(Heirs Fiction) The Story of Lee Bo Na and Yoon Chan Young: Episode 2

storyofbonachanyoung2

Title:

The Story of Lee Bo Na and Yoon Chan Young

[Teaser] [Before Story] [Episode 1]

Author: Felicia Rena

Rating: PG 13+

Genre:

School life, friendship, romance, drama

Main Cast:

Krystal Jung as Lee Bo Na

Kang Minhyuk as Yoon Chan Young

Other Cast:

Park Shin Hye as Cha Eun Sang

Choi Won Young as Yoon Jae Ho

Super Junior Kim Heechul

Disclaimer:

The Heirs, Lee Bo Na, and Yoon Chan Young belongs to Kim Eun Sook. I do not own anything.

Author’s Note:

Sebelumnya, sekedar penjelasan ulang aja ya, FF ini memang mengambil alur yang sama dengan The Heirs, tetapi fokus pada ChanBona couple. Jadi FF ini bakal tetap memiliki alur dan jalan cerita yang sama dengan The Heirs, hanya akan ada tambahan-tambahan cerita atau side story mengenai Chan Young dan Bo Na. Semoga bisa menghibur dan mengobati rasa kangen kalian sama pasangan ini. Hope you’ll enjoy this fanfic.

.

.

.

Bo Na melangkah riang memasuki gedung sekolahnya. Setelah hampir semalaman ia tidak berhenti memikirkan Chan Young yang masih belum juga menghubunginya, akhirnya hari ini ia memutuskan untuk melupakan sejenak mengenai lelaki itu. Hari ini ia akan ikut mempersiapkan film event yang akan diikuti oleh klubnya dan ia merasa sangat bersemangat untuk melakukannya. Setidaknya sibuk bisa membuatnya berhenti memikirkan Chan Young selama beberapa saat.

Baru beberapa langkah masuk ke dalam gedung sekolah, Bo Na melihat seorang pria paruh baya yang berjalan turun dari tangga. Bo Na mengenali lelaki itu sebagai Yoon Jae Ho, ayah dari Yoon Chan Young.

 “Abeonim!” panggil Bo Na dengan senyum lebar di wajahnya. Ia kemudian berlari kecil menghampiri Jae Ho.

Ahjushi!” Jae Ho membetulkan panggilan Bo Na pada dirinya, walaupun ia tahu Bo Na akan berpura-pura tidak mendengar koreksinya, seperti yang biasanya dilakukan oleh gadis itu.

“Apa yang kau lakukan di sekolah saat liburan musim panas seperti ini?” tanya Jae Ho.

“Aku sedang bersiap-siap untuk film event. Bagaimana denganmu, abeonim?” jawab Bo Na.

“Aku ada urusan bisnis disini,” sahut Jae Ho, “dan sudah kukatakan panggil aku ahjushi.”

Bo Na mengerucutkan bibirnya lucu. “Chan Young pasti sudah menemukan pencerahan di Amerika. Ia tidak menghubungiku. Ia berbicara pada gadis Amerika. Kurasa ia menduakanku,” adunya.

Geurae? Benarkah? Anakku sungguh brengsek.” Jae Ho berpura-pura marah.

“Bagaimana bisa kau menyebut pacarku brengsek?” Bo Na tidak terima dengan ucapan Jae Ho.

Jae Ho tersenyum kecil. Ia tertawa dalam hati melihat ekspresi kesal Bo Na karena ia mengatai anaknya sendiri—yang adalah kekasih gadis itu—brengsek. Ini sangat lucu, batin Jae Ho.

“Kau harus menjaga Chan Young. Ia bisa saja menyukai gadis lain,” kata Jae Ho.

“Gadis lainlah yang selalu menyukainya lebih dulu,” sahut Bo Na yakin. “Anda tahu Cha Eun Sang atau siapapun.”

Jae Ho mengangkat sebelah alisnya mendengar Bo Na menyebut nama Cha Eun Sang.

“Aku tidak menyukainya! Jadi jangan terlalu baik padanya,” tambah Bo Na. Ia kemudian tersenyum manis. “Hati-hati di jalan pulang, abeonim.”

