Goodbye Summer

hyukstalgoodbyesummer

Title :

Goodbye Summer

Author :

Felicia Rena

Rating : 13+

Casts :

Kang Min Hyuk, Krystal Jung

Special appearance from Lee Jung Shin

Disclaimer :

I do not own anything except storyline. This story is pure fiction. All casts belongs to God, theirself, and their family

Author’s Note :

Seperti judulnya, awalnya FF ini terinspirasi dari lagu f(x) – feat EXO D.O di album Pink Tape yang judulnya Goodbye Summer. FF ini sebenernya udah mulai dibikin dari tahun 2013 lalu, tapi sempet terhenti dan akhirnya baru selesai beberapa waktu lalu. Original cast dari FF ini adalah hyukstal, dan kemarin sempet mikir buat ganti casts, tapi akhirnya tetep hyukstal yang dipilih. Semoga bisa mengobati rasa kangen hyukstal shippers ^^ xoxo~

August 29, 2015

Minhyuk menatap pantulan dirinya di sebuah kaca hitam besar. Ia sedikit merapikan penampilannya supaya terlihat rapi. Setelah dirasanya cukup, ia melangkah masuk ke dalam sebuah gedung.

Malam ini Minhyuk menghadiri acara reuni SMA-nya. Sesampainya ia di dalam ruangan, ia langsung mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia melihat beberapa wajah yang dikenalnya, namun tetap saja, waktu sepuluh tahun pastinya mampu mengubah seseorang.

“Oh! Minhyuk-ah!”

Minhyuk menoleh mendengar seseorang memanggil namanya. Ia kemudian melihat seorang pria jangkung melambaikan tangan ke arahnya. Minhyuk tersenyum dan menghampiri pria yang merupakan sahabatnya itu.

Lee Jungshin menyambut Minhyuk dengan tangan terbuka lebar. Ia merangkul Minhyuk dan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.

Ya! Lama sekali kau datangnya. Aku sudah berpikir jika kau tidak akan datang,” kata Jungshin.

Mian. Aku tadi ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan lebih dulu. Lagipula aku kan sudah berjanji kalau aku akan datang, jadi tidak mungkin aku tidak datang,” ucap Minhyuk.

“Maka dari itu,” sambung Jungshin. “aku baru saja memikirkan apa yang akan kulakukan padamu kalau kau tidak menepati janjimu.”

Minhyuk tertawa melihat ekspresi Jungshin. Sahabatnya itu masih memasang tampang serius selama beberapa saat sebelum kemudian ikut tertawa bersamanya.

“Oh ya, ngomong-ngomong—“ Wajah Jungshin kembali terlihat serius. “kudengar Krystal sudah kembali ke Korea.”

Minhyuk merasakan seolah jantungnya berhenti berdetak ketika mendengar nama itu disebut. Ada rasa rindu yang menjalar di hatinya mendengar nama itu.

“Maksudmu—Soo Jung?” tanya Minhyuk dengan terbata.

“Ada berapa Krystal yang kau kenal? Ah, aku lupa jika kau memanggilnya dengan nama Koreanya,” gumam Jungshin.

“Apakah kalian benar-benar sudah tidak berhubungan lagi sejak Krystal pergi ke Amerika?” tanya Jungshin.

Minhyuk menggelengkan kepalanya. Otaknya masih dipenuhi dengan nama Krystal membuatnya sulit untuk berpikir jernih saat ini.

“Kalau begitu kenapa kau tidak menemuinya sekarang? Bukankah ada sesuatu yang belum sempat kau katakan padanya?” ucap Jungshin.

Ucapan Jungshin membuat Minhyuk tersenyum getir. “Sudah delapan tahun berlalu,” sahut Minhyuk.

“Apakah perasaanmu padanya sudah berubah?” tanya Jungshin lagi.

Minhyuk terdiam selama beberapa saat. Tidak, perasaannya sama sekali belum berubah. Bahkan setelah delapan tahun dan kembali mendengar namanya disebut seperti barusan, ia justru merasa perasaannya semakin menguat.

“Tidak. Perasaanku tidak akan pernah berubah,” balas Minhyuk.

