(Heirs Fiction) The Story of Lee Bo Na and Yoon Chan Young: Episode 1

storyofbonachanyoung2

Title:

The Story of Lee Bo Na and Yoon Chan Young

[Teaser] [Before Story]

Author: Felicia Rena

Rating: PG 13+

Genre:

School life, friendship, romance, drama

Main Cast:

Krystal Jung as Lee Bo Na

Kang Minhyuk as Yoon Chan Young

Other Cast:

Park Shin Hye as Cha Eun Sang

Park Hyung Sik as Jo Myung Soo

Kim Woo Bin as Choi Young Do

Disclaimer:

The Heirs, Lee Bo Na, and Yoon Chan Young belongs to Kim Eun Sook. I do not own anything.

Author’s Note:

Tiga bulan lamanya sejak before story dipublish. Maaf karena lama buat publish kelanjutannya, tapi seperti yang sudah dijelaskan dipostingan announcement, bukan maksud menunda, tapi aku memang nyelesaiin FF ini dulu sebelum mulai publish lagi. Dan karena pengerjaannya sudah 90 persen, jadi FF ini aku publish lagi hari ini, bertepatan dengan 1 tahun blog Felicia Rena Fanfictions. Semoga masih bisa menghibur para ChanBona shippers yang kangen sama pasangan ini 🙂

.

.

.

“Tidak perlu dipaksakan. Aku mengerti,” ucap Chan Young sembari masih mendengarkan rajukan Lee Bo Na melalui sambungan telepon yang menempel di telinganya.

“Pergilah bersama orangtuamu. Jangan mengecewakan mereka,” lanjutnya.

“Tapi aku ingin menghabiskan waktu denganmu sebelum kau pergi ke Amerika!” Bo Na kembali merajuk.

Seperti biasanya, alih-alih merasa kesal, Chan Young justru mengulum senyum mendengar suara Bo Na yang menggerutu. Chan Young akan berangkat ke Amerika dalam beberapa hari dan Bo Na tentu tidak ingin melewatkan setiap waktu yang bisa ia gunakan untuk bertemu dengan lelaki itu sebelum mereka terpisah benua. Sayangnya, di saat ia ingin menghabiskan waktu bersama kekasihnya itu, orangtuanya justru menyuruhnya untuk ikut hadir dalam acara pertemuan bersama para rekan-rekan kerja mereka. Terang saja Bo Na merasa kesal, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi menolak.

“Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu di kafe tempat Eun Sang bekerja sambilan,” ujar Chan Young.

Ya! Kenapa harus di kafe itu? Shireo! Cari tempat lain saja!” tolak Bo Na.

Chan Young kembali tersenyum mendengar nada cemburu dalam suara Bo Na. Ia tahu jika gadisnya itu memang pencemburu, terutama pada sahabatnya, Cha Eun Sang.

“Aku ada perlu dengan Eun Sang,” terang Minhyuk. “Kalau kau khawatir, cepat selesaikan urusanmu dan segera datang ke kafe.”

“Aish! Yoon Chan Young, aku akan membunuhmu!” gertak Bo Na kesal. “Araseo! Araseo! Aku akan segera kesana! Jangan macam-macam dan tunggu aku datang, araseo? Kau mengerti?”

Chan Young tertawa geli membayangkan ekspresi wajah Bo Na yang pasti saat ini sedang sangat kesal. Wajah Bo Na dengan bibir mengerucut dan kening berkerut muncul begitu saja dalam benak Chan Young, membuatnya tidak bisa tidak tertawa.

Araseo. Araseo. Aku akan menunggumu, eoh? Sampai ketemu,” ucap Chan Young sebelum mengakhiri sambungan telepon.

Chan Young memasuki kafe tempat sahabatnya, Eun Sang bekerja paruh waktu. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok Eun Sang di balik counter sedang sibuk melayani pelanggan. Chan Young tersenyum dan memilih untuk duduk menunggu.

Tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Chan Young mengeluarkan buku pelajarannya. Ia membuka halaman tugas yang diberikan oleh gurunya di sekolah tadi dan mulai mengerjakannya.

Sekitar hampir tiga puluh menit kemudian, Eun Sang baru menyadari kehadiran Chan Young. Gadis itu sedang akan membereskan meja ketika ia melewati meja Chan Young. Eun Sang akhirnya menghampiri Chan Young.

