Fragile [EXO FF]

exofragile

Title :

Fragile

Author :

Felicia Rena

Rating :

PG 13+

Genre :

Friendship, brothership

Cast :

EXO members

Disclaimer :

I do not own EXO even if I want to.

Author’s Note :

Another random story. FF ini sebenernya udah dibikin sejak lama, sejak taun lalu, tepatnya beberapa waktu setelah Luhan keluar dari EXO. Sama seperti FF “Broken” sebelumnya yang berlatar tentang kepergian Kris, FF ini juga bercerita tentang kepergian Luhan. Hanya saja, (menurutku) FF ini nggak se-menyedihkan FF Broken, mungkin karena aku nggak begitu kaget dengan kepergian Luhan. Sedih pastinya, tapi tidak terlalu mengagetkan, mungkin karena sudah ada pertanda-pertandanya. Sebenernya beberapa kali aku antara mau mempublish FF ini atau enggak, tapi berhubung hari ini (April 20) adalah hari ulang tahun Luhan, maka akhirnya aku memutuskan untuk mempublish FF ini.

Hope you’ll enjoy the story.

.

Happy Birthday Luhan

.

Luhan memasukkan tumpukan bajunya yang terakhir ke dalam koper. Di depannya, Lay masih duduk diam dan memandanginya. Lelaki berkewarganegaraan Cina itu sudah mengamati Luhan sejak lelaki yang lebih tua darinya itu mulai mengeluarkan baju-bajunya dari lemari yang mereka gunakan bersama. Ia tidak membantu ataupun berkata apa-apa. Lay hanya diam seolah sibuk dengan pikirannya sendiri.

Hyung—“ Setelah sekian lama, Lay akhirnya mengeluarkan suaranya, “apa kau benar-benar akan pergi?”

Luhan tidak menjawab Lay sampai ia selesai merapikan tumpukan bajunya di dalam koper dan menutup kopernya.

Mianhae. Maafkan aku.” Luhan menghela napasnya dan berbalik menghadap Lay.

Lay menatap Luhan yang tersenyum sedih dengan alis saling bertautan. “Luhan ge,” panggilnya lagi.

Lay jarang sekali memanggil Luhan dengan panggilan ‘gege’ yang berarti kakak laki-laki dalam bahasa mandarin. Meskipun mereka berdua adalah orang Cina asli, tetapi Lay memanggil Luhan dengan ‘hyung’  karena mereka tinggal di Korea. Jika Lay memanggil Luhan dengan ‘gege’, itu artinya ia sedang dalam pembicaraan serius.

“Aku tidak akan merubah pikiranku, Lay-ah,” sahut Luhan cepat. “Kau yang paling mengerti mengapa aku mengambil keputusan ini.”

Lay menghembuskan napasnya sedih. Ia tahu Luhan tidak akan bisa digoyahkan lagi. Tetapi tidak bisa dipungkiri, Lay merasa berat harus kehilangan satu sosok kakak lagi. Setelah Kris meninggalkan mereka lima bulan yang lalu, Lay tidak pernah membayangkan bahwa ia harus kehilangan lagi. Dan tidak pernah sekalipun Lay berpikir bahwa akan tiba saatnya ia harus berpisah dengan Luhan. Ia dan Luhan sudah bersama-sama sejak mereka masih trainee. Mereka menjadi teman sekamar saat berada di Cina. Luhan adalah sahabat terbaiknya, dan Lay akan sangat merindukannya.

“Aku mengerti, hyung,” kata Lay. “Aku akan selalu mendukungmu.”

Gomawo, Lay-ah. Terima kasih kau sudah mau mengerti,” ucap Luhan.

Lay bangkit berdiri dan membantu Luhan membawa koper dan tas-tas lainnya ke ruang tengah. Terdengar suara gaduh disana. Xiumin dan D.O nampak sedang berbicara serius. Baekhyun, Kai dan Tao hanya duduk diam di depan televisi yang menyala tanpa menontonnya. Chanyeol dan Suho tidak terlihat dimanapun. Chen—yang melihat kehadiran Lay dan Luhan—segera berdiri dan membantu kedua teman satu tim-nya itu.