Jungshin menatapnya dengan tatapan iba bercampur putus asa. Ia tidak pernah bisa mengerti jalan pikrian sahabatnya itu. Ia tahu Minhyuk sudah memendam perasaannya selama belasan tahun tanpa sekalipun berusaha untuk mengungkapkannya. Berkali-kali ia mendorong Minhyuk untuk menyatakan perasaannya, namun laki-laki itu selalu menolak. Minhyuk berkata ia sudah cukup bahagia dengan keadaannya, padahal Jungshin bisa melihat guratan luka di wajah sahabatnya sejak kecil itu.

Minhyuk memilih untuk memalingkan wajahnya, berpura-pura tidak tahu jika Jungshin sedang menatapnya. Ia sangat mengenal tatapan yang sedang diberikan oleh Jungshin karena ia sudah melihatnya selama sebelas tahun terakhir sejak mereka masih duduk di bangku kelas satu SMA. Daripada harus melihatnya lagi, Minhyuk kini mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

Saat itulah kedua matanya tiba-tiba menangkap sosok seorang wanita cantik di salah satu sudut ruangan. Wanita itu memakai gaun berwarna biru yang menunjukkan lekuk tubuhnya. Rambutnya yang hitam panjang bergelombang dibiarkan tergerai indah. Namun Minhyuk menatapnya bukan karena kecantikan wanita itu, melainkan karena ia sangat mengenal wanita itu. Ia masih mengingat bagaimana cara wanita itu tertawa. Bagaimana wanita itu mengibaskan rambutnya ke belakang. Minhyuk tidak pernah melupakan setiap detil yang ada pada wanita itu. Hanya saja, wanita itu bukan lagi seorang gadis remaja yang dulu senang merajuk padanya.

Minhyuk merasakan darahnya berdesir ketika wanita itu menoleh dan menangkap matanya. Mereka membiarkan kedua mata mereka bertemu tanpa beranjak dari tempat masing-masing. Selama beberapa saat, mereka tetap dalam posisi seperti itu sampai dua orang wanita lain mengajak wanita itu bicara dan menariknya ke tempat lain.

Minhyuk belum melepaskan pandangannya selama wanita itu dibawa pergi oleh teman-temannya. Wanita itu menoleh sekilas ke arah Minhyuk sebelum mengikuti teman-temannya pergi.

“Oh! Bukankah itu Krystal?” seru Jungshin.

Minhyuk sama sekali tidak memerlukan Jungshin untuk meyakinkannya. Sejak pertama melihatnya, ia sudah tahu jika wanita itu adalah Krystal. Ya, Krystal akhirnya kembali. Sahabat lamanya telah kembali.

.

April 25, 2004

“TUNGGU!”

Seorang gadis berseragam SMA tampak berteriak dan mengejar sebuah bis. Sayangnya, bis tersebut sudah melaju pergi meninggalkan gadis itu dibelakangnya. Gadis itu berhenti di depan halte bus sambil mengatur napasnya. Sesekali ia akan mengeluarkan umpatan dalam bahasa Inggris. Jika saja bukan karena mobil ayahnya tiba-tiba mogok dan membuat ayahnya tidak bisa mengantarnya, ia pasti sudah duduk tenang dalam perjalanan menuju sekolah saat ini. Ia tidak perlu berlari-lari menuju halte bis dan berkeringat seperti sekarang.

“Aaah! Bisnya sudah berangkat!”

Gadis itu menoleh dan melihat seorang laki-laki yang kira-kira berusia sama dengannya dan mengenakan seragam yang sama dengan miliknya. Laki-laki itu juga terengah-engah dan berusaha mengatur napasnya. Sepertinya laki-laki itu juga ketinggalan bis sama seperti dirinya.

Merasa dirinya sedang ditatap oleh seseorang, laki-laki itu kemudian menoleh. Ia balas menatap si gadis dengan napas yang masih terengah-engah. Laki-laki itu memperhatikan seragam yang digunakan oleh gadis disebelahnya itu.

“Sepertinya aku pernah melihatmu. Apa kita sekelas?” tanya laki-laki itu.

Gadis itu mengerutkan keningnya sambil menatap si laki-laki seolah berusaha mengingat sesuatu. Ia kemudian mengingat seorang siswa laki-laki yang sekelas dengannya yang mirip dengan laki-laki yang ada di depannya saat ini. Hanya saja ia memang belum pernah berkenalan ataupu mengobrol dengan laki-laki itu.

“Sepertinya begitu,” gumam gadis itu ragu.

“Kalau begitu, kajja!” Laki-laki itu tiba-tiba menarik tangan si gadis dan berlari kencang.

