Shoes – #MonthsOfLove (March)

shoescover

Shoes

A fanfiction by Felicia Rena

Ficlet – 829 words

Infinite Hoya & Red Velvet Irene

For projects Months of Love – March

Song of the month : Beautiful by EXO

.

.

March 1995

Seorang anak laki-laki menangis sendirian di pojok taman sekolah taman kanak-kanaknya. Ia berjongkok di balik pot bunga besar yang menutupi tubuh mungilnya. Kedua matanya melirik takut ke arah gerombolan anak-anak seusianya yang berlari menuju gerbang sekolah sambil tertawa mengejeknya.

Anak laki-laki itu menatap kedua kakinya yang hanya berbalut kaus kaki. Anak-anak tadi telah mengambil sepatunya dan menyembunyikannya entah dimana. Kini anak laki-laki itu tidak tahu bagaimana ia harus pulang. Ia juga tidak tahu apa yang akan ia katakan pada ibunya nanti.

Ditengah keputusasaannya, ia merasa ada seseorang mendekatinya. Ia menatap takut-takut ketika menyadari orang itu telah berada di depannya. Ia melihat seorang anak perempuan seusianya sedang menatapnya. Anak itu sangat cantik dan matanya seolah bersinar. Tanpa berkata apa-apa, anak perempuan itu meletakkan sepasang sepatu di hadapan si anak laki-laki.

Anak laki-laki itu menatap sepasang sepatu yang kini ada di depannya. Kedua matanya mengerjap tidak percaya. Sepatunya! Itu sepatunya! Tapi bagaimana—?

Seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran anak laki-laki yang kini sedang menatapnya, si anak perempuan tersenyum.

“Aku melihat Donghoon menyembunyikan sepatumu di balik loker. Kebetulan aku melihatnya, jadi aku mengambilnya untuk mengembalikannya padamu,” kata si anak perempuan.

Anak laki-laki itu mengusap kedua matanya, menghapus sisa-sisa airmata di pipinya. Ia menatap anak perempuan itu dengan takjub.

Gomawoyo. Terima kasih,” ucapnya pelan.

Gwaenchanayo. Sama-sama. Aku tidak suka pada Donghoon. Ia sangat suka mengganggu anak-anak lainnya. Lain kali, jika ia menjahilimu, laporkan saja padaku, eoh?” balas anak perempuan itu.

Sang anak laki-laki menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari si anak perempuan.

“Howon-ah!”

Lee Howon menoleh ketika mendengar suara ibunya memanggilnya. Ia bergegas memakai sepatunya dan berlari keluar dari persembunyiannya. Ia melihat ibunya—yang juga telah melihatnya—merentangkan kedua tangannya untuk menyambutnya. Ia berlari ke arah ibunya sebelum teringat akan sesuatu dan berbalik. Anak perempuan itu masih menatapnya sambil tersenyum.

“Siapa namamu?” tanya Howon.

“Joohyun. Namaku Bae Joohyun!” sahut anak perempuan itu.

“Namaku Lee Howon! Terima kasih atas bantuanmu, Joohyun-ah!” teriak Howon sambil melambaikan tangannya pada Joohyun yang balas melambaikan tangannya juga.

.

You came to me at the end of a hard day
The desperate prayers of a small boy have reached you
Without color, scent or sound, you came into my heart
Like the color of the clear street after the rain
You resemble that freshness, my goddess

(Beautiful – EXO)

.

March 2008

“Dimana mereka menyembunyikan sepatuku? Aish!” Joohyun memeriksa setiap sudut kelasnya dengan teliti, tetapi ia tidak dapat menemukan yang ia cari.

“Awas saja nanti! Aku akan membalas mereka!” gerutunya sambil berlutut di antara meja-meja untuk mengecek bagian bawah meja.

Perhatiannya teralihkan ketika ia melihat sepasang kaki berdiri di sampingnya. Ia mendongak dan melihat Howon menatapnya sambil tersenyum.

“Mencari ini?” Howon mengeluarkan sepasang sepatu dari balik punggungnya. Ia meletakkan sepasang sepatu berwarna hitam itu di lantai supaya Joohyun dapat melihatnya dengan jelas.

“Sepatuku!” Joohyun menyambar sepatunya dan bersorak gembira. “Gomawo, Howon-ah! Terima kasih! Kukira aku harus pulang tanpa sepatu hari ini.”

Howon tersenyum melihat Joohyun yang sedang memakai sepatunya dengan gembira.

“Dimana mereka menyembunyikannya?”

“Aku melihat Seungyeon menyembunyikannya di dalam lemari sapu. Kau tidak terpikirkan tempat itu, eh?” sahut Howon.

Joohyun menepukkan telapak tangannya ke dahi. “Lemari sapu! Kenapa aku bisa lupa tidak mengecek tempat itu?”

“Kupikir selama ini kau spesialis penemu barang-barang hilang, ternyata kau tidak bisa menemukan barangmu sendiri,” ujar Howon sambil tertawa.

“Jangan tertawa!” Joohyun mencebikkan bibirnya kesal.

Howon berhenti tertawa dan tersenyum sebagai gantinya. Ia menatap Joohyun yang sedang sibuk menalikan tali sepatunya. Howon bersumpah ia belum pernah melihat gadis lain secantik Joohyun, padahal ia telah melihatnya hampir setiap hari selama tiga belas tahun terakhir. Gadis itu tetap cantik seperti saat ia pertama kali melihatnya tiga belas tahun yang lalu. Gadis yang mendatangi seorang anak laki-laki kecil saat ia berada di tengah kebingungan karena kehilangan sepatunya. Howon masih akan tertawa jika ia mengingat hari itu.

“Kenapa kau tertawa lagi? Kau ingat saat aku pertama kali menemukan sepatumu, eoh?” Joohyun menatap Howon sambil mengerling jahil.

“Aku tidak menyangka akan tiba hari dimana kaulah yang kehilangan sepatumu dan bukan aku,” balas Howon sambil menggelengkan kepalanya.

Gwaenchana. Tidak apa-apa. Aku yakin kau pasti akan bisa menemukan sepatuku jika aku kehilangannya,” ucap Joohyun santai.

Geurae. Tentu saja. Aku akan menemukannya untukmu,” kata Howon.

“Aku sudah tahu kau pasti akan melakukannya.” Joohyun bangkit berdiri. “Kajja! Ayo kita pulang!”

“Aku benar-benar heran, kenapa orang lain nampaknya suka sekali menyembunyikan sepatu kita ya?” tanya Joohyun selagi mereka berjalan beriringan.

Howon mengangkat bahunya. “Entahlah. Tapi aku berterima kasih pada Donghoon karena dulu ia telah menyembunyikan sepatuku.”

Joohyun menatap Howon dengan kening berkerut. “Wae? Kenapa?” tanyanya.

“Karena berkat kejadian itu, aku bisa mengenalmu,” jawab Howon singkat.

Joohyun tersenyum mendengarnya. “Kalau begitu, aku juga harus berterima kasih pada Donghoon,” sahutnya.

Kali ini giliran Howon yang mengerutkan keningnya. Joohyun menoleh menatapnya dan melihat tatapan bertanya yang tidak disuarakan oleh Howon.

“Karena berkat kejadian itu, aku bisa mengenalmu dan sekarang kau bisa membantuku menemukan sepatuku yang hilang!” ujar Joohyun sambil tertawa.

Howon mengerjapkan kedua matanya lalu ikut tertawa bersama Joohyun.

Terima kasih, Donghoon-ah.

-END-

Advertisements

One thought on “Shoes – #MonthsOfLove (March)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s