We Got Married: Episode 20 (Meet in Law)

wgmnew

Title: We Got Married [Episode 1] [Episode 2] [Episode 3] [Episode 4] [Episode 5] [Episode 6] [Episode 7] [Episode 8] [Episode 9] [Episode 10] [Episode 11] [Episode 12] [Episode 13] [Episode 14] [Episode 15] [Episode 16] [Episode 17] [Episode 18] [Episode 19]

Author: Felicia Rena

Rating: PG 15+

Genre: Romance, Family, and others

Main Casts: Im Yoon Ah, Lee Jong Hyun

Other Casts: Kim Jung Min as MC1, Park Mi Sun as MC2, Lee Ji Hye as MC3, Danny Ahn as MC4

Disclaimer: I do not own anything except storyline. This story is pure fiction. All casts belongs to God.

Poster by Felicia Rena

*Note: Yang berwarna merah adalah komentar dari para MC danguest commentators di studio. Oranye adalah pertanyaan dari PD-nim di sesi interviewPink adalah Yoona di sesi interviewBiru adalah Jonghyun di sesi interview.

Hope you’ll enjoy this fanfic ^^

NO PLAGIAT, please…:)

.

.

.

EPISODE 20 – MEET IN LAW

May 15, 2014

Sebuah Mercedez-benz putih melaju dengan kecepatan sedang di jalanan panjang dari Seoul menuju Busan. Di dalamnya, sang pengemudi nampak santai dan sesekali menyenandungkan lagunya yang dimainkan melalui player. Sebaliknya, di sebelahnya duduk seorang wanita yang terlihat gugup dan berkali-kali meremas kedua tangannya.

MC3: Ada apa lagi kali ini?

 “Tenanglah. Jangan gugup seperti itu,” ucap Jonghyun, jelas sedang menahan kegeliannya melihat tingkah Yoona.

Ya! Bagaimana mungkin aku tidak gugup?” balas Yoona.

Jonghyun tertawa kecil. Ia mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas kedua tangan Yoona yang terkepal, lalu mengusapnya lembut.

“Aku bersamamu. Jangan khawatir,” katanya menenangkan.

MC1: Kemana mereka akan pergi kali ini?

May 14, 2014 – WGM Village

Yoona: Besok adalah hari ulang tahun Jonghyun.

MC2: Ini akan menjadi kali pertama mereka merayakan ulang tahun bersama-sama.

Q: Apakah kau sudah merencanakan sesuatu untuk ulang tahun suamimu?

Yoona: Sejujurnya belum. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuknya. Mungkin nanti akan kupikirkan lagi (tertawa).

“Jonghyun-ah,” panggil Yoona selagi ia dan Jonghyun duduk bersama di ruang tengah rumah mereka.

“Hmm?” Jonghyun menggumam pelan sebagai jawaban. Jemarinya sibuk memainkan berbagai kunci gitar.

“Apa ada sesuatu yang kau inginkan?” tanya Yoona.

“Tidak,” jawab Jonghyun singkat tanpa menoleh ke arah Yoona.

Yoona menggembungkan pipinya, antara sebal karena tidak mendapatkan jawaban dan kesal karena Jonghyun bahkan tidak melihat ke arahnya.

Sowoneul malhaebwa.” Yoona menyanyikan potongan lirik lagunya ‘Genie’ yang berarti beritahu aku permohonanmu.

TING TONG!

Suara bel membuat Yoona menoleh ke arah pintu sementara Jonghyun hanya melirik sekilas. Yoona bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu, meninggalkan Jonghyun yang sudah kembali sibuk dengan kegiatannya. Tidak lama kemudian, Yoona kembali dengan amplop merah di tangannya.

MC1,2: Mission card!

MC4: Sudah lama tidak melihatnya.

Mission card?” Perhatian Jonghyun akhirnya teralihkan ketika ia melihat Yoona kembali dengan membawa amplop merah.

“Eoh,” sahut Yoona sambil membuka amplop itu dan membaca isinya. “Sudah lama sekali kita tidak menerima ini.”

Kedua bola mata Yoona bergulir selagi ia membaca isi misi baru untuk mereka. Air mukanya mulai berubah semakin jauh ia membaca. Ia mengerjapkan kedua matanya dan mulutnya sedikit terbuka.