“Ada apa? Apa yang terjadi?” Lay bertanya heran ketika menyadari atmosfir yang berbeda yang menyelimuti suasana dorm mereka.

Xiumin mendekati Luhan dan menepuk bahunya. Ia menunjuk ke arah kamar Sehun. “Bicaralah padanya,” katanya pelan. “Ia menangis terus sejak tadi.”

Luhan menoleh ke arah kamar Sehun dan menghela napasnya. Bagian terberat ketika ia mengambil keputusan untuk pergi adalah meninggalkan para membernya yang selama ini sudah ia anggap sebagai sahabat sekaligus saudara. Hal itu mencakup Sehun, member termuda yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.

Tanpa berkata apa-apa dan hanya dengan menganggukkan kepalanya, Luhan berjalan ke arah kamar Sehun. Ia membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu dan menemukan Suho dan Chanyeol sudah berada di dalam.

Sehun sedang berbaring tengkurap di atas tempat tidurnya. Kepalanya ia benamkan di antara kedua lengannya di atas bantal. Hanya rambut cokelat tua-nya saja yang terlihat.

Suho dan Chanyeol yang menyadari kehadiran Luhan segera bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar, meninggalkan Luhan berdua dengan Sehun. Sebelum keluar, Suho menepuk pundak Luhan dan tersenyum.

Sepeninggal Suho dan Chanyeol, Luhan bergerak mendekati Sehun dan duduk di atas tempat tidur sang maknae. Luhan bisa mendengar suara isakan yang teredam dari Sehun. Ia mengangkat tangan kirinya dan menepuk-nepuk pelan kepala Sehun.

“Sehun-ah,” panggil Luhan dengan lembut, “jangan seperti ini. Ayo, bangunlah.”

Sehun tidak merespon ucapan Luhan sama sekali. Ia tetap tidak bergeming dari posisinya. Walaupun begitu, ia tetap membiarkan Luhan mengelus-elus sayang kepalanya.

Luhan menghela napasnya sedih dan kembali berbicara. “Aku tahu kau marah padaku. Aku juga merasa berat meninggalkan kalian semua, apalagi meninggalkanmu, Sehun-ah.”

“Aku tidak akan memaksamu untuk menerima keputusanku sekarang. Aku hanya berharap suatu saat nanti kau akan mengerti alasan mengapa aku memilih untuk pergi dan berpisah jalan dengan kalian semua,” lanjutnya.

“Apapun yang kau pikirkan, aku ingin kau tahu kalau aku menyayangimu,” ucap Luhan tulus. “Aku menyayangi kalian seperti saudaraku sendiri. Aku tidak akan pernah melupakan kalian ataupun masa-masa yang sudah kita lewati bersama.”

Menyadari bahwa Sehun tetap tidak memberikan respon apapun untuknya, Luhan akhirnya menghela napas dan bangkit berdiri. Ia berpikir mungkin Sehun membutuhkan waktu untuk sendiri dan mungkin saat ini Sehun terlalu marah padanya sampai lelaki berusia 21 tahun itu tidak mau bertemu dengannya.

“Sampai kapanpun, aku akan tetap menganggapmu sebagai adikku, Sehun-ah. Adik kesayanganku,” kata Luhan sambil memberikan usapan terakhir di kepala Sehun.

Luhan berbalik dan mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar Sehun. Ia berharap semoga member lainnya bisa memberi pengertian pada Sehun.

Kajima, hyung! Jangan pergi!” Sehun tiba-tiba bangkit dari posisi tidurnya dan berteriak memanggil Luhan yang sudah hampir mencapai pintu.

