan Ye Sol tadi.

“Yoon Chan Young! Jawab aku! Apa yang sebenarnya membuatmu marah? Karena Ye Sol mengatakan kalau kau bukan siapa-siapa?” Bo Na memaksa Chan Young untuk menjawab.

Tidak. Sikapnya ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ucapan Ye Sol. Ia sudah terbiasa mendengar orang-orang mengatakan kalau ia bukan siapa-siapa. Apalagi ia memang bersekolah di tengah-tengah kumpulan pewaris. Chan Young bersikap seperti ini karena Bo Na mengatakan kalau mereka hanyalah teman belajar. Entah mengapa Chan Young tidak menyukainya. Apakah ia berharap lebih?

“Kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Apa kau mendengar pembicaraan kami cukup lama sampai kau tahu kalau aku membelamu di depan Ye Sol? Setelah itu apakah sikapmu justru menjadi seperti ini padaku? Yoon Chan Young, kau benar-benar menyebalkan!” Wajah Bo Na sudah mulai memerah dan gadis itu sepertinya menahan tangisnya.

Chan Young mengerjap kaget melihat Bo Na. Ia tidak menyangka gadis itu akan balik marah padanya seperti itu.

“Sudah kuduga kau tidak mendengarkan sampai kesitu kan?” lanjut Bo Na kesal. “Aku membelamu, kau tahu? Aku tidak suka mendengar orang lain berkata buruk tentangmu! Lalu apakah kau masih akan bersikap seperti ini padaku? Apa kau tahu kalau aku menyukaimu?”

Chan Young tercengang mendengarkan ucapan Bo Na yang penuh emosi. Gadis itu benar-benar marah padanya. Tetapi Chan Young sedang mencerna kalimat terakhir Bo Na. Ia—Bo Na menyukainya?

“Kau benar-benar menyebalkan!”

Sesudah berteriak seperti itu, Bo Na membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan Chan Young. Sebagian dalam diri Chan Young menyuruhnya untuk mengejar Bo Na, tetapi kakinya tidak mau bergerak. Ia terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dialaminya. Dan fakta itu terlalu sulit untuk dipercaya.

Lee Bo Na—menyukainya.

Kini giliran Chan Young yang harus mendekati Bo Na untuk meminta maaf. Sayangnya hal itu tidak semudah yang ia bayangkan. Bo Na terus menghindarinya. Bahkan Chan Young tidak bisa menemukannya dimanapun saat jam istirahat.

Chan Young merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Ia ingin sekali mendengar Bo Na memanggil namanya. Ia juga ingin melihat senyuman gadis itu. Sepertinya ia benar-benar merindukan Lee Bo Na.

“Myung Soo-ya!”

Jo Myung Soo menoleh ketika mendengar Chan Young memanggilnya. Ia berbalik dan menatap heran Chan Young yang berjalan menghampirinya.

“Oh! Yoon Chan Young, ada apa?” tanyanya.

“Apa kau melihat Lee Bo Na?” Chan Young langsung bertanya tanpa basa-basi. “Kau tahu dimana ia sekarang?”

“Bo Na?” Myung Soo mengerutkan keningnya. “Entahlah. Aku tidak melihatnya. Memangnya kenapa?”

Chan Young menghela napasnya. Mencari Lee Bo Na sepertinya jauh lebih sulit daripada mencari presiden.

“Tidak ada apa-apa. Hanya ada sesuatu yang perlu kubicarakan dengannya,” jawab Chan Young.

Myung Soo menatap Chan Young penuh selidik. “Ah, coba saja cari di studioku. Siapa tahu ia ada disana,” beritahu Myung Soo. “Kau masih ingat tempatnya kan?”

“Tentu saja. Gomawo, Myung Soo-ya.” Chan Young menepuk pundak Myung Soo kemudian berlari pergi.

“Ada apa sebenarnya?” gumam Myung Soo heran.

“Laki-laki bodoh! Tidak berperasaan! Tidak peka!” Bo Na terus menggerutu kesal sambil meremas-remas bantal di tangannya.

“Bodoh! Yoon Chan Young, kau benar-benar bodoh!” pekik Bo Na sambil melemparkan bantal ke arah pintu.

BUK!

Bo Na terperangah kaget ketika bantal yang dilemparnya mengenai wajah seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam studio milik Myung Soo—tempatnya berada sekarang. Lebih kaget lagi ketika ia melihat bahwa orang yang terkena lemparan bantalnya adalah Yoon Chan Young.

“Ada lagi yang ingin kau katakan tentangku? Lee Bo Na?” tanya Chan Young santai sambil berjalan mendekati Bo Na.