Bo Na menunduk memberi hormat pada Jae Ho sambil tesenyum sebelum berlalu.

“Sudah kubilang ahjushi!” Jae Ho otomatis membenarkan seperti yang selalu dilakukannya.

Ajhushi itu film yang dibintangi Won Bin,” balas Bo Na sambil menoleh ke arah Jae Ho.

Jae Ho menatap Bo Na yang berlari kecil menaiki tangga kemudian tersenyum geli dan menggelengkan kepalanya. Ia mengerti kenapa Chan Young—dengan kepribadiannya yang seperti itu—memilih untuk menambatkan hatinya pada seorang Lee Bo Na. Gadis itu sangat menarik dan menggemaskan.

Chan Young dan sahabatnya, Cha Eun Sang berjalan menyusuri jalanan sembari memakan lollipop di tangan mereka. Siapa yang menduga mereka akan bertemu di Amerika seperti ini? Lee Bo Na pasti akan mengamuk jika sampai ia mengetahuinya. Memikirkan hal itu tiba-tiba saja memberikan Chan Young sebuah ide jahil.

 “Ayo kita mengambil foto,” ajak Chan Young sambil menyiapkan ponselnya dan membuka aplikasi kamera.

“Ayo!” Eun Sang menyetujui ide Chan Young.

Chan Young memegang ponselnya sambil menghitung mundur, “Hana, dul, set!”

“Kau memostingnya ke SNS?” tanya Eun Sang ketika melihat Chan Young masih mengotak-atik ponselnya.

“Hum,” jawab Chan Young sambil tersenyum. “Aku ingin menunjukkan sesuatu yang lucu padamu.”

“Apa itu?” tanya Eun Sang penasaran.

“Hitung sampai tiga,” ujar Chan Young sambil menunjukkan layar ponselnya pada Eun Sang.

“Hana, dul, set,” hitung Eun Sang sambil memperhatikan layar ponsel Chan Young.

Tepat setelah hitungan ketiga, ponsel Chan Young berdering. Nama Bo Na muncul di layar ponsel itu. Eun Sang membelalakkan matanya tidak percaya melihatnya.

“Lihat! Bukankah ia sangat lucu?” kata Chan Young yang terdengar bangga.

“Aku akan membunuhmu! Apa kau ingin melihat Bo Na menjambakku?” seru Eun Sang yang merasa kesal.

“Oh! Akan menyenangkan melihatnya,” sahut Chan Young tanpa dosa.

“Aku akan membunuhmu!” ulang Eun Sang sambil menginjak kaki Chan Young.

“Tunggu sebentar,” ujar Chan Young sambil tertawa kemudian mengangkat panggilan dari Bo Na. “Yeoboseyo?”

Bo Na men-scroll ponsel-nya dengan raut wajah bosan. Ia masih menantikan Chan Young untuk menghubunginya, tetapi lelaki itu sama sekali belum melakukannya. Bo Na mengerucutkan bibirnya. Apakah lelaki itu terlalu sibuk belajar sampai-sampai tidak punya waktu untuk sekedar menghubunginya? Ya, Bo Na mencoba berpikir seperti itu.

MWO!”

Bo Na melotot melihat sebuah foto yang diunggah oleh Chan Young di akun SNS-nya. Foto itu menunjukkan kebersamaan Chan Young dan Cha Eun Sang.

“Haish! Cha Eun Sang, aku akan membunuhmu!” geram Bo Na sembari jemarinya dengan cepat menekan nomor ponsel Chan Young.

Yeoboseyo?” Suara Chan Young terdengar setelah beberapa kali nada sambung.

Ya! Apa kau sudah kehilangan pikiranmu?” semprot Bo Na tanpa membalas sapaan Chan Young. “Apa yang Cha Eun Sang lakukan disana? Apa yang kalian berdua lakukan?”

Chan Young memejamkan matanya sesaat mendengar teriakan Bo Na di seberang sana. Dalam hatinya ia terkekeh menangkap kecemburuan dalam nada suara Bo Na. Pancingannya berhasil, bukan? Ia selalu suka mendengar gadisnya itu cemburu. Menurutnya Bo Na terlihat sangat menggemaskan saat sedang cemburu.