Luhan berbalik dan melihat Sehun dalam kondisi yang berantakan. Rambut perunggunya tampak acak-acakan dan kedua matanya sembab. Luhan hampir tidak pernah melihat Sehun dalam keadaan seperti itu.

Sehun terus menatap Luhan dengan kedua matanya yang berair. Luhan kembali mendekati Sehun dan duduk di sampingnya.

Kajima, hyung. Kajima. Jangan tinggalkan aku,” ulang Sehun.

Luhan duduk di sebelah Sehun dan merangkul sang maknae ke dalam pelukannya. Ia lalu menepuk-nepuk pelan punggung Sehun yang masih bergetar.

“Sehun-ah, kau harus tahu, berat bagiku untuk akhirnya mengambil keputusan ini. Aku sudah memikirkannya berkali-kali, juga berdiskusi dengan kalian. Berkali-kali juga aku berusaha untuk tetap bertahan dan mengurungkan niatku ini. Kau harus tahu, tidak mudah bagiku untuk akhirnya mengambil keputusan yang aku tahu pasti akan mengecewakan kalian, juga banyak orang diluar sana, terutama fans. Tapi apa lagi yang bisa aku lakukan, Sehun-ah? Aku-pun marah pada diriku sendiri yang merasa tidak mampu lagi untuk menjalani ini semua. Aku ingin berdiri di atas panggung bersama kalian, tetapi kondisiku saat ini tidak memungkinkan untuk itu.”

“Kau bisa mengambil istirahat dan kembali, hyung. Kau tidak perlu benar-benar pergi,” potong Sehun.

Luhan melepaskan pelukannya dan menatap Sehun sambil tersenyum. “Kau tahu benar itu tidak mungkin bisa dilakukan, Sehun-ah. Aku tidak mungkin beristirahat dalam waktu yang lama sementara kalian berkutat dengan jadwal kita yang demikian padatnya,” sahutnya.

“Aku mengerti jika kau marah padaku, Sehun-ah,” kata Luhan lagi. “Aku juga pasti akan merasa seperti itu. Aku benar-benar merasa bersalah pada kalian karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk terus bersama-sama dengan kalian. Aku juga tidak akan memaksamu untuk memahami keadaanku.”

Hyung—“ Sehun merasa tenggorokannya tercekat, “apakah kita akan bisa bertemu lagi? Apakah aku bisa bertemu denganmu lagi?”

Luhan menghela napasnya. Ia tahu bahwa ketika ia memutuskan untuk pergi, maka kecil kemungkinan ia bisa bertemu lagi dengan member-nya.

“Aku percaya suatu saat nanti pasti akan ada kesempataan bagi kita untuk bertemu,” ujar Luhan. “dan jika kesempatan itu datang, aku berjanji akan menemuimu, Sehun-ah.”

Sehun akhirnya tersenyum dan menghapus sisa airmata yang masih menggenangi pelupuk matanya. “Kau berjanji akan tetap menghubungiku?” tanya Sehun lagi.

Luhan tertawa kecil. Ia mengangkat tangannya dan mengacak-acak rambut Sehun. “Tentu saja. Aku berharap kita semua masih bisa saling menghubungi. Aku pasti akan menghubungimu dan member lainnya,” jawabnya.

“Tapi kau tidak akan bisa membelikanku bubble tea lagi!” Wajah Sehun yang semula sudah mulai cerah kini kembali murung.

Luhan terkekeh geli melihat perubahan ekspresi Sehun. Ia mencubit gemas pipi member termuda itu. “Bahkan jika aku harus mengirimimu uang untuk membeli bubble tea, aku akan melakukannya,” kata Luhan.

Sehun menyunggingkan senyumnya. “Aku hanya bercanda, hyung. Kau tidak perlu melakukannya, tapi aku akan dengan senang hati menerimanya jika kau benar-benar melakukannya,” ujarnya sambil tertawa bersama dengan Luhan.

“Jadi apakah kita bisa keluar sekarang? Yang lain pasti sedang menunggu kita sekarang. Mereka sangat mengkhawatirkanmu, Sehun-ah.” Luhan bangkit berdiri dan menepuk pundak Sehun.

