Broken [EXO FF]

exobroken

Title :

Broken

Author :

Felicia Rena

Rating :

PG 13+

Genre :

Friendship, brothership, hurt, sad

Cast :

EXO members

Disclaimer :

I do not own EXO even if I want to.

Author’s Note :

This is just some random story. Beberapa hal random yang kutuliskan menjadi bentuk narasi cerita, setelah banyak browsing dan menonton video-video konser EXO, baik di Seoul maupun di Hongkong. Sebenernya udah lama pingin nulis tentang Kris, tapi rasanya nggak pernah sanggup buat menuangkan ide ke tulisan. Setelah satu bulan, akhirnya bisa nulis tentang mereka, walaupun ceritanya juga mungkin masih aneh, karena rasanya juga masih sedih dan berat buat liat mereka sekarang.

Hope you’ll enjoy the story.

.

Jika sebuah gelas jatuh dan pecah, maka sekalipun kalian berusaha untuk menyatukannya kembali, ia tidak akan pernah bisa kembali sama seperti semula. Seperti itulah yang terjadi pada kami. Kami sudah terpecah, dan kami juga tidak akan bisa kembali sama seperti semula. Kami seperti kepingan puzzle yang kehilangan satu bagiannya. Tidak akan pernah utuh lagi.

Neol chajaganda chueogi bonaen tingkeobel ttaranaseotdeon neverland. Geu gose naega neowa barabomyeo utgo isseo nan.”

Luhan mengangkat tangannya dan melambaikannya dengan semangat. Lidahnya tidak berhenti melantunkan lagu ‘Peterpan’ yang memang sedang mereka nyanyikan. Ia tersenyum manis dan sesekali melompat kecil dengan semangat.

Ketika sampai pada bagian rap, Luhan tiba-tiba menoleh dengan cepat ke arah belakang. Yang di dapatinya adalah Chanyeol yang sedang melagukan rap-nya dengan baik. Tidak sampai lima detik, Luhan sudah kembali menghadap ke arah fans. Ekspresi terkejutnya sudah kembali menjadi senyuman.

Rasa kecewa sedikit terbesit di hati Luhan. Saat mendengar suara Chanyeol tadi, selama sepersekian detik, ia mengira Kris-lah yang sedang melakukan rap. Bodoh memang. Ia tahu Kris tidak bersama dengan mereka lagi, jadi bagaimana mungkin ia berharap Kris tiba-tiba datang dan bergabung bersama mereka?

Luhan merutuki kesalahannya sendiri. Ia menyadari, jauh di dalam lubuk hatinya, ia berharap Kris akan muncul dan membuat kejutan untuk mereka di tengah konser. Ia berharap Kris akan bergabung bersama mereka dalam konser perdana EXO ini. Ia berharap Kris akan tetap tinggal bersama mereka dan tidak akan pergi meninggalkan mereka. Walaupun ia tahu, kemungkinan harapannya terkabul adalah nol besar. Karena pemuda berkebangsaan Kanada itu telah pergi meninggalkan mereka.

Sebelas laki-laki yang berdiri di atas panggung itu melambaikan tangan mereka. Mereka berpencar menyusuri panggung besar itu sembari menebar senyum untuk para fans yang hadir di konser perdana mereka itu. Ruangan besar itu nampak begitu dipadati oleh ribuan fans yang tidak henti meneriakkan nama masing-masing member. Ribuan lighstick dengan nyala putih bertaburan di sekeliling ruangan, menciptakan lautan galaxy yang indah. Para fans juga tidak lupa mengacungkan banner ataupun papan bertuliskan nama member maupun nama grup mereka, EXO.

Suho masih setia tersenyum dan sesekali melambaikan tangannya selagi mereka menyanyikan lagu ‘Peterpan’. Sepasang mata miliknya menjelajahi arena konser, membaca setiap banner yang terangkat. Saat itulah ia menangkap sebuah banner kecil bertuliskan sebuah nama, yang ditulis dengan warna perak menyala. Seketika itu juga hatinya mencelos dan senyum perlahan pudar dari wajahnya.

Kris.