“Aku memikirkanmu disini. Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan disini?” balas Chan Young.

“Memikirkanku apanya? Kalau kau memikirkanku, lalu kenapa kau tidak menghubungiku? Kenapa kau justru berduaan dengan Cha Eun Sang disana? Ya! Yoon Chan Young! Kupikir kau terlalu sibuk belajar sampai-sampai tidak menghubungiku. Ya! Apakah kau benar-benar menduakanku?” cecar Bo Na tanpa jeda.

Chan Young tertawa geli. “Aigo, uri Bo Na lucu sekali,” ucapnya.

Bo Na tidak bisa menahan senyumnya ketika mendengar satu kalimat yang diucapkan oleh Chan Young itu. Sayangnya itu tidak bertahan lama, karena beberapa detik setelahnya, Bo Na kembali pada tampang cemberutnya.

Ya! Kau belum menjawab pertanyaanku! Yoon Chan Young, apakah kau benar-benar menduakanku?” Kini Bo Na terdengar seperti hampir menangis.

“Aku pasti sudah gila kalau aku sampai menduakan Lee Bo Na,” sahut Chan Young kalem.

“Bagiku Lee Bo Na adalah satu-satunya,” lanjutnya. “Bogoshipeoseo. Aku merindukanmu.”

Kali ini Bo Na tidak bisa tidak mengulum senyumnya. “Nado bogoshipeoseo. Aku juga merindukanmu. Karena itu, cepatlah kembali,” sahutnya.

Eoh, aku akan kembali secepatnya untuk menemuimu, okay?” ujar Chan Young.

Okay, I’ll be waiting for you,” jawab Bo Na.

“Hm. Aku harus pergi sekarang. Aku akan menghubungimu lagi nanti, eoh?” balas Chan Young.

“Benar kau akan menghubungiku? Baiklah kalau begitu,” kata Bo Na dengan berat hati. Sejujurnya ia masih ingin berbicara banyak dengan Chan Young. Ia terlampau sangat merindukan laki-laki dengan eye smile itu.

Uri Bo Na, jaga dirimu baik-baik, eoh? Aku tutup. Annyeong!” pesan Chan Young.

Araseo. Kau juga jaga dirimu baik-baik. Jangan melihat wanita lain selain aku, araseo? Kau mengerti? Annyeong!”

Bo Na mengakhiri sambungan telepon itu dengan senyum lebar terlukis di wajahnya. Ia tidak bisa berhenti tersenyum lebar selama beberapa saat. Setidaknya sampai ia teringat akan suatu hal lain yang semula mengganggunya.

Ya! Kenapa aku tidak menanyakan sebenarnya apa yang dilakukan Cha Eun Sang disana bersama Chan Young? Aish! Baboya!” Bo Na mengetuk-ketuk kepalanya sendiri.

“Ah, bagaimana kalau ini? Kau mengencani Lee Bo Na juga. Katakan hai. Ini adalah kekasih Lee Bo Na yang sekarang, dan ini adalah mantan kekasih Bo Na.”

“Apa yang kau pikirkan?”

Pertanyaan Eun Sang menyadarkan Chan Young dari lamunannya. Lelaki itu mengerjapkan kedua matanya sementara Eun Sang menatapnya bingung.

“Oh, aniyo. Aku tidak memikirkan apa-apa,” sahut Chan Young.

Eun Sang menyipitkan kedua matanya. “Kau sendiri tahu kalau kau sangat tidak pandai berbohong, Yoon Chan Young,” balasnya. Gadis itu mengulurkan minuman kaleng pada Chan Young.

“Apakah—“ Eun Sang terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya, “—kau memikirkan ucapan gadis bernama Yoo Rachel tadi?”

Ne?” Chan Young menoleh cepat menatap Eun Sang. Apakah gadis itu bisa membaca pikirannya?

