Wish

wishdb

Wish

A Fanfiction by Felicia Rena

Cast :

Lee Jonghyun | Im YoonA

Genre :

Not so sure by what genre, so just put in general

Alternate universe, so they’re not idol in this story

Rating :

PG 15

Author’s Note :

FF ini sebenernya adalah project birthday-nya Jonghyun tahun lalu, jadi tahun dan latar disini adalah tahun 2015. Hope you don’t mind. Kenapa baru di publish sekarang? Karena FF ini gagal selesai tepat waktu x”D

Hope you’ll enjoy!

.

Happy Birthday Lee Jonghyun

.

May 15, 2015

23.59

….

00.00

Suara dering ponsel beberapa kali berbunyi, memecah keheningan malam itu. Seorang lelaki yang kini sudah menginjak usia dua puluh lima tahun meraih benda kecil berbentuk persegi panjang itu dari atas mejanya. Dilihatnya ada beberapa pesan yang masuk ke nomornya. Ia membukanya satu-persatu, walaupun sudah bisa menduga isinya.

‘Jonghyun-ah! Saengil chukhahae! I’m wishing you the best! Kekeke ^^’

Hyung! Kau berulangtahun hari ini? Selamat bertambah tua! Hahaha! Saengil chukhahanda, ne!’

Oppa! Saengil chukhahamnida! Seiring bertambahnya usiamu, semoga kau juga bertambah tampan! Kekeke! ^^ P.S: Jangan beritahu Yonghwa oppa soal ini.’

Seulas senyum terukir di wajah tampan pemilik nama Lee Jonghyun ini. Ia tengah membaca pesan-pesan yang masuk, ketika ponselnya kembali menyala, kali ini dikarenakan sebuah panggilan masuk. Jonghyun menggeser tombol jawab setelah melihat nama peneleponnya.

Yeoboseyo?”

Ya! Lee Jonghyun! Akhirnya kau bertambah tua, huh?” Jonghyun mau tidak mau ikut tersenyum ketika ia mendengar suara kekehan dari seberang sana.

“Tetap saja aku belum setua dirimu, hyung,” balas Jonghyun setengah mengejek pada orang yang meneleponnya.

“Aish! Kau ini benar-benar!” Kyuhyun terdengar kesal mendengar ucapan Jonghyun. “Cepatlah keluar! Apa kau mau membiarkan kami semua mati kedinginan?”

“Hah?” Jonghyun mengernyitkan keningnya bingung akan maksud perkataan kakak sepupunya itu.

Perlahan, dan dengan dipenuhi rasa penasaran, Jonghyun berjalan keluar kamarnya menuju pintu depan rumahnya. Tanpa melihat terlebih dulu melalui jendela, ia langsung membuka pintu.

“KEJUTAAAN!!!”

Jonghyun mengerjapkan matanya melihat keramaian yang terjadi di depan pintu rumahnya. Cho Kyuhyun yang berdiri paling dekat dengan pintu meledakkan konfeti, membuat kertas-kertas kecil berhamburan ke arah Jonghyun, menghiasi rambut maupun pundaknya. Sambil berusaha menghalau taburan konfeti dari Kyuhyun, Jonghyun mengedarkan pandangannya. Ia melihat sahabat-sahabatnya turut berdiri di sana dengan senyum lebar, yang membuatnya tak urung ikut tersenyum juga.

Saengil chukhahae!” ucap Jung Yonghwa sambil melebarkan cengiran khasnya dan menepuk pundak Jonghyun.

Sementara itu, tepat di depan Jonghyun, ada Lee Jungshin yang memegang kue tart berukuran sedang dengan lilin-lilin kecil yang menyala di atasnya. Kang Minhyuk di sebelahnya membantu mempertahankan supaya api di lilin tersebut tetap menyala.

Saengil chukhahaeyo, hyung!” seru Jungshin dan Minhyuk bersamaan.

“Seohyun menitipkan salamnya untukmu. Ia tidak bisa ikut datang kemari. Kau tahu kan, orangtuanya melarangnya keluar rumah setelah lewat pukul sepuluh malam,” kata Yonghwa. Ngomong-ngomong, Seohyun adalah kekasihnya.