Ya! Apa yang kau lakukan? Kau mau membawaku kemana?” tanya si gadis dengan panik.

“Tentu saja ke sekolah! Memangnya kau mau terus berdiri di halte itu dan tidak jadi berangkat ke sekolah?” balas laki-laki itu.

Gadis itu mengangguk mengerti dan membiarkan laki-laki itu membawanya berlari walaupun kakinya sudah mulai terasa sakit.

“Siapa namamu?” tanya laki-laki itu tanpa menurunkan kecepatan berlarinya.

“Krystal! Krystal Jung!” jawab Krystal dengan napas yang tidak teratur lagi.

“Namaku Kang Minhyuk! Senang berkenalan denganmu!” seru laki-laki itu.

Krystal merasa kakinya bisa putus kapan saja ketika mereka akhirnya sampai di sekolah. Jam sekolah sudah menunjukkan jika mereka terlambat sepuluh menit. Dalam hatinya, Krystal sudah mulai merasa gelisah karena sekolahnya ini terkenal ketat dan disiplin. Setiap murid yang melanggar peraturan pasti akan mendapatkan hukuman, apalagi dia hanyalah siswa baru yang baru sebulan bersekolah disana.

Benar saja dugaan Krystal. Kim sonsaengnim yang terkenal karena kedisiplinannya sudah menunggu mereka di pintu utama sekolah dan memberikan mereka hukuman untuk mengepel aula karena terlambat datang ke sekolah.

Maka disinilah Krystal sekarang. Berdiri di tengah aula dengan tongkat pel di tangannya. Beberapa kali ia kembali mengumpat dalam bahasa Inggris dan membuat Minhyuk menoleh bingung ke arahnya. Krystal membalas tatapan Minhyuk dengan kesal.

Ya! Kenapa kau mengajakku berlari? Apa kau mau membuat kakiku putus?” omel Krystal.

“Jika kita tidak berlari sampai sekolah, memangnya kau mau naik apa?” tanya Minhyuk santai.

“Aku bisa naik taksi!”

“Memangnya tadi ada taksi yang lewat? Apa kau tidak tahu jika di daerah itu jarang sekali ada taksi lewat?” sahut Minhyuk.

Berbanding terbalik dengan Krystal, Minhyuk sepertinya justru menikmati hukumannya. Ia bahkan menggerakkan tongkat pelnya sambil bersenandung kecil.

Krystal terdiam mendengar ucapan Minhyuk. Yang dikatakan oleh Minhyuk memang benar. Di daerah itu memang jarang sekali ada taksi lewat. Namun tetap saja Krystal merasa kesal karena Minhyuk membuatnya harus berlari ke sekolah. Krystal sama sekali tidak pernah berlari kecuali dalam pelajaran olahraga.

“Sudahlah, jangan memasang wajah kesal seperti itu. Nikmati saja hukuman ini. Kita juga jadi tidak perlu masuk kelas dan mendengarkan pelajaran dari Kim sonsaengnim yang membosankan itu,” ujar Minhyuk.

Krystal menghela napasnya. Dalam hati, mau tidak mau ia kembali membenarkan perkataan Minhyuk.

“WAAA!!!”

Krystal yang masih berwajah cemberut nampak terkejut ketika mendengar suara teriakan. Tetapi detik berikutnya, wajah terkejutnya itu segera berganti dengan tawa yang sangat keras.

“HUAHAHAHAHA! Apa yang kau lakukan?” Krystal tertawa terbahak-bahak melihat Minhyuk yang terpeleset karena lantai yang belum kering.

Minhyuk meringis sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit ketika jatuh. Namun dalam hatinya, ia tersenyum karena akhirnya Krystal tidak lagi berwajah cemberut. Sebenarnya, alih-alih merasa kesal dengan sikap Krystal yang marah-marah padanya, Minhyuk justru merasa gadis itu terlihat imut. Tetapi ketika melihat Krystal tertawa lepas, gadis itu terlihat sangat cantik dimatanya.

Ya! Bisakah kau berhenti menertawakanku dan membantuku berdiri?”

Krystal berhenti tertawa dan mencebikkan bibirnya pada Minhyuk, namun ia tetap mengulurkan tangannya. Minhyuk meraih tangan Krystal dan bangkit berdiri. Saat itulah ia melihat nametag yang tersemat di baju seragam Krystal.

“Jung Soo Jung?” Minhyuk mengangkat kedua alisnya membaca nama yang tertera di nametag Krystal.