Tebakan Eun Sang tepat sasaran. Chan Young memang sedang memikirkan pertemuannya dengan Yoo Rachel dan Kim Tan tadi. Ini adalah pertama kalinya Chan Young bertemu kembali dengan Kim Tan, mantan kekasih Bo Na. Saat ia masih kecil dulu, ia sering bertemu dengan Kim Tan karena pekerjaan ayahnya.

Well, sebenarnya Chan Young sudah mengetahui kalau Kim Tan adalah mantan kekasih dari Lee Bo Na. Bahkan sebelum Rachel memperkenalkan siapa Kim Tan itu padanya. Bagaimana ia bisa mengetahuinya? Oh, bisa dikatakan ayahnya adalah informan penting, selain karena hal itu sudah menjadi rahasia umum di sekolah.

Bo Na sendiri tidak pernah menyebutkan sepatah kata-pun mengenai Kim Tan di depan Chan Young. Gadis itu bersikap seolah-olah lelaki bernama Kim Tan tidak pernah ada dalam hidupnya. Meskipun saat mereka belum berkencan dulu, Chan Young sering mendengar Bo Na menyebut nama Kim Tan dalam setiap makian berbahasa Inggris-nya.

Chan Young sendiri tidak merasa perlu untuk mengusik masa lalu Bo Na. Ia mempercayai Bo Na, dan baginya itu sudah cukup. Tidak ada gunanya membahas mengenai masa lalu, terutama jika hal itu hanya akan melukai Bo Na pada akhirnya.

Ya! Kau melamun lagi?” Untuk kedua kalinya, Eun Sang membuyarkan lamunan Chan Young.

“Apakah aku melamun?” sahut Chan Young sambil tertawa. Eun Sang menggelengkan kepala menatapnya.

“Haah, sebaiknya kita memesan tiket pesawat sekarang. Aku juga akan kembali ke Korea. Kurasa aku sudah terlalu merindukan Lee Bo Na,” lanjut Chan Young.

Ne, appa, aku sudah tiba di Korea,” ucap Chan Young pada ayahnya melalui sambungan telepon.

“Jangan khawatir. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu disana, appa. Aku juga masih harus berkunjung ke suatu tempat dulu sebelum pulang ke rumah. Hmm, aegeseyo, aku tutup, ne.” Chan Young mengakhiri sambungan teleponnya.

Tepat setelah itu, Chan Young melihat seorang pria paruh baya yang baru saja keluar dari sebuah gedung. Chan Young segera berlari menghampiri lelaki itu.

Annyeonghaseyo!” sapa Chan Young.

“Oh! Aigo! Yoon Chan Young!” Lelaki itu—Lee Seung Wook—balas menyapa Chan Young.

“Kudengar kau pergi ke Amerika. Jadi kau sudah kembali?” tanya Lee Seung Wook.

Ne, saya baru saja kembali hari ini,” jawab Chan Young sopan. “Apakah Bo Na ada disini?”

“Kau langsung datang kemari untuk menemui uri Bo Na? Aigo, ia pasti senang sekali melihatmu. Ne, ia ada disini. Masuklah ke dalam. Mungkin Bo Na ada di studio,” kata Seung Wook.

“Kalau begitu, saya akan masuk dan mencari Bo Na. Annyeonghaseyo. Senang bertemu dengan Anda,” pamit Chan Young.

Ne. Ne. Masuk dan carilah anak itu,” sahut Seung Wook seraya menepuk-nepuk punggung Chan Young.

Chan Young membungkukkan tubuhnya sebelum berlalu. Ia memasuki gedung salah satu stasiun TV terbesar di Korea Selatan itu dan langsung menuju studio 2—yang ia ketahui akan ada rekaman sebuah program musik.

Chan Young memasuki studio itu dan mengedarkan pandangannya. Senyumnya mengembang ketika ia menemukan sosok Bo Na yang sedang berdiri di depan panggung. Bo Na terlihat sedang berbicara pada seorang laki-laki. Chan Young berjalan menuju tempat duduk tanpa melepaskan pandangannya dari Bo Na.