Jonghyun yang merasa penasaran karena Yoona tidak kunjung membaca isi misi mereka, akhirnya mengambil kartu tersebut dari tangan Yoona dan membacanya sendiri.

“Pergilah bersama ke Busan untuk menemui orangtua Jonghyun.”

MC1,2,3,4: Ooooh!

Q: Bagaimana perasaanmu ketika mengetahui kau akan bertemu dengan mertuamu?

Yoona: Mollayo. Kurasa aku belum siap untuk bertemu dengan mereka. Eottokhe? Bagaimana jika mereka tidak menyukaiku? Apakah mereka bisa menerimaku? Aaah! Aku bisa gila memikirkannya! Aku benar-benar khawatir!

Jonghyun menatap Yoona khawatir. “Kau baik-baik saja?” tanyanya.

Yoona mengangguk pelan. “Apakah kita harus pergi?” Ia balik bertanya.

“Kurasa begitu,” sahut Jonghyun sambil mengangkat bahunya.

Ya! Aku membawamu ke dorm-ku untuk bertemu dengan member-ku dan sekarang kau akan membawaku ke rumah-mu untuk bertemu dengan kedua orangtua-mu? Tidak adil! Kau curang!” Yoona berseru gugup.

Ya! Ini bukan rencanaku,” balas Jonghyun.

Q: Bagaimana perasaanmu akan membawa istrimu untuk bertemu dengan kedua orangtuamu?

Jonghyun: Kurasa aku tidak kalah gugupnya dengan Yoona (tertawa). Aku tidak pernah membawa seorang wanita ke rumah sebelumnya. Ia adalah yang pertama. Tetapi aku merasa aku bisa melakukannya karena kini ia adalah seseorang yang spesial bagiku (tersenyum). Aku tahu orangtuaku pasti akan menyukainya.

MC4: Mereka berdua pasti akan merasa sama gugupnya.

May 15, 2014 – Songdo, Busan

“Sebentar lagi kita akan sampai.” Jonghyun memberitahu Yoona.

Yoona menghembuskan napasnya entah untuk yang keberapa kalinya, berharap dengan melakukan hal itu bisa memberinya sedikit ketenangan.

Jonghyun menghentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah. Ia segera turun dan bergerak memutari mobilnya untuk membukakan pintu bagi Yoona.

Jonghyun mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Yoona. Bibirnya melengkung membentuk senyuman menenangkan. Yoona balas menggenggam tangan Jonghyun dan menghembuskan napasnya untuk mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang.

Seorang wanita membuka pintu dan menghampiri mereka dengan senyum terukir di wajahnya.

“Oh, kalian sudah datang?” sapanya ramah.

MC2: Apakah ia adalah ibu Jonghyun? Ia masih terlihat cantik.

MC3: Tidak heran kalau anaknya juga tampan.

Eomma!” Jonghyun memeluk ibunya dengan satu tangan sementara tangan satunya masih tetap menggenggam tangan Yoona.

Annyeonghaseyo, eomonim!” Yoona menundukkan tubuhnya memberi salam pada Nyonya Lee.

Annyeonghaseyo,” balas Nyonya Lee yang baru saja melepaskan pelukannya pada Jonghyun dan ganti memeluk Yoona.

“Ayo kita masuk,” ajak Nyonya Lee.

Abeoji.” Jonghyun membungkukkan tubuhnya, memberi hormat pada ayahnya yang sudah menunggu mereka di ruang tamu.

Yoona yang melihat kehadiran ayah Jonghyun-pun ikut membungkukkan tubuhnya. Nyonya Lee masih merangkul Yoona sambil mengelus-elus lengan gadis itu.

Annyeonghaseyo, abeonim,” ucap Yoona.

Tuan Lee hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada mereka. “Ne. Ne. Kami sudah menunggu kalian,” katanya.

Jonghyun: Ayahku memang tipe yang seperti itu (tertawa). Biasanya, ketika aku pulang ke rumah, ia hanya menyambutku sekedarnya saja. Jika aku ingin memeluknya, maka ia akan menyuruhku untuk tidak mendekat (tertawa). Kuharap Yoona bisa memahami sikapnya.

Q: Bagaimana kesanmu terhadap kedua mertuamu?