“Itu nama Koreaku,” ungkap Krystal sambil melanjutkan mengepel.

“Lalu kenapa kau dipanggil Krystal? Kurasa Soo Jung nama yang cantik,” komentar Minhyuk.

“Sejak kecil aku tinggal di Amerika, jadi aku lebih terbiasa dipanggil dengan nama Krystal,” jelas Krystal.

“Kalau begitu aku akan memanggilmu Soo Jung,” ujar Minhyuk.

“Tidak boleh,” sahut Krystal.

“Aku tidak meminta persetujuanmu,” balas Minhyuk.

Krystal membelalakkan kedua matanya pada Minhyuk namun laki-laki itu berpura-pura tidak melihatnya dan sibuk mengepel. Sebuah ide jahil kemudian melintas di otak Krystal. Gadis itu membenamkan tongkat pelnya di dalam ember dalam waktu yang cukup lama. Ia kemudian mengangkatnya dan berjalan mendekati Minhyuk dari belakang. Ia mengayunkan tongkat pelnya seperti sabetan pedang yang membuat air bercipratan ke segala arah termasuk ke punggung Minhyuk.

Ya!” seru Minhyuk kaget. “Apa yang kau lakukan? Neo micheoso? Apa kau sudah gila?”

Krystal tertawa melihat ekspresi kaget Minhyuk. Ekspresi yang segera berubah ketika ia melihat Minhyuk ikut membenamkan tongkat pelnya dalam ember dan bersiap melakukan hal yang sama dengannya. Krystal kemudian berlari mengelilingi aula sambil tertawa-tawa dan menghindari kejaran Minhyuk yang nampaknya masih bertekad untuk membalasnya.

Tanpa mereka sadari, situasi berubah menjadi menyenangkan ketika mereka menyelesaikan hukuman mereka sambil bercanda satu sama lain. Hukuman yang semula terasa berat-pun berhasil mereka selesaikan dengan sukacita. Sejak itu jugalah hubungan Krystal dan Minhyuk menjadi dekat. Mereka masih sering bertengkar dan mempermasalahkan persoalan kecil, namun mereka juga selalu mengakhirinya dengan tertawa bersama.

.

February 20, 2007

“Jangan menangis lagi,” ujar Minhyuk sambil menepuk-nepuk puncak kepala Krystal. “Kau harusnya senang karena kau lulus.”

“Aku menangis karena bahagia tahu!” balas Krystal dengan setengah terisak.

Hari itu merupakan hari kelulusan bagi angkatan Minhyuk dan Krystal. Begitu kelulusan mereka diumumkan, beberapa siswi langsung menangis terharu seperti Krystal. Beberapa siswa laki-laki juga ada yang meneteskan airmatanya karena bahagia. Perjuangan mereka selama tiga tahun akhirnya terbayarkan dan kini mereka akan melangkah menuju tingkat yang lebih tinggi lagi.

Minhyuk terkekeh mendengar jawaban Krystal. Ia sendiri sebenarnya merasa sangat senang dan terharu, namun ia menahan dirinya supaya euforia yang ia rasakan tidak membuatnya mengeluarkan airmata. Minhyuk bukanlah tipe laki-laki yang akan semudah itu mengeluarkan airmatanya.

“Aku juga merasa sedih,” ungkap Krystal kemudian. “Apakah setelah ini kita tidak akan bertemu lagi?”

Tepukan di kepala Krystal kini berubah menjadi usapan lembut. Minhyuk hanya tersenyum ketika Krystal menatapnya dengan wajah yang masih basah karena airmata.

Krystal akan melanjutkan kuliah di Amerika. Seluruh keluarganya juga sepakat untuk pindah kembali ke Amerika. Itu berarti mereka akan berpisah untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.

“Entahlah,” sahut Minhyuk pelan. “Aku juga sedih karena kita harus berpisah.”

“Kita—akan tetap berteman?” tanya Krystal.

Minhyuk tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja. Kita akan menjadi teman selamanya,” jawabnya.

Krystal tersenyum kecil. Tanpa disadari Minhyuk, senyuman Krystal menyembunyikan kepahitan yang dirasakannya. Kata-kata Minhyuk membuat hati gadis itu terasa sakit. Jika harus jujur, Krystal tidak ingin mereka berakhir sebagai teman. Ia membenci label teman yang melekat pada diri mereka berdua. Tetapi melihat Minhyuk yang tersenyum dan mengakuinya sebagai temannya membuat Krystal tidak berdaya untuk mengungkapkan perasaannya. Ia tidak bisa mengatakan jika ia menyukai laki-laki itu.