“Sejak kapan kau ada disini?” tanya Eun Sang.

Chan Young mengalihkan perhatian dari bukunya dan menatap Eun Sang sambil tersenyum. “Sekitar tiga puluh menit yang lalu?” jawabnya.

“Kau tidak memesan apapun selama tiga puluh menit?” tanya Eun Sang lagi dengan nada tidak percaya.

Chan Young mendengus pelan. “Aku akan memesan jika Bo Na sudah datang. Ia hampir sampai,” sahutnya.

“Aish, jinjja—“ gerutu Eun Sang. “Apakah ini satu-satunya kafe di Seoul? Kenapa kau selalu—“

Ucapan Eun Sang terpotong ketika tiba-tiba Chan Young mengulurkan payung lipat padanya. Eun Sang menatap payung itu bingung. Chan Young menyodorkannya lagi pada Eun Sang, menyuruh gadis itu untuk mengambilnya.

“Apa?” tanya Eun Sang bingung.

“Hujan akan turun saat kau pulang kerja nanti,” jelas Chan Young sambil tetap menyodorkan payungnya.

Eun Sang akhirnya mengambil payung itu dan duduk di seberang Chan Young. “Bagaimana dengan pacarmu?”

Chan Young mengambil jaketnya dan memakai jaket itu untuk menutupi kepalanya. “Bo Na menyukai adegan seperti drama dalam film,” terangnya sambil tersenyum lebar.

“Aish, kau ini benar-benar—“ Eun Sang kehilangan kata-katanya sementara Chan Young mendengus tertawa.

“Kalau begitu kau harus segera mencari pacar,” kata Chan Young sambil melepas jaketnya dan menyimpannya kembali.

“Itu hanya membuang waktuku,” sahut Eun Sang. “Tiap jam yang kulalui tanpa mendapatkan bayaran adalah kemewahan yang tidak bisa kubayar.”

Chan Young menatap sahabatnya itu sambil menghela napasnya berat kemudian bertanya, “Berapa banyak pekerjaan yang kau miliki?”

“Aku tidak punya pilihan lain,” jawab Eun Sang. “Satu-satunya surga yang bisa kumasuki hanyalah Job Heaven, situs untuk mencari kerja.”

“Yoon Chan Young, beraninya kau!”

Chan Young dan Eun Sang refleks menoleh ke arah sumber suara yang baru saja menginterupsi perbincangan mereka. Lee Bo Na tampaknya baru datang dan sedang menatap mereka berdua dengan kesal. Eun Sang menghela napasnya melihat tatapan Bo Na sedangkan Bo Na tetap saja menatap Eun Sang dengan tidak suka.

“Kau sudah datang,” sapa Chan Young sambil tersenyum. Ia segera berdiri dan membereskan tas serta jaket yang tergeletak di kursi di sebelahnya supaya Bo Na bisa duduk.

“Aku sudah memberitahumu untuk berhenti merayu pacarku,” tuding Bo Na pada Eun Sang segera setelah ia duduk di sebelah Chan Young.

“Apakah aku terlihat secantik itu bagimu?” tanya Eun Sang.

Bo Na mendengus kesal. “Aku tidak mengatakan kalau kau cantik.”

“Itu benar, kau memang tidak mengatakannya,” sahut Eun Sang. “Tapi kau sendiri sangat cantik, jadi berhenti membuang waktuku.”

“Apakah kau akan memesan atau pergi?” lanjut Eun Sang sambil bangkit berdiri.

Daebak! Apakah kau diperbolehkan memperlakukan pelanggan seperti ini?” cecar Bo Na.

“Oh tidak, kau sudah mengetahuinya,” balas Eun Sang dengan nada yang dibuat-buat dan membuat Bo Na semakin merengut kesal sementara Chan Young tersenyum geli melihatnya.

“Chan Young-ah, kajja! Kau akan pergi besok,” ajak Bo Na sambil melompat berdiri. “Aku tidak ingin menghabiskan waktuku lebih lama lagi dengannya.”

Chan Young menatap Eun Sang dan Bo Na bergantian kemudian bangkit berdiri. Ia baru ingat akan tujuan kedatangannya ke tempat kerja Eun Sang. Ia berniat untuk memberitahu sahabatnya itu mengenai rencana kepergiannya ke Amerika.