Araseo. Aku mengerti, ayo kita keluar.” Sehun merangkul lengan Luhan dan menariknya keluar kamar.

Hyung, aku tahu kau tidak suka tidur bersama orang lain, tapi kali ini saja tidurlah denganku, hyung. Kumohon,” pinta Sehun selagi mereka berjalan menuju ruang tengah dimana yang lain sedang berkumpul.

“Tapi jangan tendang aku,” tambahnya cepat membuat Luhan terkekeh.

Andwae! Tidak bisa!” Lay tiba-tiba muncul dari belakang Luhan dan Sehun, membuat kedua laki-laki itu terlonjak kaget.

Ya! Aku juga ingin tidur dengan Luhan hyung malam ini! Aku ingin minum teh dan mengobrol dengannya lagi seperti yang biasa kita lakukan. Aku bahkan sudah menyiapkan teh hijau dan teh merah-nya,” kata Lay.

Aniya! Tidak! Luhan-ah, lebih baik kau menemaniku minum kopi. Aku akan membuatkanmu kopi yang enak.” Xiumin ikut menimpali.

“Luhan hyung, kau harus menemaniku bermain game sepak bola dulu! Aku belum berhasil mengalahkan Luhan hyung dan aku harus bisa mengalahkannya sekarang,” tambah Kai.

 “Luhan hyung, kau mau battle siapa yang bisa mencapai nada paling tinggi denganku lagi?” tanya Chen. “Aku tahu kalian menipuku saat di EXO’s Showtime dan aku pastikan kali ini aku tidak akan kalah darimu, hyung!”

“Sudahlah, kau tidak akan berhasil mengalahkan Luhan hyung,” celetuk D.O yang membuat Chen memanyunkan bibirnya. “Nonton film bersamaku saja, hyung” ajak D.O.

“Huh! Itu tidak seru! Luhan hyung! Luhan hyung! Lebih baik menemaniku bermain eyeliner saja.” Baekhyun tidak mau kalah.

Ya! Pria normal mana yang bermain eyeliner?” Chanyeol mendengus dan melempar bantal sofa ke arah Baekhyun. “Luhan hyung, lebih baik bermain bersama Kai saja,” tambahnya sambil ber-high five dengan Kai.

Ya! Kau benar-benar orang bodoh yang hanya melihat Kai saja!” Baekhyun balas melemparkan bantal sofa kembali kepada Chanyeol.

“Sebaiknya kita mengadakan family gathering saja. Berkumpul dan mengobrol bersama seperti ini untuk meningkatkan quality time kita.” Ucapan Suho lantas disambut dengan erangan menolak kompak dari sepuluh member lainnya.

“Luhan hyung, tidur bersamaku dan Sehun saja,” ujar Tao sambil memegang lengan Luhan.

Ya! Panda! Siapa bilang aku mau berbagi Luhan hyung denganmu?” Sehun melepaskan tangan Tao yang memegangi Luhan.

“Oh Sehun, kau pelit sekali,” cibir Tao.

“Biar saja. Pokoknya malam ini Luhan hyung milikku!” Sehun memeluk erat lengan Luhan dan menatap member lainnya dengan tatapan memperingatkan.

“Huh! Enak saja! Aku juga ingin menghabiskan waktu bersama Luhan hyung!” protes Chen dan Kai.

Ya! Maknae! Jangan memonopoli Luhan hyung sendirian!” timpal Baekhyun.

“Sudahlah, bagaimana jika kita tidur bersama saja disini? Kita bisa menggelar kasur disini.” Luhan menengahi Sehun dan Baekhyun yang sudah saling melempar tatapan mengancam.

“Aku setuju!” Xiumin dan Suho menyahut cepat.