Ya! Kau lebih menyukai Kyuhyun atau aku?” tanya laki-laki yang sedang berbicara pada Bo Na. Setelah memperhatikan lelaki itu, Chan Young akhirnya mengenalinya sebagai salah satu anggota boyband Super Junior, Kim Heechul.

“Aku—Chanyoungi!”

Chan Young tertawa kecil mendengar jawaban polos Bo Na.

“Ah, Chan youngi?” sahut Heechul.

Oppa mengenal Chan Young?” tanya Bo Na bingung.

“Tentu saja tidak.” Chan Young menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Heechul.

“Apakah ia pacarmu?” tanya Heechul. Ia lalu mendekatkan mik ke mulutnya dan kembali bertanya, “Apakah ia pacarmu atau tawananmu?”

Selagi Bo Na berbicara dengan Heechul, Chan Young mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik sebuah pesan. Setelah selesai, ia menekan tombol send dan kembali memperhatikan Bo Na, yang sedang merogoh kantongnya dan mengeluarkan ponsel.

Chan Young

Apa yang kau lakukan dengan lelaki lain?

“Apa?” Bo Na terlihat bingung setelah membaca pesan yang dikirim oleh Chan Young. Ia segera menoleh ke sekelilingnya.

Chan Young tersenyum geli dari tempat duduknya ketika melihat Bo Na yang nampaknya sedang kebingungan mencarinya. Ia kembali mengetikkan sesuatu pada ponselnya dan mengirimnya.

“A—a—Bo Na-ya. Bo Na, lihat aku,” Heechul mencoba menarik kembali perhatian Bo Na, tetapi gadis itu terlalu sibuk melihat-lihat sekelilingnya. “Lee Bo Na! Kau sedang mencari apa?”

Tanpa mempedulikan Heechul yang memanggilnya, Bo Na kembali melihat ponselnya yang baru saja menerima satu pesan masuk.

Chan Young

Sebelah kanan.

Bo Na menoleh ke arah yang disebutkan oleh Chan Young dan melihat pemuda itu duduk di baris keempat. Chan Young melambaikan tangannya yang masih memegang ponsel sambil tersenyum pada Bo Na.

“Chan Young-ah!” Bo Na berlari ke arah Chan Young tanpa mengacuhkan Heechul yang masih memanggil-manggil namanya menggunakan mik.

“Kau bisa terluka kalau berlari seperti itu,” tegur Chan Young seraya bangkit berdiri menyambut Bo Na.

“Kapan kau sampai di Korea? Bagaimana kau bisa masuk kesini?” tanya Bo Na.

“Aku bertemu dengan ayahmu di depan. Aku sampai di Korea—“ Chan Young mengecek jam tangannya, “—tiga jam yang lalu.”

“Ah, mwoya? Ada apa ini? Kau tidak mengatakan kalau kau akan pulang di telepon kemarin?” ujar Bo Na dengan nada manjanya yang biasa.

“Justru karena itulah kau akan merasa tersentuh tiga kali lipat,” balas Chan Young.

“Tawanan yang ada disana!”

Chan Young dan Bo Na menoleh ke arah panggung. Disana Heechul masih berdiri memegang mik dan menatap mereka.

“Beritahu aku jika kau dalam bahaya!” sambung Heechul pada Chan Young.

Bo Na mencibir sebelum kembali beralih pada Chan Young.

“Tetap saja kau seharusnya meneleponku lebih dulu,” ujar Bo Na. “Aku sangat merindukanmu!”

Nado. Aku juga merindukanmu,” sahut Chan Young.

“Aku lebih merindukanmu!” seru Bo Na tidak mau kalah.

“Aku tidak akan kalah kali ini,” balas Chan Young seraya tersenyum lembut.

Bogoshiputa. Aku meridukanmu,” ucapnya sebelum menarik Bo Na ke dalam pelukannya.

Chan Young meletakkan tangannya di kepala Bo Na dan mengacak pelan rambutnya. Suatu kebiasaan yang sangat dirindukannya saat berada jauh dari gadis itu.

“Mulai sekarang, jangan pergi kemana-mana lagi,” kata Bo Na.

Chan Young melepaskan pelukannya dan menatap Bo Na.