Yya! Kenapa kau ada disini?” Bo Na tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Ia bangkit berdiri dan bergerak menghindari Chan Young.

“Aku mencarimu, kau tahu? Aku sudah mencarimu kemana-mana tapi aku tidak menemukanmu. Ternyata kau ada disini,” sahut Chan Young santai.

“Untuk apa kau mencariku?” tanya Bo Na ketus.

Tatapan Chan Young melembut. “Aku ingin minta maaf,” ucapnya.

Bo Na tertegun. Chan Young berjalan mendekatinya dan Bo Na tidak bisa lagi menghindar. Chan Young berdiri tepat di depan Bo Na dan tersenyum.

“Apa kau mau memaafkanku?” tanya Chan Young.

“Ka—kau pikir kau siapa? Kau sudah menuduhku sembarangan, menjauhiku, dan tidak mau mendengar penjelasanku. Kenapa aku harus memaafkanmu?” Bo Na mengerucutkan bibirnya kesal.

Bo Na bisa merasakan jantungnya berdegup begitu kencang dengan Chan Young yang berada begitu dekat dengannya. Ia hanya berharap semoga Chan Young tidak mendengar debaran jantungnya yang keras.

Mianhae,” ucap Chan Young pelan. “Aku tahu aku salah. Sikapku sangat kekanak-kanakan. Aku benar-benar minta maaf.”

Bo Na masih menolak untuk menatap Chan Young. Gadis itu masih mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Mianhae,” ulang Chan Young. “Saat itu, aku memang kesal karena percakapanmu dengan Ye Sol. Dan itu karena—”

Neol joahanikka. Karena aku menyukaimu,” sambung Chan Young dengan semburat merah di kedua pipinya.

Bo Na menoleh dengan cepat dan menatap Chan Young tidak percaya. “Apa kau bilang? Katakan sekali lagi!” pinta Bo Na. Kedua matanya sudah kembali berbinar.

“Aku sudah mengatakannya,” tolak Chan Young sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

“Katakan sekali lagi! Chan Young-ah, katakan sekali lagi!” desak Bo Na sambil melompat-lompat kecil.

Joahaeyo,” gumam Chan Young. “Aku menyukaimu, Lee Bo Na.”

Bo Na tersenyum lebar mendengarnya. Ia memeluk lengan Chan Young erat-erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Chan Young tertawa melihat tingkah Bo Na. Ia mengacak lembut puncak kepala gadisnya itu.

“Kau—“ Chan Young memberi jeda pada kalimatnya untuk menarik perhatian Bo Na. “Apa kau mau jadi pacarku?”

Bo Na tersenyum malu. Ia memukul pelan lengan Chan Young. “Ya! Bagaimana mungkin kau masih bertanya seperti itu? Tentu saja! Nan nekkeoya! Aku milikmu!” serunya.

Chan Young tersenyum pada Bo Na yang masih bergelayut manja di lengannya.

Daebak! Ini akan menjadi berita paling menggemparkan di sekolah!”

Bo Na dan Chan Young sama-sama menoleh kaget ke arah pintu. Disana berdiri Myung Soo dengan cengiran lebarnya. Rupanya tadi ia mengikuti Chan Young karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi antara Chan Young dengan Bo Na.

Ya! Jo Myung Soo!”

 *Note : Otte? Maafkan untuk cerita yang klise (mungkin). Please give me your comment to make a better chapter. Aku nggak bisa janjiin update cepet karena masih banyak tugas kuliah dan juga ada FF WGM yang kejar tayang (?), tapi aku bakal berusaha biar kalian (yang pingin FF ini dilanjut) nggak terlalu lama nunggu. So, please let me know what do you think?

37 thoughts on “(Heirs Fiction) The Story of Lee Bo Na and Yoon Chan Young: Before Story

  1. Kyaaaaaa>.< ceritanya keren bangeeet thor ya ampun jadi gitu ya caranya chanyoung pdkt dan nembak bona aaaaah manis banget! Sweet<3
    Feelnya juga dapet banget! Sifat manja & imutnya bona dapet banget,terus cool & pembawaannya(?) chanyoung juga paaaaas banget!
    Ah pokoknya keren banget dan ini wajib banget dilanjutkan thooor.. Aku pasti nunggu banget ini^^
    Fighting! 🙂

  2. Haahha emng ga ada yg bisa nolak pesona chanyoung
    Aigoo smpt sedih wkt mreka salah sangka. .
    Tp ttp aja lucu hahahhaa
    Ayo dilnjutin. .
    Biar ada adegan kisu”nya.hahahha
    D drama dkit sih adegan mreka.penonton kecewa