“Kurasa itu ide yang bagus. Kita bisa menghabiskan malam bersama daripada terus menerus bertengkar mengenai siapa yang akan menghabiskan waktu dengan Luhan hyung. Kita bisa bermain dan mengobrol bersama disini,” tambah Lay.

Dengan cepat gumaman dan anggukan setuju menyebar di antara member lainnya. Setelah mendapatkan persetujuan dari semua member, Suho segera menugaskan Chanyeol, Tao, dan Kai untuk mengambil kasur di kamar, sementara Baekhyun dan Chen mengambil bantal dan selimut. D.O dan Lay bertugas menyiapkan cemilan dan minuman, sedangkan Suho dan Xiumin menggeser beberapa perabotan untuk memberi ruang yang lebih luas untuk meletakkan kasur. Luhan masih tetap tidak bisa bergerak dengan Sehun yang terus memeluknya erat.

Mereka lalu menghabiskan malam bersama dengan menonton film, mengobrol, dan bermain game sepuasnya sampai satu persatu member terlelap. Luhan sendiri adalah yang terakhir tidur. Ia melihat ke sekelilingnya, dimana membernya sudah menuju alam mimpi masing-masing. Ia tersenyum melihat Chanyeol yang tidur dengan menggunakan Baekhyun sebagai gulingnya, Suho yang tetap terlihat serius bahkan ketika sedang tidur, Xiumin yang gaya tidurnya paling rapi di antara semua member, Lay yang tidur telentang sambil memeluk boneka unicorn-nya, Chen yang tenang, D.O yang tidur meringkuk, Kai yang terus bergerak dalam tidurnya sambil menggigau pelan, serta Sehun dan Tao yang saling berpelukan di sampingnya.

“Aku akan merindukan kalian semua,” ujar Luhan lirih sambil berusaha merekam moment malam itu dengan sebaik-baiknya sebelum ia akhirnya pergi tidur.

Keesokan harinya, di saat hari masih pagi-pagi buta, sepuluh member EXO lainnya sudah kembali berkumpul di ruang tengah untuk mengantarkan Luhan dan memberinya salam perpisahan terakhir. Mereka tahu, setelah Luhan pergi, pasti akan sangat sulit bagi mereka untuk bisa bertemu dengannya lagi, atau bahkan hanya sekedar mengontak-nya. Lihat saja apa yang terjadi pada mereka dan Kris. Walaupun sempat marah pada sang (mantan) leader EXO-M itu, tetapi sesungguhnya mereka ingin bicara padanya dan meluruskan apa yang terjadi di antara mereka dan mengapa Kris memutuskan untuk pergi.

Sehun masih terus memeluk Luhan dari belakang. Terlihat jelas bahwa ia enggan melepaskan hyung kesayangannya itu.

“Jika kau bertemu dengan Kris nanti, sampaikan salam dari kami untuknya. Katakan padanya untuk menghubungi kami jika ia punya waktu. Ayo kita berkumpul lagi jika kesempatan itu datang, ” ujar Suho sambil tersenyum.

Luhan balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Pasti,” sahutnya.

“Sehun-ah, lepaskan Luhan hyung sekarang.” Lay menyentuh lengan Sehun, menarik pelan lengan panjang yang masih melingkari pinggang Luhan itu. Sehun melepaskan pelukannya dengan berat hati. Kedua matanya sudah kembali berkaca-kaca.

“Jangan menangis lagi, Sehun-ah,” ujar Luhan yang kini bisa melihat wajah Sehun.

Kali ini Sehun dengan cepat menghapus airmatanya. Ia tidak ingin membuat Luhan sedih dan khawatir dengan melihatnya menangis. Ia sudah berjanji akan mendukung Luhan.

“Aku tidak menangis, hyung. Kau tidak perlu khawatir padaku,” kata Sehun.

Luhan tersenyum dan kembali menghadapi member-membernya yang lain.

“Suho-ya, maafkan aku karena memilih keputusan ini. Jangan menyalahkan dirimu lagi. Ini adalah keputusanku sendiri dan aku juga tidak menyalahkanmu untuk apapun. Kau tetaplah leader terbaik bagiku,” ucap Luhan pada Suho.