Yoona: Ibu Jonghyun sangat ramah dan menyambutku dengan sangat baik. Untuk ayah Jonghyun—well, yang pertama terlintas dalam pikiranku saat aku bertemu dengannya adalah kurasa sikap Jonghyun menurun dari ibunya. Ayah Jonghyun sepertinya bukan tipe yang banyak bicara, tetapi ia juga sangat baik padaku. Aku sangat berterima kasih pada mereka (tersenyum).

“Kalian pasti belum makan siang kan? Aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian. Ayo kita ke ruang makan,” ujar Nyonya Lee sambil menggandeng Yoona, mengajaknya ke ruang makan dan meninggalkan Jonghyun di belakang.

Jonghyun yang merasa tidak diacuhkan hanya mengerucutkan bibirnya dan berjalan mengikuti ibunya dan Yoona.

Di atas meja makan sudah terhidang nasi putih dan sepanci sup rumput laut, makanan yang biasa disajikan untuk merayakan ulang tahun.

Saengil chukhahae, uri adeul,” ujar Nyonya Lee sambil memeluk Jonghyun dan mengecup kedua pipinya.

Eomma—“ Jonghyun sedikit merengek malu.

MC1,2,3,4: Jonghyun-ssi, saengil chukhahamnida!

MC4: Kurasa Jonghyun-ssi merasa malu karena Yoona-ssi melihatnya.

Saengil chukhahae,” ucap Tuan Lee yang sudah duduk di kursi meja makan. Ia tersenyum hangat pada putra bungsu dan satu-satunya itu.

Aigo, uri adeul sudah semakin dewasa. Bukankah begitu, yeobo?” kata Nyonya Lee seraya menangkupkan tangannya pada wajah Jonghyun.

“Ia bahkan sudah menikah sekarang,” lanjutnya ganti mengelus lembut lengan Yoona.

“Kalau begitu berhentilah memperlakukan ia seperti anak kecil,” ujar Tuan Lee.

Nyonya Lee sedikit merengut mendengar perkataan Tuan Lee sedangkan Jonghyun dan Yoona hanya terkekeh melihat mereka berdua.

MC1: Kurasa kedua orangtua Jonghyun tidak jauh berbeda dengan Jonghyun dan Yoona-ssi sendiri.

“Sudahlah, ayo kita makan. Mereka pasti sudah lapar karena perjalanan jauh tadi,” tambah Tuan Lee.

Nyonya Lee, Jonghyun, dan Yoona mengangguk menurut dan segera duduk. Untuk pertama kalinya mereka makan bersama sebagai keluarga.

“Yoona-ya, apakah kau ingin melihat album masa kecil Jonghyun?” tawar Nyonya Lee setelah mereka selesai makan dan membereskan meja makan.

Kedua bola mata Yoona berbinar mendengar penawaran dari Nyonya Lee. “Bolehkah?” tanyanya.

“Tentu saja!” sahut Nyonya Lee bersemangat.

Ya! Andwaeyo! Tidak boleh!” Kebalikannya, Jonghyun justru membelalakkan matanya tanda bahwa ia merasa keberatan.

“Ayo kita ke ruang keluarga!” Nyonya Lee merangkul lengan Yoona dan mengajaknya menuju ruang keluarga tanpa mengindahkan protes dari anaknya.

Eomma!” Jonghyun tidak mempunyai pilihan lain selain menyusul ibunya dan Yoona ke ruang keluarga.

Q: Kenapa kau tidak mengijinkan ibumu untuk menunjukkan album masa kecilmu pada istrimu?

Jonghyun: Karena kurasa banyak foto memalukan disana. Aigo, bagaimana bisa ibuku menunjukkan foto-foto itu?

MC3: Aku justru berpikir Jonghyun kecil pasti akan terlihat sangat lucu.

MC2: Majayo! Benar sekali.

Nyonya Lee menyuruh Yoona untuk duduk di sofa sementara ia pergi mengambilkan album-album lama yang tersimpan di rak. Jonghyun duduk di sebelah Yoona dan menatap wajah istrinya yang nampak tidak kalah bersemangat dari ibunya.

Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Yoona.

“Kau terlihat bersemangat sekali,” komentar Jonghyun.

Yoona mengeluarkan tawa renyahnya menanggapi komentar Jonghyun. Ia memang merasa bersemangat. Ia ingin tahu seperti apakah Jonghyun saat masih kecil.