.

August 27, 2007

“Kau tidak perlu repot-repot mengantarku,” ucap Krystal.

Hari ini Krystal akan berangkat ke Amerika. Anggota keluarganya yang lain sudah berangkat lebih dulu ke Amerika. Krystal menyusul belakangan karena ia mengatakan ingin menghabiskan waktu liburannya di Korea sebelum memulai kuliah di Amerika.

“Tidak apa. Aku ingin melihatmu sebelum kita berpisah untuk waktu yang lama,” sahut Minhyuk.

Krystal tersenyum pada Minhyuk yang dibalas oleh laki-laki itu. Sesaat mereka berdua hanya berdiri diam dan saling bertukar pandang. Mereka sama-sama teringat pada semua kenangan yang mereka lalui bersama semasa SMA.

“Minhyuk-ah—“ panggil Krystal.

Gadis itu menatap Minhyuk lekat-lekat. Minhyuk balas menatap Krystal dengan pandangan bertanya dan kedua alis terangkat.

“Haruskah—“ Krystal nampak bimbang, “haruskah aku tidak pergi? Haruskah aku tetap disini?”

Minhyuk terkejut mendengar ucapan Krystal. Gadis itu menatapnya tanpa ragu bahkan seolah menantang Minhyuk untuk memberikan jawaban.

“Pergilah.”

Minhyuk segera menyesali perkataan yang keluar dari mulutnya. Padahal sebenarnya ia ingin sekali Krystal tetap ada di dekatnya. Ia tidak ingin Krystal pergi jauh.

Krystal menundukkan wajahnya dengan cepat setelah mendengar jawaban Minhyuk. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Ia berharap Minhyuk akan menahannya supaya tidak pergi. Ia bahka sudah bertekad jika Minhyuk memintanya untuk tetap tinggal, maka ia akan tetap berada di Seoul. Tapi seperti yang sudah diduganya, bagi Minhyuk, mungkin dirinya hanya sekedar teman. Tidak lebih.

“Baiklah.” Krystal berusaha mengatur suaranya setenang mungkin. “Kalau begitu aku pergi dulu. Good bye.”

Krystal berusaha tersenyum pada Minhyuk namun matanya masih memancarkan kekecewaan. Gadis itu berbalik dengan cepat dan berjalan meninggalkan Minhyuk sambil menarik kopernya.

Minhyuk tertegun menatap punggung Krystal yang semakin menjauh ditelan lalu-lalang orang banyak. Ia mengangkat tangannya kemudian menurunkannya lagi. Ia ingin memanggil Krystal tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ia ingin mengejar gadis itu tetapi kakinya seolah dipaku ke lantai bandara yang keras.

Minhyuk merutuki dirinya. Kisahnya berakhir bahkan sebelum ia bisa menuliskan kalimat pembukanya.

Selamat tinggal musim panas. Selamat tinggal Jung Soo Jung.

.

August 30, 2015

Selembar foto dalam pigura tergeletak di atas meja. Minhyuk mengambilnya dan menatap foto itu dengan senyum sedih. Foto itu adalah foto kelulusannya delapan tahun yang lalu bersama Krystal sekaligus foto terakhirnya bersama gadis itu.

Entah sudah berapa kali penyesalan datang melingkupinya. Berkali-kali ingatan perpisahannya dengan Krystal melintas di kepalanya. Setiap kali ia mengingat kejadian itu, Minhyuk merasa ingin memukul kepalanya sendiri. Seharusnya ia bisa mengambil kesempatan itu untuk jujur pada Krystal mengenai perasaannya selama ini. Seharusnya ia meminta Krystal untuk tetap tinggal dan bukannya malah menyuruhnya untuk pergi. Tetapi pada akhirnya, yang dilakukannya adalah membiarkan Krystal pergi dan membuat kalimat-kalimat yang sangat ingin diucapkannya tetap menjadi kalimat yang hanya tersimpan dalam hatinya.

Minhyuk menghela napasnya. Akhir musim panas ini menandai bahwa delapan tahun sudah berlalu. Ia meletakkan kembali pigura tersebut ke atas meja. Ia kemudian mengambil jaketnya dan berencana untuk pergi ke kafe di dekat rumahnya. Ia membutuhkan secangkir kopi untuk menenangkan dirinya dari rasa bersalah dan kecewanya.