“Kau akan pergi kemana?” tanya Eun Sang bingung. Chan Young tidak pernah berkata apa-apa soal dirinya akan pergi.

 “Aku hanya—“

Andwae! Tidak! Jangan beritahu dia atau aku akan marah! Kajja!” Belum sempat Chan Young melanjutkan kalimatnya, Bo Na sudah menutup mulutnya supaya tidak mengatakan apapun dan mengajaknya pergi.

Bo Na sudah menarik Chan Young menuju pintu ketika ia tiba-tiba berhenti dan menatap Chan Young. “Seingatku aku sudah memberitahumu untuk memakai sesuatu yang berwarna merah untuk dipasangkan ketika kau menggunakan baju putih atau beige,” ucapnya sambil memperhatikan penampilan Chan Young.

“Itu disebut konsep Summer Jingle Bell,” tambah Bo Na.

“Sepatuku berwarna merah,” sahut Chan Young sambil menatap dan menunjukkan sepatunya pada Bo Na.

Aigo! Itu bukan merah, itu merah tua! Kau ini!” omel Bo Na.

Eun Sang memutar matanya. Memang apa bedanya merah dan merah tua? Bukankah mereka sama-sama merah? Ia menggelengkan kepalanya dan mendengus geli.

Kajja!” Bo Na kembali menarik Chan Young keluar dari kafe itu. Chan Young membiarkan dirinya ditarik oleh Bo Na sambil menatap Eun Sang.

Mianhae. Maaf karena aku sudah mengambil waktumu,” kata Chan Young sambil melambaikan tangannya.

“Lagipula disini tidak ada pelanggan,” potong Bo Na.

“Aku akan mengirimimu pesan,” ujar Chan Young lagi pada Eun Sang.

“Jangan berani-berani kau melakukannya!” ancam Bo Na sambil terus menarik Chan Young keluar. Eun Sang hanya menatap mereka sambil menghela napasnya.

Di luar kafe, Bo Na berjalan cepat sekali dengan wajah di tekuk. Chan Young menyusul di belakangnya sambil sesekali mengacak-acak rambut kekasihnya itu karena merasa gemas dengan tingkahnya.

“Aku tidak menyukai Cha Eun Sang! Aku membencinya! Aku sangat membencinya!” Bo Na masih menggerutu kesal sepanjang perjalanannya dengan Chan Young.

Kekesalan Bo Na sepertinya sudah memuncak sehingga ia menjadi begitu meledak-ledak. Ia tidak bisa menghabiskan waktunya bersama Chan Young malam itu dan kini ditambah dengan ketidaksukaannya pada Cha Eun Sang, sahabat Chan Young selama lebih dari separuh hidup lelaki itu. Ugh, memikirkan hal yang terakhir itu sungguh membuat rasa kesal Bo Na sampai ke ubun-ubun.

“Bisakah kau tidak membencinya?” tanya Chan Young sambil menahan senyum melihat ekspresi wajah Bo Na.

“Sekarang aku semakin membencinya karena kau meminta hal itu,” tukas Bo Na. “Ia orang miskin dan memandang rendah diriku. Dia tidak menganggapku sama sekali.”

“Ia tahu tentang masa kecilmu yang tidak aku ketahui. Itu benar-benar menyebalkan!” Bo Na  terus menumpahkan kekesalannya. Ia ingin Chan Young tahu kalau rasa tidak sukanya pada Eun Sang bukan tidak beralasan. Ia kesal jika ada gadis lain yang mengenal Chan Young melebihi dirinya. Bo Na hanya ingin menjadi satu-satunya gadis yang paling mengerti Chan Young.

“Marah-marah hanya akan membuatmu menua,” ujar Chan Young santai.

“Ah, aku tidak bisa menghindarinya hari ini!” Bo Na melipat kedua tangannya di dada dan memeluk tas merahnya.

Aigoo—“ Chan Young mengacak rambut Bo Na, gemas melihat wajah gadis itu yang terus-menerus ditekuk.

 “Ini benar-benar tidak adil,” keluh Bo Na lagi.

“Eun Sang dan aku hanya berteman. Kami sudah berteman selama setengah dari umurku. Tidak bisakah kau percaya padaku?” jelas Chan Young.