Jonghyun menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Kejutan ini terasa aneh baginya. Bayangkan saja, pada hari dimana kau menjadi seorang lelaki yang berusia dua puluh lima tahun, datanglah sahabat-sahabat lelakimu di tengah malam dan membawakanmu kue tart. Apalagi Jonghyun adalah tipe orang yang beranggapan bahwa tidak perlu merayakan hari-hari spesial seperti ini.

Hyung, ucapkan keinginanmu!” ujar Minhyuk ketika Jonghyun akan meniup lilinnya.

“Benar! Jangan lupa make a wish!” Jungshin ikut menimpali.

Satu lagi keanehan yang di alami Jonghyun di menit-menit pertama ia mengunjak usia dua puluh lima. Diminta mengucapkan keinginan sebelum meniup lilin. Astaga, bahkan meniup lilin ulang tahun saja rasanya sudah tidak perlu dilakukan lagi di usianya yang sekarang, apalagi ditambah harus melakukan make a wish.

Wish, eh? Permintaan apa yang ia inginkan di usianya saat ini?

Jonghyun merasa ia sudah memiliki segalanya. Ia sudah memiliki rumah dan mobil sendiri, pekerjaan yang mapan, dan bisa dikatakan karir yang cemerlang sebagai seorang arsitek muda. Ia bisa melakukan apapun dan pergi kemanapun yang ia mau. Apa lagi yang ia butuhkan?

Mungkin hanya satu. Ya. Sebuah harapan yang sudah bertahun-tahun lamanya ia pendam. Sebuah keinginan yang mungkin selamanya hanya akan menjadi keinginan dan tidak akan pernah menjadi nyata.

Jonghyun memejamkan kedua matanya. Untuk kali ini saja, biarkan ia percaya bahwa mengucapkan keinginan sebelum meniup lilin ulang tahun bisa membuat harapannya menjadi kenyataan.

‘Aku ingin ia kembali padaku.’

Dalam sekali tiupan, Jonghyun berhasil memadamkan semua lilin di atas kuenya.

-wish-

Flashback (May 15, 2005)

“Apakah kau akan kembali?”

“Aku tidak tahu.”

Gadis berusia lima belas tahun itu menundukkan kepalanya, menghindari tatapan kecewa dari laki-laki yang berdiri di hadapannya. Laki-laki yang sudah bersamanya sejak ia masih berusia lima tahun. Sahabat terbaiknya sekaligus cinta pertamanya.

“Aku juga tidak ingin pergi. Kau tahu itu.” Gadis itu menggumam pelan. Ia berusaha keras mempertahankan suaranya yang mulai bergetar karena menahan tangis.

Yoona benar-benar tidak ingin pergi meninggalkan Korea, negara tempat ia lahir dan dibesarkan. Tempat dimana ia menemukan orang-orang yang menyayanginya, teman-temannya, sahabatnya, bahkan mungkin cintanya. Tetapi ketika orangtuanya memutuskan untuk pindah, maka ia-pun tidak memiliki pilihan lain selain mengikutinya.

Jonghyun menyadari perubahan pada suara Yoona. Ia mengulurkan tangannya ragu sebelum akhirnya mendaratkannya di pundak Yoona dan mengusapkannya pelan untuk menenangkan gadis itu.

“Jangan menangis,” ucap Jonghyun. Hal terakhir yang ingin dilihatnya adalah melihat Yoona menangis.

“Aku pasti akan merindukanmu.”

Yoona tersenyum kecil di sela-sela isak tangisnya saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Jonghyun. “Nado. Aku juga akan merindukanmu,” balasnya.

“Kapan kau akan pindah?” tanya Jonghyun.

Yoona menggigiti bibir bawahnya, nampak ragu untuk menjawab pertanyaan Jonghyun.

“Besok.” Yoona menjawab pelan tanpa menatap Jonghyun.