Minhyuk berjalan keluar rumahnya. Jarak antara rumahnya dan kafe yang ditujunya cukup dekat. Minhyuk suka pergi ke kafe itu dengan berjalan kaki karena ia bisa menikmati pemandangan di sekitarnya. Apalagi di jalur itu ada sebuah taman yang cukup luas dan indah. Taman yang dulu sering ia kunjungi bersama Krystal.

Kedua kaki Minhyuk berhenti melangkah saat ia melewati taman itu. Tetapi kali ini bukan keindahan taman itu yang membuatnya berhenti melainkan punggung seorang gadis yang berdiri di tengah taman itu. Gadis itu berdiri menatap ke arah kolam ikan yang memang berada di tengah taman dan tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya di belakang.

Walaupun delapan tahun sudah berlalu, namun Minhyuk tidak pernah melupakan punggung itu. Punggung yang sama yang dulu selalu menunggunya di taman itu. Dulu setiap kali Minhyuk melihat punggung itu berdiri disana, ia akan selalu memanggil nama gadis itu. Krystal akan menoleh mendengar panggilannya dan meneriakkan nama Minhyuk dengan senyum lebar di wajahnya.

Minhyuk berniat untuk meninggalkan tempat itu, tetapi kedua kakinya tidak mau melangkah pergi. Ia tetap berdiri diam dan memandang Krystal yang masih membelakanginya. Sesuatu dalam hatinya menyuruhnya untuk menghampiri Krystal tetapi ia merasa bimbang untuk melakukannya.

Setelah beberapa menit berlalu, Minhyuk mulai melangkahkan kakinya mendekati Krystal yang entah mengapa juga belum beranjak dari tempat itu. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Krystal lagi. Ia tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya.

“Jung Soo Jung.”

Krystal membalikkan tubuhnya dan tampak terkejut melihat Minhyuk ada di belakangnya. Setelah menguasai dirinya, bibir Krystal melengkung membentuk senyuman manis.

“Sudah lama kita tidak bertemu,” sapa Minhyuk.

“Minhyuk-ah,” panggil Krystal. “Apa kabar?”

“Baik,” sahut Minhyuk. “Bagaimana denganmu?

“Sama denganmu,” jawab Krystal, masih dengan senyumannya yang tanpa ia sadari telah membuat jantung Minhyuk berdebar begitu kencang.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” Minhyuk memberanikan diri untuk memecah keheningan yang muncul selama beberapa saat.

Krystal kembali tersenyum dan menatap Minhyuk lekat. “Mengenang masa lalu,” ucapnya.

Minhyuk mengerjapkan kedua matanya sementara Krystal hanya tersenyum misterius.

“Kau sudah lupa? Ck, kupikir kau tidak akan melupakanku. Aku tidak menyangka bahwa kau begitu mudah melupakanku dan kenangan kita, padahal selama di Amerika aku selalu memikirkanmu,” aku Krystal sambil tertawa kecil.

“Kau—kau memikirkanku?” Minhyuk mengulang memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

Semburat merah muda muncul di kedua pipi Krystal. Gadis itu hanya tersenyum malu tanpa berkata apa-apa lagi.

“Aku mengingat semuanya dengan jelas,” ujar Minhyuk tiba-tiba dan membuat Krystal ganti menatapnya bingung.

“Hari itu, akhir musim panas tahun 2004, kau mengajakku kencan untuk pertama kalinya dan—“

Ya! Apa maksudmu aku mengajakmu kencan?” Krystal memotong ucapan Minhyuk dan memukul lengan laki-laki itu, membuat Minhyuk terkekeh.

“—kita berjanji untuk bertemu di taman ini. Kau datang terlambat tiga puluh menit. Aku tidak mungkin melupakannya,” lanjut Minhyuk.

“Aku datang terlambat karena aku harus membantu eomma-ku dulu sementara eonni-ku sudah lebih dulu pergi. Aku sudah menjelaskannya padamu saat itu.” Krystal menjelaskan cepat.

“Aku tahu,” balas Minhyuk.

Mereka berdua tertawa bersama. Kenangan delapan tahun yang lalu kembali memenuhi memori mereka bagaikan film yang sedang diputar. Tanpa mereka ketahui, jantung masing-masing masih berdegup begitu kencang saat mereka saling memandang satu sama lain.