“Xiumin-ah, maaf karena aku meninggalkanmu sendiri sebagai hyung tertua.” Luhan menepuk pundak Xiumin dan tertawa kecil. “Kita akan tetap bersahabat kan?”

“Tentu saja!” Xiumin memeluk Luhan dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.

“Lay-ah, Tao-ya, kalian mungkin akan ada di posisi yang sulit setelah ini, dan aku benar-benar minta maaf untuk itu.” Luhan menatap Lay dan Tao dengan pandangan menyesal. “Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada kalian. Kuharap kalian akan baik-baik saja. Kuharap semuanya akan baik-baik saja.”

Lay dan Tao mendekati Luhan dan memeluknya juga. “Kami akan baik-baik saja, hyung,” ujar Tao.

“Aku akan selalu mendukungmu, Lu-ge,” tambah Lay.

“Baekhyun-ah, Chen-ah, Chanyeol-ah, aku akan sangat merindukan kegaduhan yang kalian ciptakan,” kata Luhan sambil terkekeh menatap para beagle line. “Jangan terlalu merepotkan Suho, eoh?”

“Tenang saja, hyung. Kami selalu tahu batas,” sahut Chanyeol dengan ekspresi jahilnya.

“D.O-ya, aku juga akan merindukan masakanmu. Ajari terus Lay supaya masakannya juga bisa seenak masakanmu,” ucap Luhan yang diiringi dengan protes dari Lay.

“Kai-ya, belajarlah bermain bola yang baik sehingga saat kita bertemu lagi, kau akan bisa mengalahkanku.” Luhan tersenyum jahil pada Kai.

“Tentu saja, hyung! Aku pasti akan mengalahkanmu nanti!” balas Kai sambil memeluk Luhan.

Luhan akhirnya menoleh kembali ke arah Sehun. “Sehunie, kau akan selamanya menjadi adik kecilku, uri maknae. Aku akan sangat sangat merindukanmu,” katanya sambil memeluk Sehun.

“Aku juga akan sangat merindukanmu, hyung,” ucap Sehun.

“Jangan lupa, jika kau memiliki sesuatu yang mengganggu pikiranmu, kau akan selalu bisa datang padaku dan menceritakan masalahmu. Aku akan selalu ada untukmu,” pesan Luhan diikuti dengan anggukan dari Sehun.

“Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi.” Luhan mempersiapkan dirinya untuk melangkah keluar.

“Kita akan bertemu lagi. Kita pasti akan bertemu lagi. Suatu saat nanti, kita akan berkumpul lagi, kita berduabelas,” balas Suho yakin.

Luhan tersenyum dan menatap kembali satu-persatu membernya sebelum akhirnya ia melambaikan tangannya pada mereka dan berbalik melangkah menjauh.

Mereka mungkin kini berpisah jalan, tapi tidak akan ada yang bisa mengalahkan hubungan persaudaraan yang telah mereka jalin selama sekian lama. Mereka boleh tidak bersama lagi, tetapi mereka akan tetap saling mendukung satu sama lain. Perpisahan boleh membuat mereka menjadi retak dan rapuh, tetapi mereka akan kembali menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Pada akhirnya, mereka akan membuktikan, bahwa tidak akan ada, sekalipun perpisahan, yang bisa benar-benar memecah-belah mereka, karena mereka adalah satu. EXO, we are one, right?

.

END

.

Happy Birthday Luhan

.

8

IMG_20150212_170710

IMG_20150320_080957

.

(*) On October 10, 2014, EXO Luhan filled a lawsuit against S.M. Entertainment to terminate his contract.

Pada tanggal 10 Oktober 2014, EXO Luhan mengajukan tuntutan kepada S.M. Entertainment untuk membatalkan kontraknya,

Advertisements

One thought on “Fragile [EXO FF]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s