Jonghyun menghela napasnya. Ia tidak menyangka bahwa Yoona akan pergi secepat itu. Jika ia boleh mengatakan yang sejujurnya, ia belum siap untuk berpisah dengan Yoona. Sejak usianya lima tahun, ia belum pernah berpisah dari Yoona lebih dari satu minggu, dan sekarang mereka akan berpisah dalam rentang waktu yang tidak bisa ditentukan.

“Aku akan mengantarkanmu pulang. Kau pasti lelah dan masih harus bersiap-siap kan?” ujar Jonghyun.

Yoona menganggukkan kepalanya pelan. Ia membiarkan Jonghyun mengantarnya pulang dalam diam.

Sesampainya di rumah Yoona, gadis itu menahan Jonghyun. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Jonghyun hanya diam dan menunggu Yoona mengatakan sesuatu.

Mianhae. Maafkan aku,” ucap Yoona akhirnya. “Maafkan aku karena aku baru memberitahumu sekarang. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk memberitahumu.”

Jonghyun tersenyum lembut. “Gwaenchanha. Aku mengerti. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku tidak kecewa karena kau baru memberitahuku sekarang, tapi aku mengerti.”

“Maafkan aku,” ulang Yoona pelan.

“Sudahlah,” potong Jonghyun. Ia tersenyum dan melanjutkan sembari bergurau. “Jangan rusak pertemuan terakhir kita ini dengan suasana seperti ini.”

Yoona tertawa kecil dan memberikan pelukan singkat pada Jonghyun.

“Aku akan mengantarkanmu besok. Aku harus melihatmu dulu sebelum kau berangkat,” kata Jonghyun. “Kabari aku kapan kau akan berangkat, araseo? Kau mengerti? Jangan kecewakan aku lagi dengan pergi diam-diam.”

Yoona tersenyum geli melihat Jonghyun yang memasang wajah cemberut. Sudah pasti ia akan merindukan laki-laki yang selalu bersamanya selama sepuluh tahun ini.

Araseo. Aku mengerti. Aku akan mengabarimu nanti, eoh,” sahut Yoona.

“Masuklah dan istirahatlah. Kau akan melakukan perjalanan panjang besok,” ucap Jonghyun, meskipun sebenarnya ia masih ingin menghabiskan wakunya bersama Yoona.

Yoona mengangguk pelan. “Hati-hati di jalan. Sampai bertemu besok,” katanya.

Jonghyun memandang punggung Yoona yang berbalik dan berjalan menjauh menuju pintu rumahnya. Jantungnya seolah mendadak berhenti ketika gadis itu tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik lagi. Yoona menatap Jonghyun dengan seulas senyum yang perlahan terukir di wajahnya.

Saengil chukhahaeyo, Jonghyun-ah.” Adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Yoona pada Jonghyun sebelum gadis itu akhirnya menghilang di balik pintu rumahnya.

-wish-

May 15, 2015

11.15

Jonghyun mengetuk-ngetukkan pensilnya di atas meja. Hamparan blueprint berisi rancangan proyek terbarunya menghabiskan lebih dari separuh mejanya. Jonghyun mencermati setiap detail yang tertera dalam cetak biru itu untuk memastikan semuanya sempurna.

Walaupun hari ini adalah hari ulangtahunnya, ia tetap harus datang untuk bekerja. Baginya, tidak ada waktu untuk bersantai. Terlebih lagi ia memang tidak suka merayakan hari-hari spesial seperti itu.

Suara pintu yang terbuka dengan keras membuat Jonghyun terlonjak kaget. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Kyuhyun yang menerobos masuk ruang kerjanya tanpa permisi dengan tatapan mencela. Jonghyun baru saja akan membuka mulut untuk menegur sepupu sekaligus rekan kerjanya itu jika saja Kyuhyun tidak lebih dulu bersuara.

“Jonghyun-ah!” panggil Kyuhyun yang masih terengah-engah. “Ada yang ingin kukatakan padamu!”

Kyuhyun masih sibuk mengatur napasnya yang tidak beraturan. Kelihatannya ia berlari untuk mencapai ruangan Jonghyun. Fakta itu membuat Jonghyun bertanya-tanya, ada hal penting apakah yang ingin Kyuhyun sampaikan.