Ya, duduklah di sebelah sana!” Nyonya Lee yang sudah kembali langsung menyuruh Jonghyun untuk berpindah tempat duduk ke sofa lain supaya dirinya bisa duduk di sebelah Yoona.

“Aish, eomma ini.” Jonghyun menggerutu pelan seraya beranjak berdiri untuk pindah tempat duduk.

“Ini dia!” Nyonya Lee menyerahkan sebuah album berwarna biru muda pada Yoona yang menerimanya dengan senang.

“Wua! Aigo, neomu kyeopta!” seru Yoona riang ketika ia membuka halaman pertama.

“Ia sangat lucu bukan?” tanya Nyonya Lee. Ia terdengar sangat bangga, terlebih lagi ketika Yoona menganggukkan kepalanya.

MC2: Sebagai seorang ibu, ibu Jonghyun pastinya akan sangat bangga menunjukkan perkembangan anaknya yang tampan.

“Ini saat Jonghyun masih berumur tiga tahun dan ini saat ia berumur empat tahun,” terang Nyonya Lee sembari menceritakan mengenai masa kecil Jonghyun melalui foto-foto yang tercetak dalam album yang ada di pangkuan Yoona saat ini.

“Saat masih kecil dulu, Jonghyun sangat aktif dan cukup banyak bicara. Tetapi kurasa sekarang semakin dewasa, ia tumbuh menjadi lebih pendiam,” kata Nyonya Lee sambil tersenyum menatap salah satu foto masa kecil Jonghyun kemudian berganti menatap anaknya.

“Ia tidak terlihat seperti orang Korea.” Yoona menunjuk dan mengomentari salah satu foto Jonghyun.

Nyonya Lee menganggukkan kepalanya. “Itu saat ia duduk di sekolah dasar. Ia memang tidak terlihat seperti orang Korea sejak masih kecil. Kulitnya sangat putih dan wajahnya seperti orang asing. Saat ia lahir, aku sempat mengira ia adalah bayi Rusia,” cerita Nyonya Lee setengah bergurau.

“Kalau tidak salah saat kelas tiga, Jonghyun pernah tiba-tiba pulang ke rumah dan bertanya pada ayahnya mengenai apakah ia benar-benar orang Korea atau bukan. Rupanya teman-temannya mengira kalau ia bukan orang Korea sehingga Jonghyun berlari pulang untuk memastikan kebenaran darahnya pada ayahnya,” lanjut Nyonya Lee sambil tertawa mengingat masa itu.

Yoona ikut tertawa mendengarnya sementara Jonghyun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat ibunya membongkar kisah masa kecilnya.

“Apakah kau tahu kalau Jonghyun adalah murid teladan saat duduk di bangku sekolah menengah?” tanya Nyonya Lee.

“Ah, jeongmalyo? Eomonim, benarkah itu?” Yoona terlihat kaget dan menatap Jonghyun dengan tatapan kau-tidak-pernah-memberitahuku.

Nyonya Lee kembali menganggukkan kepalanya bersemangat. “Nilai-nilai akademiknya sangat bagus. Ia juga adalah salah satu atlet judo di sekolahnya. Guru-gurunya sangat menyayanginya.”

MC3: Ia benar-benar luar biasa!

MC1: Ibu Jonghyun sepertinya sangat bangga sekali pada putranya.

MC2: Tentu saja! Terlebih lagi dihadapan menantunya, tentu saja seorang ibu harus menceritakan prestasi putranya. Ia tentu harus membuat putranya terlihat sebagai yang terbaik diantara pria lainnya.

Eomma!” Jonghyun menegur ibunya. Ia tersipu malu mendengar ibunya bercerita mengenai masa sekolahnya dulu.

Wae? Kenapa kau melarang ibumu untuk bercerita? Menurutku kau benar-benar daebak!” Yoona kini menatap Jonghyun kagum, membuat lelaki itu semakin tersipu.

Eomonim, aku ingin mendengar cerita lainnya mengenai Jonghyun. Tolong ceritakan sebanyak mungkin padaku,” pinta Yoona dengan senyum manisnya pada ibu Jonghyun. Tentu saja Nyonya Lee dengan senang hati menyanggupi permintaan itu.