“Tidak mungkin! Pria dan wanita tidak akan pernah bisa hanya menjadi teman!” seru Bo Na sebelum berjalan pergi meninggalkan Chan Young yang tertawa melihatnya.

Ya! Lee Bo Na!” Chan Young bergegas mengejar Bo Na dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya setiap kali ia bersama kekasihnya itu.

“Berhenti menekuk wajahmu seperti itu,” ujar Chan Young setelah ia berhasil menyusul Bo Na, yang di luar dugaan memiliki kecepatan berjalan yang cukup mencengangkan. “Aku lebih suka melihatmu tersenyum.”

Bo Na berhenti berjalan dan berbalik menatap Chan Young. Garis-garis wajahnya yang semula tegang kini mulai mengendur. Wajahnya yang polos kini menatap Chan Young penuh selidik.

“Benarkah?” tanyanya.

Chan Young menganggukkan kepalanya mantap. “Tentu saja! Kau terlihat cantik saat tersenyum dan aku suka melihatnya. Maka dari itu, jangan memasang wajah cemberut lagi, araseo?” ucap Chan Young dengan nada seolah ia sedang berbicara dengan anak umur lima tahun.

Sudut bibir Bo Na mulai tertarik membentuk senyuman malu. Ia menundukkan wajahnya dan Chan Young bisa melihat semburat merah yang muncul di kedua pipinya. Chan Young terkekeh, masih tidak percaya jika rayuan sederhananya sudah mampu membuat seorang Lee Bo Na tersipu seperti itu.

Kajja. Kita pergi ke tempat manapun yang kau mau,” ajak Chan Young sambil mengulurkan tangannya.

Bo Na mengangkat wajahnya dengan senyum sumringah. Kini ekspresinya berbeda 180 derajat dibandingkan dengan tadi. Alih-alih meraih tangan Chan Young yang terulur, Bo Na justru memeluk lengan lelaki itu.

Kajja! Kau adalah milikku sampai nanti sore, Yoon Chan Young! Aku tidak akan melepaskanmu!” ujar Bo Na.

Chan Young tertawa melihat ekspresi serius Bo Na dan kembali mengacak rambut gadis itu untuk yang kesekian kalinya.

Chan Young melihat ke luar jendela. Hujan turun cukup deras di luar sana. Ia tersenyum dan kembali ke dapur tempat ia dan ayahnya sedang memasak makan malam mereka.

“Kupikir kau bersama dengan Bo Na hari ini. Kenapa kau tidak makan dengannya?” tanya Yoon Ji Hoo, ayah Chan Young.

“Aku ingin makan bersamamu,” jawab Chan Young, walaupun alasan sebenarnya adalah karena Bo Na memiliki acara lain bersama orangtuanya. Setidaknya ia bisa memanfaatkan waktu ini untuk makan bersama dengan ayahnya, hal yang sudah lama mereka lakukan. “Aku tidak ingin kau makan sendirian. Lagipula diluar sedang hujan.”

“Apakah pernah terpikir olehmu kalau sebenarnya kau sedang merusak Jum’at malamku?” tanya Ji Hoo lagi sambil memotong wortel.

Appa, apakah kau punya pacar?” Chan Young balas bertanya.

Ji Hoo menghentikan kegiatannya memotong wortel. “Itulah tepatnya yang kau rusak,” jawabnya tak acuh.

Appa seharusnya memotong wortel lebih kecil daripada kentang.” Chan Young mengomentari potongan wortel ayahnya.

“Kenapa?” tanya Ji Hoo.

“Kentang memiliki kandungan air yang lebih banyak,” jelas Chan Young sambil merapikan meja makan. “Mereka lebih cepat matang daripada wortel. Jadi kalau kau memasaknya bersama, ukuran wortel harus lebih kecil dari kentang. Dengan begitu mereka akan matang bersamaan.”

“Kalau begitu aku hanya perlu memasak mereka secara terpisah,” sahut Ji Hoo.

“Waktu memasak akan jadi lebih lama tetapi mereka tidak akan memiliki rasa yang berbeda. Lagipula itu tidak efisien,” balas Chan Young.

“Sekarang katakan itu lagi dalam bahasa Inggris!” perintah Ji Hoo.