“Mulai sekarang kita akan selalu bersama,” ujar Chan Young.

Geurae. Baiklah, ayo kita selalu bersama,” sambung Bo Na. Ia lalu tiba-tiba mengingat sesuatu dan segera mengubah ekspresi wajahnya.

“Ah, bagaimana dengan Cha Eun Sang? Apakah kau tinggal bersamanya atau apa?” selidik Bo Na.

“Kenapa aku harus tinggal bersama dengan temanku ketika aku memiliki pacar yang sangat cantik?” jawab Chan Young.

Bo Na tertawa malu mendengar jawaban Chan Young. Rasa cemburu yang semula meliputinya mendadak hilang digantikan dengan semburat merah muda yang mewarnai kedua pipinya.

“Kau ingin makan sesuatu? Makanan Korea! Aku yang traktir. Ayo pergi!” ajak Bo Na seraya menarik lengan Chan Young.

“Bukankah kau sedang mencari ayahmu?” tanya Chan Young.

“Itu tidak penting lagi sekarang,” sahut Bo Na.

Chan Young menganggukkan kepalanya sembari berpikir. “Aku tidak ingin memiliki anak perempuan,” gumamnya.

Daebak! Apakah aku mengatakan kalau aku akan memberikannya untukmu?” Bo Na mendengus. “Byuntae! Mesum!”

Setelah berkata demikian, Bo Na melenggang pergi meninggalkan Chan Young yang tertawa melihatnya. Chan Young lalu menyusul Bo Na yang sudah keluar dari studio. Dengan langkahnya yang lebar, Chan Young bisa mengejar Bo Na cepat.

“Bagaimana jika kali ini kita makan dirumahku?” tawar Chan Young.

“Rumahmu?” Bo Na berhenti berjalan dan menatap Chan Young dengan kedua mata dan mulut yang terbuka kaget.

Chan Young menganggukkan kepalanya. “Aku ingin makan dirumah,” ujar Chan Young.

“Jangan khawatir. Aku yang akan memasak untukmu,” tambahnya.

Jeongmal? Kau akan memasak untukku?” tanya Bo Na lagi.

Chan Young kembali mengangguk meyakinkan Bo Na. “Hm, aku akan memasak untukmu. Bagaimana?” sahutnya.

Geurae! Kalau begitu ayo kita pergi ke rumahmu. Kajja!” Bo Na merangkul lengan Chan Young dan menariknya penuh semangat.

Sesampainya di rumah Chan Young, mereka mendapati Yoon Jae Ho—ayah Chan Young—sudah pulang. Pria paruh baya itu terlihat sedikit terkejut melihat kedatangan Bo Na bersama Chan Young, tetapi ia tetap menyambut Bo Na dengan ramah.

“Kau tidak mengatakan apa-apa soal kepulanganmu hari ini,” buka Jae Ho dengan kedua tangan dilipat di depan dadanya. Kedua matanya menatap Chan Young menuntut penjelasan.

“Aku berubah pikiran,” jelas Chan Young. “Aku kembali lebih cepat karena aku sudah ingin sekali bertemu dengan Bo Na.”

Chan Young mengacak pelan rambut panjang Bo Na yang tersipu senang.

Aigo, bukankah uri Chan Young ini manis sekali? Bukankah begitu, abeonim?” kata Bo Na.

Jae Ho menatap pasangan itu sambil mendengus pelan dan menggelengkan kepalanya. “Dasar anak muda,” desisnya.

“Kau duduk saja disini dan perhatikan aku, eoh?” ujar Chan Young sembari menarik keluar salah satu kursi yang ada di meja makan supaya Bo Na bisa duduk.

Ne, Chan Young-ah! Aku akan memperhatikanmu dengan baik!” jawab Bo Na dengan senyum riang.

Chan Young mempersiapkan bahan-bahan sementara ayahnya menyiapkan peralatan memasak. Bo Na duduk manis dan memperhatikan duo ayah dan anak yang sedang bersiap untuk memasak itu. Saat mereka mulai memasak, Bo Na tidak bisa menutup mulutnya karena kagum dengan kemampuan memasak Chan Young.