“Apakah kau sudah puas mengetahui kisah masa kecilku?” tanya Jonghyun.

Yoona menjawab pertanyaan Jonghyun dengan kekehan kecil. Saat ini mereka sedang duduk berdua di teras depan rumah Jonghyun.

“Jonghyun-ah,” panggil Yoona.

Jonghyun menoleh dan menatap Yoona dengan pandangan bertanya ketika gadis itu hanya tersenyum menatapnya.

Saengil chukhahaeyo,” ucap Yoona sambil tersenyum.

Jonghyun balas tersenyum. “Gomawo,” balasnya.

Lelaki itu kemudian mengulurkan kedua tangannya ke arah Yoona, membuat member SNSD itu menoleh padanya bingung.

Mwo?” tanya Yoona.

“Hadiahku,” kata Jonghyun.

“Tidak ada,” jawab Yoona singkat.

Ya! Bagaimana bisa kau tidak membelikanku hadiah?” protes Jonghyun.

Q: Apa kau benar-benar tidak menyiapkan hadiah apapun untuk suamimu?

Yoona: Ah, waeyo? Ia bilang ia tidak menginginkan apapun. Aku tidak tahu apa yang harus aku berikan, jadi aku belum membelikannya apa-apa.

“Bukankah kau berkata kalau kau sedang tidak menginginkan apa-apa?” sahut Yoona.

“Walaupun aku berkata seperti itu, seharusnya kau tetap membelikanku hadiah,” ujar Jonghyun tidak mau kalah.

“Aish, jinjja! Kau ini benar-benar!” Yoona menggerutu sebal melihat Jonghyun yang tiba-tiba merajuk.

Q: Apakah kau serius mengharapkan hadiah dari istrimu?

Jonghyun: Sebenarnya tidak. Sejujurnya, aku tidak terlalu memikirkan hadiah. Aku hanya suka menggodanya saja (tertawa).

MC4: Ia suka sekali menggoda Yoona.

MC1: Kurasa kebahagiaannya berasal dari situ.

“Baiklah, kalau begitu, apa yang kau inginkan?” tanya Yoona.

“Tidak ada.” Jawaban Jonghyun membuat Yoona membelalakkan kedua matanya kesal.

“Tapi walaupun begitu, kau tetap harus memberikanku hadiah,” sambung Jonghyun cepat.

Ya, Lee Jonghyun! Sebenarnya apa sih maumu? Semakin bertambah tua kau juga semakin menyebalkan!” Yoona menggerutu dengan suara yang pelan, namun masih bisa didengar oleh Jonghyun yang tertawa puas.

Araseo! Kalau begitu, sebagai ganti hadiahmu, aku akan mengabulkan satu permintaanmu,” ucap Yoona akhirnya.

“Benarkah? Apa kau akan mengabulkannya? Apapun itu?” Jonghyun bertanya sangsi.

Yoona mengangguk mantap. “Apapun. Asal kau tidak meminta yang aneh-aneh dan masih dalam batas wajar,” ujarnya.

Jonghyun terlihat tertarik dengan penawaran yang diberikan oleh Yoona. Kerutan kecil muncul di antara kedua alisnya, pertanda bahwa ia sedang berpikir keras.

“Aku benar-benar sedang tidak menginginkan apapun saat ini. Bagaimana jika kau memberikanku voucher untuk mengabulkan keinginanku? Jadi ketika aku sudah menemukan apa yang aku inginkan, aku baru akan menggunakannya,” usul Jonghyun.

Yoona menghela napasnya, tetapi ia menuruti apa kata Jonghyun. Ia mengambil selembar kertas dari dalam tas-nya dan menyobeknya memanjang seperti bentuk voucher. Ia lalu menuliskan sesuatu di kertas itu, menandatanganinya, dan memberikannya pada Jonghyun. Jonghyun menerima kertas yang diberikan oleh Yoona itu dengan senyum sumringah.

“Hanya satu permintaan,” kata Yoona.

Araseo,” sahut Jonghyun. “Gomawo!”

Saengil chukhahae.”

Jonghyun: Ini akan menjadi salah satu sejarah ulangtahun yang paling berkesan untukku. Biasanya aku tidak terlalu peduli dengan perayaan ulangtahun atau tradisi atau sebagainya. Hanya saja kali ini terasa begitu spesial bagiku karena aku memiliki orang-orang yang aku sayangi ada di sampingku.