Chan Young berpikir sesaat kemudian tertawa. “Ah, kau tahu kelemahanku. Bagaimana aku bisa mengalahkan appa?”

“Apakah aku harus mencuci piring nanti?” tanya Chan Young.

“Urus laundry juga. Aku menghabiskan banyak uang untukmu hari ini,” sahut Ji Hoo.

Chan Young menghela napasnya. “Kau sudah membeli tiket pesawat?”

“Ya,” jawab Ji Hoo. “Kau sudah memberitahu Bo Na kalau kau akan pergi ke Amerika?”

“Aku sudah memberitahunya. Ia ingin ikut pergi,” ujar Chan Young.

“Kau akan tinggal bersama di Amerika?” timpal Ji Hoo.

“Kau ingin mendukungku?” tanya Chan Young.

“Itu akan menjadi investasi yang buruk,” balas Ji Hoo.

Chan Young  menanggapi balasan ayahnya dengan tawa. Ia masih ingat ketika pertama kali mengabarkan tentang rencana kepergiannya itu pada Bo Na. Gadis itu langsung mengatakan kalau ia juga akan ikut pergi bersama Chan Young. Oh, bahkan Bo Na nyaris menangis saat Chan Young mengatakan bahwa ia tidak perlu melakukannya.

Mereka hanya akan terpisah benua selama beberapa waktu, tetapi rasanya sudah begitu berat. Bagaimana jika suatu saat nanti mereka berpisah? Memikirkannya saja sudah membuat Chan Young merasa pening. Dengan segera ia menggelengkan kepalanya dan menyingkirkan pikiran itu dari otaknya. Ia tidak ingin hal itu terjadi.

“Kacau! Aku rasa aku sedang kacau! Benar-benar kacau!” seru Bo Na sambil berbaring di sofa yang ada di studio milik Jo Myung Soo. “Chan Young tidak mengangkat telepon dariku.”

“Kau dalam masalah,” sahut Myung Soo, mencoba untuk menggoda Bo Na. “Bisakah kau membayangkan betapa seksi-nya gadis-gadis Amerika?”

Seperti dugaannya, Bo Na mengangkat kepalanya dengan cepat mendengar ucapan Myung Soo.

“Mereka tidak kurus seperti kau. Mereka memiliki bentuk tubuh yang bagus. Bayangkan saja bagaimana bentuk punggung mereka,” tambah Myung Soo. Dalam hatinya ia terkekeh geli melihat perubahan ekspresi yang ditampilkan oleh Bo Na.

Ya! Kau pikir Chan Young seperti dirimu?” Bo Na langsung bangkit dan duduk sambil menatap kesal Myung Soo.

“Itu yang terjadi padaku. Aku yakin ia tidak seperti diriku,” ujar Myung Soo. “Tetapi kenapa ia tidak menjawab teleponmu?”

“Ah, ia pasti sedang sangat sibuk atau ia tidak tahu aku menelepon,” balas Bo Na, mencoba mencari alasan untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Kenapa gadis-gadis selalu merasa khawatir walaupun mereka sudah tahu jawabannya?” tanya Myung Soo heran.

“Karena itu membuat kami merasa lebih baik,” jawab Bo Na ketus, kemudian ia kembali berbaring di sofa.

“Benar-benar aneh,” gumam Myung Soo.

Myung Soo menoleh ketika ia mendengar suara pintu dibuka. Choi Young Do masuk ke dalam dan disambut oleh Myung Soo. Pandangan Young Do lalu jatuh pada Bo Na yang masih dalam posisi berbaring sembari memainkan kacamata hitam miliknya dengan wajah cemberut.

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Young Do pada Myung Soo tanpa mengalihkan pandangannya dari Bo Na.

“Itu bukan urusanmu!” sahut Bo Na sambil balas menatap Young Do.

“Kau terlihat seperti sedang memiliki masalah,” kata Young Do.

Bo Na kembali mengubah posisinya menjadi duduk. “Bisakah kau menghentikan ketertarikanmu padaku?” tanya Bo Na.

“Aku tidak bisa melakukannya,” balas Young Do lalu menatap Bo Na menggoda. “Kau terlalu cantik.”

 Myung Soo menatap Young Do aneh mendengar ucapan laki-laki itu, begitu juga dengan Bo Na.