“Berapa lama kau akan berada di Seoul?” Minhyuk bertanya pelan, meskipun sebenarnya ia takut mendengar jawabannya. Ia masih belum ingin kehilangan Krystal lagi. Tidak ketika akhirnya mereka bertemu kembali setelah delapan tahun lamanya. Tidak ketika akhirnya semesta nampak memberinya kesempatan untuk mengungkapkan rahasia perasaan yang dipendamnya selama bertahun-tahun.

Krystal tidak langsung menjawab pertanyaan Minhyuk melainkan hanya tersenyum. “Aku tidak akan meninggalkan Seoul lagi,” jawabnya. “Aku akan tinggal di Seoul lagi.”

Krystal akhirnya berhasil membujuk orangtuanya untuk mengijinkannya kembali ke Seoul. Selama beberapa tahun terakhir, ia berjuang keras untuk membuktikan pada kedua orangtuanya bahwa ia bukan lagi gadis kecil mereka yang manja. Ia ingin membuktikan pada kedua orangtuanya bahwa ia bisa hidup mandiri meskipun jauh dari orangtuanya. Setelah melalui proses negosiasi yang panjang, kedua orangtua Krystal akhirnya mengijinkan putri bungsu mereka itu untuk kembali ke Seoul.

Sesampainya di Seoul, Krystal segera mencari kabar tentang Minhyuk. Dimana laki-laki itu tinggal sekarang, apa yang ia kerjakan, bagaimana kabarnya, dan hal-hal lain yang tidak ia ketahui tentang Minhyuk selama beberapa tahun terakhir. Jika ia masih boleh berharap, maka Krystal berharap ia belum kehilangan kesempatan untuk sekedar mengungkapkan perasaannya dan bagaimana ia sangat berterima kasih pada Minhyuk untuk setiap waktu yang telah mereka lalui bersama. Hal yang belum pernah ia ungkapkan, bahkan ketika mereka harus berpisah delapan tahun yang lalu.

“Benarkah? Kau kembali tinggal di Seoul?” Kedua mata Minhyuk melebar terkejut. Sejujurnya, ia bahkan tidak berani berharap Krystal akan menjawab seperti itu, meskipun dalam dirinya, ia merasakan kelegaan menjalari seluruh tubuhnya.

Krystal menganggukkan kepalanya meyakinkan Minhyuk. “Kuharap kau masih mau menerimaku kembali disini,” ucap Krystal setengah bergurau.

Minhyuk tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Kedua mata sipitnya bahkan ikut tersenyum mendengar penuturan Krystal.

“Apa kau punya waktu?”

“Untuk beberapa hari ini aku punya banyak sekali waktu luang. Ada apa?” tanya Krystal.

“Kali ini aku yang akan mengajakmu kencan. Banyak hal yang harus kau ceritakan dan aku juga punya banyak hal yang ingin kuceritakan padamu,” kata Minhyuk sambil tersenyum. “Mungkin juga ada hal-hal yang belum sempat kita ungkapkan di masa lalu.”

Krystal tertawa kecil sebelum menyanggupi, “Baiklah. Kemana kita akan pergi?”

“Dan bukankah sudah kukatakan padamu bahwa aku tidak mengajakmu kencan dulu?” sambung Krystal yang mencebikkan bibirnya setengah tersenyum geli.

Minhyuk hanya tertawa dan mengulurkan tangan kanannya. Tidak butuh waktu lama bagi Krystal untuk menyambut uluran tangan Minhyuk. Gadis itu tersenyum ketika Minhyuk menggenggam tangannya erat.

“Aku akan menunjukkan padamu tempat-tempat baru yang bagus di Seoul supaya kau tidak ketinggalan informasi,” ujar Minhyuk sambil terus menggenggam erat tangan Krystal. Dalam hatinya ia berjanji bahwa ia tidak akan pernah melepaskan genggamannya pada Krystal lagi.

Selamat tinggal musim panas. Selamat datang kembali Jung Soo Jung.

-END-

Advertisements

3 thoughts on “Goodbye Summer

  1. Kalau baca ff ini setelah mendengar goodbye summer dan memahami liriknya, saya harus akui, ff ini benar2 indah. Detil perasaan masing2 tokoh menjadi nyata. Sebagai pembaca, saya dapat merasakan yang namanya cinta pertama. Good story, one of the best

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s