Ya. Banner itu menyebutkan nama Kris, walaupun pemilik nama tersebut tidak ada di antara mereka. Suho merasa hatinya kembali teriris ketika mengingat fakta itu. Ia lalu memilih untuk berpaling ke arah lain, tidak sanggup untuk melihat nama itu lagi. Jangan salah paham. Suho tidak membencinya. Ia memang kecewa, tetapi ia tidak membenci Kris. Hanya saja, setiap kali melihat atau mendengar nama Kris, ia merasa kembali diingatkan bahwa partner leader-nya itu tidak ada lagi di antara mereka. Dan Suho akan merasa ada bongkahan batu besar yang menghantamnya. Sakit.

Sama seperti halnya Suho, Chen juga melihat nama itu tertulis di antara ribuan banner yang menuliskan nama mereka. Sedikit memang, atau mungkin yang dilihatnya adalah satu-satunya. Tidak heran jika mengingat bahwa Kris memang tidak bersama mereka lagi.

Chen segera mengalihkan pandangannya. Ia ingin menghindari melihat nama itu, tetapi nyatanya ia tidak bisa berhenti mencuri pandang ke arah banner Kris. Melihat namanya saja membuat rasa rindu membuncah dalam diri pemuda bersuara tinggi itu.

Ketika pertama kali melihat banner itu, Chen merasa marah. Apa yang dipikirkan fans itu sampai-sampai ia membawa banner bertuliskan nama Kris ke konser mereka? Apakah ia tidak mengetahui berita-berita yang tersebar di luar sana? Apakah ia berpikir bahwa Kris mungkin akan muncul secara tiba-tiba untuk mengejutkan mereka? Apakah ia tidak berpikir bagaimana perasaan member EXO lainnya jika melihat banner itu?

Sembilan member lainnya jelas telah melihat nama Kris muncul, dan mereka berusaha sekuat tenaga untuk tidak terus-menerus melihat ke arah sana. Mereka semua merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Suho dan Chen. Rasa sakit dan rindu yang bercampur menjadi satu.

“Belakangan ini, aku mempelajari Cantonese dengan sangat keras,” ucap Lay di atas panggung, diiringi sorakan dari para fans. “Jadi apakah tidak apa-apa jika aku banyak bicara hari ini?”

“Apakah tidak apa-apa? Apakah kalian ingin mendengarnya?” tambahnya dengan menggunakan bahasa Cantonese.

Beberapa hari sebelum konser perdana EXO di Hongkong, Lay memang serius mempelajari Cantonese. Hal ini tidak lain karena di orang-orang Hongkong menggunakan Cantonese dan ia ingin menyenangkan fans dengan berbicara dalam bahasa mereka.

Ini bukan pertama kalinya Lay mempelajari Cantonese. Sebelumnya, ia pernah mempelajarinya dari Kris. Hanya saja, saat itu ia tidak terlalu serius mempelajarinya. Saat mereka berada di Hongkong, Kris dengan senang hati akan menjadi juru bicara dan penerjemah yang baik, karena itu tidak ada dari member lainnya yang merasa perlu untuk mempelajari Cantonese.

Tetapi sekarang Kris tidak ada lagi bersama mereka. Jika saja pemuda jangkung itu tahu betapa mereka semua merindukannya berbicara dalam berbagai bahasa. Bukan hanya para member EXO, tetapi tentunya juga para fans di seluruh penjuru dunia.

Baby don’t cry tonight. The stormy winds that raid this night.”

Kelima member EXO-M menyanyikan lagu ‘Baby Don’t Cry’ di atas panggung konser di Hongkong. Semuanya tampak serius menyanyikan lagu itu, seolah begitu menghayati isi lagunya.

But the passion of this moment cannot be extended,rather I have to watch you go. So baby don’t cry, cry. Just let my love be like a memory.”

Kini bagian Tao untuk menyanyikan rap-nya sementara member lainnya berdiri dalam diam. Ekspresi wajah mereka semua menunjukkan kesedihan yang sama. Setelah bagian Tao, seharusnya adalah bagian Kris. Tetapi sekali lagi, pria itu tidak ada disana, maka Tao-lah yang mengambil alih bagiannya.

Say no more. No more.”