“Ya, aku memang layak untuk diperhatikan,” ujar Bo Na. “Kalau begitu aku harus meneleponnya!”

Bo Na mencari ponselnya dan menghubungi Chan Young, mengabaikan Young Do dan Myung Soo yang saling bertukar pandang. Telepon tersambung dan tidak lama kemudian suara Chan Young terdengar.

Yeoboseyo? Chan Young-ah!” seru Bo Na girang. Wajahnya yang semula suram langsung berubah cerah.

“Kau mengagetkanku,” sahut Chan Young di seberang sana.

“Aku meneleponmu empat kali hari ini. Kenapa kau tidak menelepon balik?” tanya Bo Na.

“Karena kau selalu meneleponku sebelum aku melakukannya,” jawab Chan Young.

How much is it?” Bo Na mendengar suara Chan Young sedang menanyakan sesuatu. Sepertinya pada orang lain yang berada di dekat laki-laki itu saat ini.

It’s ten dollars. Can I get you something else?” Kali ini Bo Na mendengar suara seorang wanita menjawab pertanyaan Chan Young.

“Oh, aku mendengar suara seorang wanita! Kau sedang berbicara dengan siapa?” tanya Bo Na dengan nada curiga dan kesal.

“Seorang wanita yang penampilannya akan membuatmu sangat cemas,” sahut Chan Young sambil tersenyum geli membayangkan ekspresi Bo Na.

“Apakah kau menduakanku?” tanya Bo Na lagi membuat Young Do dan Myung Soo menoleh ke arahnnya. “Biarkan aku bicara padanya!”

“Kau sudah mendengarnya tadi,” ujar Chan Young. “Aku tidak bisa belajar karena aku merindukanmu. Apa yang akan kau lakukan tentang itu?”

Bo Na mendengus pelan. “Aku sangat senang! Apakah kau tidak akan mengecek SNS-mu? Aku meng-upload fotoku sedang menangis,” kata Bo Na.

“Chan Young tidak akan kembali,” bisik Young Do pada Myung Soo. Bo Na mendengarnya dan mencibir pada mereka.

“Apa? Aku tidak mendengarmu.” Bo Na meminta Chan Young untuk mengulang ucapannya.

“Aku me-nonaktifkan SNS-ku. Aku tidak bisa fokus belajar,” ulang Chan Young.

“Apa kau tidak bisa mengeceknya? Ayolah,” bujuk Bo Na dengan nada manja.

“Hanya ia yang bisa tetap terlihat cantik saat sedang memohon,” gumam Young Do sambil memperhatikan Bo Na.

Araseo. Aku akan mengeceknya,” kata Chan Young akhirnya. “Aku akan meneleponmu kalau aku sudah pulang. Tunggu aku.”

Selama hampir dua jam setelah panggilan telepon itu berakhir, Bo Na terus berjalan mondar-mandir di studio Myung Soo. Ia menggigiti ibu jarinya dengan gelisah. Di dekatnya, Young Do dan Myung Soo mengamatinya sambil memakan pizza.

Wae? Ada masalah apa lagi?” tanya Myung Soo yang tidak betah melihat Bo Na terus mondar-mandir.

“Bagaimana bisa ini terjadi? Aku memberitahunya aku meng-upload fotoku sedang menangis. Bagaimana mungkin tidak terjadi apapun selama dua jam!” ungkap Bo Na.

Ya, aku memberitahumu sebagai seorang oppa—“ Young Do mencoba untuk mengungkapkan pendapatnya.

Oppa apaan!” gerutu Bo Na.

“Menurutku tidak ada laki-laki yang kukenal yang menyukai foto menangis,” lanjut Young Do tanpa mempedulikan interupsi menggerutu Bo Na.

“Lalu, apa yang mereka suka?” tanya Bo Na.

“Daripada foto menangis, kami lebih menyukai koten yang lebih dewasa,” sahut Young Do. Myung Soo tertawa menyetujui. Mereka berdua kemudian bertukar high-five tanpa mempedulikan Bo Na yang menatap mereka berdua jijik.

Upload foto yang menunjukkan keseksianmu,” usul Young Do, membuat Bo Na menghela napasnya.