Yoona: Untuk pertama kalinya selama hidupku, sejauh yang aku ingat, aku merasakan kehangatan dalam keluarga seutuhnya. Aku tidak pernah merasakan kehangatan seorang ibu—dan aku merasa bersyukur dan bahagia karena sekarang aku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Aku benar-benar berterimakasih pada ibu Jonghyun, dan tentunya juga pada ayahnya yang sudah menerimaku dengan baik.

TO BE CONTINUED

PREVIEW EPISODE 21 – TRIP IN BUSAN

“Apa ada tempat-tempat yang ingin kau kunjungi?” tanya Jonghyun.

“Ajak aku ke tempat-tempat yang biasa kau datangi,” pinta Yoona. “Aku ingin melihat semua tempat yang memiliki sejarah bagimu.”

Sesuai dengan permintaan Yoona, Jonghyun membawanya berkeliling Songdo, Busan. Jonghyun mengajak Yoona ke sekolah lamanya sebelum ia pindah ke Seoul. Kehadiran mereka berdua tentunya membuat kehebohan bagi para siswa disana, yang segera saja tidak menyia-nyiakan kehadiran dua idol sekaligus di sekolah mereka.

Setelah itu, Jonghyun juga membawa Yoona berkeliling ke tempat-tempat yang sering ia kunjungi dulu bersama teman-temannya. Menjelang sore hari, Jonghyun berhenti di sebuah gereja yang biasa di datangi oleh keluarganya.

“Dulu aku sering berpikir aku ingin menikah disini,” ungkap Jonghyun sambil menatap altar.

“Apakah kau ingin mewujudkannya?”

Rumah Jonghyun berada tidak jauh dari pantai, maka perhentian terakhir mereka hari itu jatuh pada pantai disana. Mereka hanya saling duduk bersebelahan dan berbicara mengenai banyak hal.

“Bukankah sudah lama sekali kita tidak pergi ke pantai berdua?” ujar Yoona.

Jonghyun: Sudah hampir setengah tahun berlalu sejak kita bertemu di acara ini. Banyak hal yang sudah berubah.

Yoona: Aku ingin kita lebih sering menghabiskan waktu bersama seperti ini.

.

please leave your comment

.

*Author’s Note : Miaan! Jeongmal mianhaeyo karena membuat kalian lama menunggu kelanjutan FF ini. Aku berusaha nyelesaiin FF ini di tengah-tengah kegiatan praktikum dan laporan. Semoga hasilnya nggak terlalu mengecewakan ya :’)

Oh ya, untuk permintaan Jonghyun kan belum disebutin nih. Ada yang punya ide Jonghyun bakal pake vouchernya buat apa? Hahaha xD

Advertisements

13 thoughts on “We Got Married: Episode 20 (Meet in Law)

  1. waaaa akhir ny di post juga nih ff,,seru deh Yoona sama ibu ny Jonghyun cepat akrab lagi,ah seneng,,,
    o apa ya kira2 permintaan Jonghyun ke Yoona,apa minta cium aja kali hahaha,abaikan,,,,
    yah pokok ny terserah Author saya selalu terima,dan apa pun itu selalu di tunggu,,Fighting!!

  2. aaaaaaaa jonghyun yoona kangen kangen ma ff ini.
    kurang moment ma keluarganya jong sebenernya. tp cukup udh buat senyum2 bagian minta hadiah itu sih.
    aaaaaaaa dan next eps yg buat penasaran wkt dpn gereja nih. ajak nikah beneran dpn tuhan dong jong itu yoona hihi

    ditunggu part selanjutnya

  3. Woowwww so sweet banget Deerburning…. dari voucher yang diberi Yoona akan minta apa ya kira2 Jonghyun…. ato dia simpan aja untuk kenang2 ? hehehehe

  4. akhirnya d post juga
    ud lma bgt nungg ini
    gmn kalo mnta yoona jd yeojachingunya dlk khdpn nyata hahaha
    next chap jgn lma” eon
    fighting

  5. sedih lah, ingat kalau ortu yoong udah cerai sejak yoong kecil.. gk merasakan hangat nya ibu
    apa yg bakal di minta jong?
    cie jalan” ke busan hahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s