Sang maknae EXO-M itu berusaha melakukan semua bagiannya dengan baik. Ia berusaha keras mencegah supaya suaranya tidak bergetar karena ia ingin sekali menangis saat ini. Menggelikan bukan? Mereka sedang menyanyikan lagu yang mengandung kata jangan menangis di dalamnya, tetapi ia sendiri justru ingin menangis. Ia tidak ingin menyanyikan bagian Kris. Ia ingin Kris sendiri yang menyanyikan bagiannya. Tidak masalah bagi Tao jika bagian bernyanyinya sedikit, asalkan Kris tetap bersama mereka.

Tidak hanya Tao, begitu pula yang ada dalam pikiran Chanyeol dan Kai. Mereka bertigalah yang banyak mengisi kekosongan vokal Kris. Mereka memang harus profesional, tetapi adakah yang mengetahui jika rasa sakit itu menjalar setiap kali mereka menyanyikan bagian Kris? Selama ini mungkin mereka mendapatkan bagian bernyanyi paling sedikit, hanya satu atau dua baris setiap lagu, mengingat bagian rap yang sedikit harus dibagi diantara lima rapper yang ada. Dalam hati mereka, tentu keinginan untuk bernyanyi lebih banyak itu pernah muncul. Tetapi jika seperti ini, maka lebih baik bagian bernyanyi mereka tetap sedikit, asalkan dua belas member tetap menyanyikan bagian mereka masing-masing.

Suasana backstage tidak pernah seceria sebelum-sebelumnya. Sejak seseorang dari mereka memilih untuk pergi, keadaan memang tidak pernah sama lagi. Di depan kamera, mereka memang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Terlebih lagi setelah mereka mendapatkan teguran karena sikap mereka yang kentara begitu berbeda di M! Countdown pada hari itu, yang akhirnya membuat Suho harus naik ke atas panggung untuk pengumuman pemenang sendirian.

Tidak ada lagi suara tawa lepas yang terdengar. Mereka hanya berbicara dan tersenyum seperlunya. Baekhyun masih tetap menjadi mood maker di antara mereka dan berusaha untuk menaikkan mood para membernya. Ia membuat lelucon, menjahili membernya seperti biasa, namun tetap selalu berakhir dengan tawa yang dipaksakan dari kedua belah pihak.

Semua member nampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hanya beberapa yang mengobrol dan tertawa. Bahkan Chanyeol yang disebut sebagai happy virus-pun tampak murung kali ini, terlihat sama sekali tidak berniat mengeluarkan banyolan seperti biasanya.

Kai menatap nanar poster-poster promosi konser mereka yang tertempel di dinding. Berulangkali ia menghitung dalam hatinya, tetapi jumlah member yang ada disana tidak berubah. Tetap sebelas. Sebanyak apapun ia mengulang, jumlah member yang ada di dalam poster itu tidak berubah. Sekilas memang tidak terlihat ada yang hilang karena jumlah mereka yang banyak, tetapi tempat yang ditinggalkan Kris begitu nyata, dan kekosongannya begitu terasa.

Sulit rasanya untuk tidak mengingat Kris. Bagaimana mungkin mereka melupakannya walaupun hanya sejenak jika bahkan setiap kali mereka perform, mereka akan langsung mengingat member tertua ketiga itu. Setiap salah satu member mengambil alih kekosongan yang ditinggalkannya, secara otomatis pula mereka akan mengingatnya. Bersamaan dengan itu, luka yang tidak pernah kering dalam hati mereka juga akan kembali terbuka.

Lelah menyambut mereka bersebelas sesampainya di hotel. Kini tidak ada lagi acara berkumpul bersama di salah satu kamar hotel. Sebisa mungkin mereka ingin menghindari kumpul bersama, karena itu akan semakin menguatkan kenyataan bahwa mereka tidak lagi lengkap.

Sehun memandang ke luar jendela, mengamati pemandangan malam Hongkong yang indah. Hongkong adalah kota yang sangat mengingatkan mereka semua akan Kris. Mungkin itulah alasannya mengapa semua member terlihat sedih. Mereka semua kembali teringat akan Kris.

Suara isakan membuyarkan lamunan Sehun. Ia menoleh dan menemukan Tao duduk di atas tempat tidur dengan kepala tertunduk.