“Aku bertaruh semua uang dan tanganku kalau ia akan segera naik pesawat untuk kembali kesini,” tambah Myung Soo meyakinkan.

Ya! Chan Young tidak seperti itu! Minta maaf padanya sekarang!” seru Bo Na kesal. Chan Young-nya jelas berbeda dengan dua lelaki mesum di depannya ini. “Amerika ada di sebelah mana? Berlututlah ke arah itu!”

“Jika ia tidak seperti itu, berarti ia memiliki kelainan! Ia adalah siswa SMA berumur 18 tahun!” balas Myung Soo tidak mau kalah.

“Putuskan saja hubunganmu dengannya.” Young Do kembali memberikan usulnya. “Putuskan saja ia dan kencan dengan Myung Soo.”

“Apa kau sudah gila?” sahut Bo Na geli. “Benarkah? Apakah aku sedang mabuk atau apa?”

“Kau tidak harus mengatakannya sebanyak tiga kali! Ya!” ucap Myung Soo kemudian menambahkan, “tapi kau tidak buruk.”

Ya! Jangan membuatku ada di antara kalian,” kata Bo Na pada Young Do dan Myung Soo. “Kalian berdua terlihat cocok. Kalian seharusnya pacaran!”

“Jangan berkata seperti itu!” sahut Myung Soo, tetapi kemudian ia menatap Young Do dan berkata sambil tersenyum, “tapi kau tidak buruk.”

“Tutup mulutmu,” balas Young Do.

Bo Na tersenyum geli melihat kedua temannya itu. Untuk sesaat, perasaannya menjadi lebih baik.

“Kau berprasangka pada gender ketika sudah bicara tentang cinta?” ucap Myung Soo. “Ayo kita putus.”

“Kau sangat cute sampai aku ingin memukulmu,” kata Young Do.

Myung Soo kemudian menunjukkan wajah imutnya dan membuat Bo Na berpura-pura muntah melihatnya.

Ya! Itu sangat lucu sampai sepuluh detik yang lalu. Jangan melewati batas,” ujar Bo Na.

Ya! Garis batas itu ada untuk dilewati!” balas Myung Soo. “Lihat saja Yoo Rachel! Ia sudah melewati batas. Ia pergi ke Amerika untuk menemui Tan.”

“Kau juga harus pergi! Berhenti mengganggu kami!” lanjut Myung Soo.

Ya Jo Myung Soo! Jangan pernah kau bicara tentang Kim Tan di depanku,” kata Bo Na memperingatkan. Ia masih saja tetap merasa kesal jika mengingat tentang Kim Tam.

“Aku ada di sampingmu,” sahut Myung Soo.

“Kenapa kau hanya mendengarkan? Kau juga tidak suka mendengar tentang Kim Tan kan?” tanya Bo Na pada Young Do.

Young Do menatap Bo Na sesaat sebelum menjawab, “Myung Soo bisa membalas lebih baik dari yang aku lakukan. Karena itu aku tidak melakukan apa-apa.”

“Dan Lee Bo Na membalas lebih baik dariku,” timpal Myung Soo.

“Diam kalian!” seru Bo Na sambil mengambil dua bantal dan melemparnya ke masing-masing Young Do dan Myung Soo.

“Oh!” Bo Na terlihat seperti baru menyadari sesuatu. Young Do dan Myung Soo menoleh ke arahnya, menunggu apa yang akan dikatakan gadis bermarga Lee itu.

“Jika garis batas ada untuk dilewati, apakah itu berarti aku harus menyusul Chan Young ke Amerika?” tambahnya mengulang ucapan Myung Soo beberapa waktu lalu.

Young Do dan Myung Soo kompak meledak dalam tawa. Bo Na memicingkan matanya ke arah mereka berdua, merasa tidak terima karena di tertawakan.

Young Do bangkit berdiri dan mendekati Bo Na. Ia mengangkat tangannya dan mengacak-acak rambut Bo Na. “Jangan bermimpi untuk melakukan itu, kau anak kecil,” ucapnya geli.

Ya! Singkirkan tanganmu dari kepalaku! Hanya Chan Young yang boleh menyentuhnya, kau menyebalkan!” geram Bo Na sambil menepis tangan Young Do.