Tidak sampai tiga puluh menit, di atas meja sudah tersedia berbagai macam hidangan yang disiapkan oleh Chan Young. Bo Na kembali berdecak kagum melihat sesisi meja makan.

“Wua! Jadi ini alasan mengapa kau ingin makan dirumah,” ucap Bo Na.

“Selamat makan. Ini adalah makanan favorit Chan Young,” beritahu Jae Ho.

“Kupikir makanan favoritmu adalah sushi.” Bo Na menoleh bingung ke arah Chan Young.

Chan Young mengeluarkan cengirannya. Sushi adalah kesukaan Bo Na dan selama ini Chan Young hanya berpura-pura menyukainya demi Bo Na.

“Oh! Ia tahu bagaimana menjadi kekasih yang baik. Sebenarnya ia tidak menyukai ikan mentah,” bongkar Jae Ho.

Chan Young menggaruk kepalanya ketika ayahnya membongkar rahasianya.

Jinjjayo? Benarkah?” Bo Na menoleh ke arah Chan Young. “Ho, mwoya! Berhentilah bersikap sempurna di depan abeonim.”

Chan Young mengerjap bingung. Alih-alih meminta penjelasan, Bo Na justru melemparkan pujian secara eksplisit padanya. Gadis itu memang unik dan Chan Young merasa semakin tertarik pada Lee Bo Na.

“Kudengar kau bertemu dengan Tan di LA?” tanya Jae Ho.

Bo Na berhenti mengunyah makanannya dan melirik sekilas ke arah Jae Ho sebelum beralih ke Chan Young. Dalam hatinya ia sempat bertanya-tanya mengapa mereka berdua mengenal Tan sebelum menyadari bahwa ayah Chan Young bekerja sebagai sekertaris perusahaan keluarga Tan. Ya Lee Bo Na, neo baboya!

“Ya, aku hampir tidak mengenalinya karena aku sudah lama sekali tidak melihatnya,” jawab Chan Young.

Bo Na kembali bertanya-tanya apakah Chan Young mengenal Kim Tan? Kalau begitu apakah Chan Young juga tahu kalau—

“Apakah yang kau maksud adalah Kim Tan?” tanya Bo Na.

“Kau mengenal Tan?” Jae Ho balas bertanya.

“Tentu saja tidak! Bagaimana bisa aku mengenal Kim Tan?” Bo Na menjawab cepat, bahkan terlalu cepat.

“Kurasa kau mengenalnya,” potong Chan Young sambil menatap Bo Na.

“Kau bisa yakin mengatakan kalau ia memang mengenalnya,” timpal Jae Ho.

Aniya, aku tidak mengenalnya. Aku benar-benar tidak mengenalnya,” ujar Bo Na seraya menatap Chan Young lalu Jae Ho.

Tidak ingin melanjutkan pembicaraan mengenai Kim Tan lagi, Bo Na memilih untuk melanjutkan memakan makanannya. Ia bahkan tidak menyadari Chan Young yang masih menatapnya sambil tersenyum geli.

Advertisements

13 thoughts on “(Heirs Fiction) The Story of Lee Bo Na and Yoon Chan Young: Episode 2

  1. Saya bacanya entaran thor yang penting komen dulu.. Terima kasih author udah d’lanjutin … Tetap semangat ya thorr *Fighting 😀

  2. kekekekekekek,, lucu ya.
    min kalau bleh usul di tambh aja scene yang dk ada di the heirs,,,nbiar tambah seruu !!! ♡♡♡♡
    pkoknya cpet di uploadnya min ep 3
    LEE BONA ♥ YOON CHANYOUNG

  3. huwaa, ditunggu-tunggu akhirnya update juga ^^ aigoo, uri bo na kyeopda *o* kocak liat nih couple. lanjut next part thor >_<

  4. Aigoo…
    Uri ChanBona manis sekalii~ aku sedikit cerita deh thor 😀 ak kalo nntn ulang the heirs pasti yang aku tonton bagian mrka aja.. Lucu dan ngegemesih sih..
    Aku suka part ini,, next..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s