  3. inii seruuuu..
    ngobatin rindu hyukstal shipper..
    momen mereka di the heirs sedikit, kita yg nnton jdnya ga puas..
    entah knpa, sy lbh suka couple ini drpda lead couple sebenernya..
    ahahahahahaa..
    ini cerita awal mereka jadian..?? aiiihh.. lucu ya mereka..
    Yoon Chan Young sm Lee BoNa digambarin sesuai sm yg di the heirs, ga susah ngebayangin jadinya..
    penasaran sm adegan wktu mereka camping, yg ChanYoung ngajak BoNa kehutan itu.. mereka ngapain..???
    ditunggu kelanjutannya..
    fightiing Lenaa…!!XD

  4. hahaaa i likee it :3
    inimah asal mula terbentuknya (?) BonaChanyoung couple di the Heirs xD aku sukaa bgt smaa jalan ceritanyaa unyuk2 gitu hoho ayoo semangat lanjutinnya thor!
    Di WGM deerburning jg hyukstal wajib(maksabgt) jadi cameo(?) pokoknyaa seru bgt kalau hyukstal juga ada di wgm, ikut wgm juga gapapaaakok:3

  5. Ini couple favorit aku di the Heirs Chanyoung-Bona. Sukaaaaa, feelnya dapet bgt thor. Apa pun yg mreka lakuin pasti sweet. ^^
    Pkoknya ff ini harus wajib hukumnya dilanjutin. Ditunggu next partnya. 😀

  6. Wuahahaha yaampun suka banget thorrr, bisa banget dibayanginya Ahhh chanyoung bona bikin senyum senyum sendiri :3 gak tau harus bilang apalagi 😀
    bakal setia nunggu :3
    semangat thor ‘-‘) 9

  7. aakhiirnyaaaa setelah diitunggu tunggu muncul juga ..
    innii berasaa nonton the heirs beneeran ..
    feelnya dapet banget ..
    hihhiii ..
    kebayang banget expressi mukanya bo na pas lagi ngumpat g jelas .. xixii ..

  8. Knpa hyukstalnya so sweet bgt.. Authornya pasti sweet jga… Hhhhiiihhhiii…
    Critanya ngegemesin bgtttt… Ihhhh cuteee.. Update again thor

  9. kyaaaaaaaa ini Sweet dan daebak ff 🙂 gak sabar nunggu next chapternyaaaaaa wajib di lanjutin ini, next chap jangan lama2 ya dan wajib lebih sweet dan gokil lagi deh.. aku penasaran sama yg waktu lagi kemping kan mereka ke hutan, tuh ceritain ya mereka ngapain hihi thx 🙂 :*

  10. hiihihi.. love it love it.. Udah banyak baca FF chan-bo tapi yg ini gampang bgt di bayangin, lebih menarik dari nonton the heirs.haha..
    Update soon, so soon, very soooon and sooon sooon lainnya, okay thor ^^
    Aku pengen tau gimana cara chanyoung ngajak bona baikan pas kejar2an di ep 14.

  11. keren bgt!!! feelnya emang dpt bgt, karakter keduanya sama persis di dramanya. jadi lbh muda ngebayanginnya.. keren thor (y)

  12. Feelnya kenaa.. Aakk., ini couple favouritkuu..
    Cepet dilanjut ya thor 🙂
    Btw, aku readers baru.
    Salam kenal thor 😀

  13. What a sweet fiction!!!
    I love this couple… :3
    Ceritanya keren. Berasa bener2 nonton before story dari hubungan Chanyoung-Bona di film The Heirs…
    dan penggambaran karakter Chanyoung-Bona juga pas bgt. Sgt sesuai dengan aslinya… 😀

  14. i think… this ff very JJANG!!! aigoo, aku jadi gk berhenti tersenyum klo kyk gini… 😀 chanbon (hyukstal) Jjang!! author Jjang!! di lanjut next part nya ^^

  15. Omegot, aku nggak berhenti senyum-senyum sendiri baca ff ini, penggambaran karakter dan feel-nya dapat banget. Huaaa, i love this couple ^_^

  16. Ampun deh, gila ini couple sweet banget. Feel nya dapet banget, imutnya Bona, manisnya, coolnya, manjanya. Semuanya dapet. Ditunggu banget next part

  17. Di The Heirs perhatian utamaku ke couple ini bukan ke main character. Awalnya aku juga pengen banget nulis ff tentang mereka tapi susah buat mendalami karakternya. Dan yang ngebuat aku tercengang adalah…author berhasil menciptakan ff couple ini dengan luar biasaaa!!! Aku ngerasa penyampaian author tuh ringan tapi mendalam banget. Dapet bangen feelnya. Autjor fighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s