Lelaki itu terkekeh dan kembali ke tempat duduknya. “Temperamen sekali kau ini. Tidak heran kalau Chan Young kabur ke Amerika,” komentarnya.

Ya! Choi Young Do, kau mau mati?” teriak Bo Na, diiringi tawa Young Do yang merasa puas karena sudah menggodanya.

Bo Na kembali menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Matanya kembali terarah pada layar ponselnya yang masih saja diam tanpa suara. Ia menghela napasnya kesal. Dua setengah jam dan masih saja tidak ada tanda-tanda kalau Chan Young akan menghubunginya. Apakah Chan Young tidak tahu kalau ia sangat merindukannya? Apakah laki-laki itu tidak merindukannya?

Oh, Yoon Chan Young, awas saja kau nanti! Batin Bo Na.

to be continue

Please leave your comment

Advertisements

18 thoughts on “(Heirs Fiction) The Story of Lee Bo Na and Yoon Chan Young: Episode 1

  1. mhihihi..
    lucu niiih lucu..
    bo na kl lg ksel lucu..
    kkkkk~~
    aku nungguin loh mereka ini..
    aku shipper mereka, terima kasih sdh mau ngebuat dlm bntuk ff bgni…
    jadi lbh puas ajj gitu ngebayangin interaksi mereka, kl di the heirs kn ga puas..

  2. pengen banget baca versi indo dari sejarah chanbona….gimana mereka jadian….perjuangan chanyoung dapetin bona…..pernah baca sih tapi versi inggris….jadi pengen banget nemun yang versi indo…

  3. hallo author! aku baru baca ff ini kkk lucu bgt ffnya berasa nonton The Heirs lg 😀 bisa terbayang jelas nih di otak wkwk
    good job author! ditunggu update selanjutnya^^

  4. halo author! aku baru baca ini ff kk ffnya bagus bgt berasa nntn the heirs lg 😀 ditunggu update selanjutnya^^

  5. aaaaaah akhirnya yg di tunggu2 di update juga, maaf aku telat bacanya 😦 1 kalimat buat ff ini: Aku Sangat Suka Banget. berasa nonton heirs lagi, banyakin imajinasi kamunya dong kyk tadi waktu mau kencan coba di tulisin gimana waktu mereka kencan pasti lebih seru. oke segitu aja di tunggu lanjutannya wajib itu dan jangan pake lama lagi ya, seminggu sekali update boleh lah yayaya /merayu/ xD semangaaaaaat

  6. aaaaaah akhirnya yg di tunggu2 di update juga, maaf aku telat bacanya 😦 1 kalimat buat ff ini: Aku Sangat Suka Banget. berasa nonton heirs lagi, banyakin imajinasi kamunya dong kyk tadi waktu mau kencan coba di tulisin gimana waktu mereka kencan pasti lebih seru. oke segitu aja di tunggu lanjutannya wajib itu dan jangan pake lama lagi ya, seminggu sekali update boleh lah yayaya /merayu/ xD semangaaaaaat

    aku janji share biar banyak yg baca dan komen supaya cepat di lanjut

  7. Next..Next..
    Ehmm.. adegan diluar drama lebih dibanyakin dong, pengen liat interaksi mereka selepas skenario the heirs ^^
    Gomawo udah update 🙂

  8. pertama gomawo thor udah buat & publish ff ini;;)
    aku berasa nonton the heirs lagi:D
    ngebayangin wajah bona yg kesel sama chanyoung yg selalu senyum itu cute banget♡
    aku chanbo shipper thor atau lebih tepatnya hyukstal shipper *ga ada yg nanya* oke abaikan.
    FF ini harus di next secepatnyaa!! Jebal thor !!
    Keep writing & Fighting !! ^^

  9. LOL.. Di film aslinya adegan ini yang aku suka.. Saat Bo Na telepon sama Chan Young 😀 mereka itu cute banget. Oke aku suka sama ide cerita kamu thor yang meringkas setiap moment mereka.. Terus semangat. Fighting ! 🙂

  10. bahasanya gampang di cerna. jdi gampang jg bayanginnya.. wlaupun uda liat the heirs. ttp aja aku suka penggambaran mreka d ff ini:)

  11. y ampun mirip yg ada di dramanya, ternyata dijadiin ff lebih lucu, aduh… jadi pengen punya hubungan kyk chabon 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s