Sehun berjalan mendekatinya dan mengusap pundaknya pelan. Ia tahu, dan semua orang juga tahu, Tao adalah yang paling dekat dengan Kris. Ia sudah menganggap Kris sebagai sahabat, kakak, sekaligus seorang ayah. Di antara mereka bersebelas, mungkin Tao adalah yang paling kehilangan. Tao adalah yang paling marah dan kecewa pada Kris. Tao jugalah yang paling sedih dan terus-menerus menangis jika teringat pada Kris.

Ge—Kris ge—“ bisik Tao di sela isak tangisnya.

Sehun tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Kedua matanya sudah mulai memanas. Ia bisa melihat cairan itu sudah mengumpul di pelupuk matanya, menanti waktunya untuk turun.

Ge, aku merindukanmu,” ucap Tao lagi dalam bahasa Mandarin.

Ge, kembalilah. Kalau kau kembali, aku berjanji aku akan belajar untuk mandi sendiri. Aku tidak akan memintamu untuk menemaniku mandi lagi. Aku juga tidak akan memintamu untuk membelikanku sesuatu lagi. Jadi kumohon kembalilah, ge. Aku merindukanmu,” kata Tao diiringi tangisnya yang semakin kencang.

Sehun tidak lagi berusaha menahan airmatanya. Ia membiarkan dirinya ikut menangis. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Tao.

“Kris hyung, jika kau kembali, aku berjanji tidak akan bersikap manja dan menyusahkanmu lagi. Aku akan menjadi lebih dewasa dan menjadi dongsaeng yang bisa kau banggakan,” batin Sehun.

Ge, bukankah kau berkata kau ingin melakukan wushu di panggung tahun ini? Araseo. Kau boleh melakukannya. Kau bahkan boleh menggantikanku melakukannya kalau kau mau, tapi kembalilah dulu, ge.” Tao masih terus meracau dalam tangisnya.

Ge, tahukah kau kalau tadi aku terjatuh di atas panggung? Apa kau tidak khawatir padaku, ge? Apa kau sudah tidak peduli padaku?”

Pintu kamar terbuka dan masuklah Xiumin dengan D.O dibelakangnya. Mereka tidak terlihat terkejut mendapati dua maknae yang sama-sama tengah terisak itu. Mereka hanya terus berjalan mendekati Tao dan Sehun, lalu mengelus lembut punggung mereka. Xiumin memeluk Tao, sedangkan D.O memeluk Sehun. Hanya seperti itu, tanpa suara. Tidak ada yang perlu menjelaskan, karena mereka semua sedang merasakan hal yang sama.

Kris ge, tidak bisakah kau mendengar tangisan kami? Tidak tahukah kau kalau kami sangat merindukanmu? Kembalilah, ge. Kami merindukanmu.

Sebelas member kembali berkumpul untuk hari terakhir konser mereka di Hongkong. Tidak banyak yang berbicara. Semua sibuk dengan persiapan masing-masing.

“Ini hari terakhir kita. Ayo kita lakukan yang terbaik.” Suho memberikan semangat pada para membernya selagi mereka semua menumpukkan tangan masing-masing di atas yang lain.

We are one! EXO, saranghaja!”

Apa artinya mereka masih mengucapkan “we are one”, jika pada kenyataannya, salah satu di antara mereka pergi. Mereka sudah terpecah, tidak lagi utuh menjadi satu. Bagaimana mereka dapat menempuh perjalanan yang masih panjang di depan sana? Mereka tidak tahu. Bagaimana mereka sanggup bertahan melewati masa-masa sulit ini? Mereka juga tidak tahu.

Satu hal yang mereka tahu. Mereka tidak akan pernah sama lagi seperti dulu.

END

Hoping the best for all of them.

(*) On May 15, 2014, EXO Kris filled a lawsuit against S.M. Entertainment to terminate his contract.

Pada tanggal 15 Mei 2014, EXO Kris mengajukan tuntutan kepada S.M. Entertainment untuk membatalkan kontraknya,

Advertisements

5 thoughts on “Broken [EXO FF]

  1. Sediiiih dan sukses buat aku kangen sama kris aaaaaaa
    Kris jebal back to exo huhuhu

    Mantap author nyampe nih sedihnya ke reader

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s