“Aku membawa berita besar untukmu!” ujar Kyuhyun di sela-sela tarikan napasnya.

Kedua alis Jonghyun bertaut bingung. “Atur dulu napasmu dengan benar, baru berbicara, hyung. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan,” balas Jonghyun.

Kyuhyun mematuhinya. Ia mengatur napasnya, dan setelah napasnya kembali normal, barulah ia kembali berbicara.

“Jonghyun-ah!” panggil Kyuhyun lagi. “Ia kembali!”

Bahu Jonghyun menegang. Kedua matanya melebar kaget. Siapa yang Kyuhyun maksud dengan ia? Apakah—

“Ia sudah kembali.” Kyuhyun kembali mengulang ucapannya untuk meyakinkan Jonghyun. “Ia… Im Yoona.”

-wish-

Jonghyun melangkahkan kakinya menyusuri lorong kantornya ragu. Kata-kata Kyuhyun terus terngiang jelas dalam otaknya. Ia kembali? Benarkah Im Yoona sudah kembali?

“Apa maksudmu, hyung?” Jonghyun menatap Kyuhyun dengan tatapan yang seolah berkata jangan bercanda seperti itu, itu sama sekali tidak lucu.

“Aku tidak bohong!” sergah Kyuhyun. “Aku melihatnya!”

Jonghyun mengerjapkan kedua matanya. Melihatnya?

“Ia ada disini. Aku melihatnya di dalam gedung ini!” Kyuhyun melanjutkan cepat.

Jonghyun menghentikan langkahnya ketika ia melihat sosok seorang gadis berdiri membelakanginya. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang dan ia semakin ragu untuk melangkah maju. Ia tidak melihat wajah gadis itu, tetapi detak jantungnya yang tidak beraturan memberitahunya bahwa itu memang Yoona, gadis yang selama ini ditunggunya. Gadis yang menjadi alasan mengapa sampai saat ini ia tidak pernah berkencan dengan gadis manapun.

Jonghyun merasakan darahnya berdesir ketika gadis itu tiba-tiba berbalik. Ekspresinya tampak terkejut ketika kedua manik matanya bersirobok dengan milik Jonghyun. Mereka berdua sama-sama terdiam dan hanya saling memandang satu sama lain.

Im Yoona sama sekali tidak berubah sejak terakhir kali Jonghyun melihatnya sepuluh tahun yang lalu. Selain bahwa Yoona kini bertambah tinggi dan juga sudah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang cantik. Rambut hitam panjangnya tidak berubah sejak dulu, begitu pula dengan mata rusanya  yang selalu bersinar dan senyuman yang masih mampu membuat seolah ada ribuan kupu-kupu berterbangan dalam perut Jonghyun.

-wish-

May 15, 2015

12.30

Disinilah Jonghyun dan Yoona berada sekarang. Duduk berhadapan dalam sebuah kafe yang tidak jauh dari kantor Jonghyun. Selama beberapa saat, mereka hanya saling melempar senyum tanpa mengucapkan sepatah kata-pun.

“Kau—kembali?” Jonghyun akhirnya mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi memenuhi pikirannya. Sebenarnya ia merasa ragu untuk menanyakan hal tersebut. Ia takut mendengar jawaban dari Yoona. Ia takut jika gadis itu akan pergi lagi. Ia tidak bisa kehilangan gadis itu untuk kedua kalinya, dan ia akan melakukan apapun untuk membuat Yoona tetap tinggal.

Yoona tersenyum. “Ya. Aku sudah kembali,” sahutnya.

Jonghyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum lebar mendengar jawaban Yoona. Seluruh tubuhnya terasa ringan dengan lepasnya ketakutan dan kekhawatirannya bahwa Yoona akan meninggalkannya lagi.

Tapi tunggu! Bagaimana jika Yoona sudah memiliki seorang kekasih? Bertunangan atau bahkan menikah? Kedua mata Jonghyun dengan cepat menelusuri jemari Yoona yang saling bertautan di atas meja. Tidak ada satupun cincin yang melingkar di jemari Yoona dan Jonghyun kembali bernapas lega.

“Jadi—apa yang kau lakukan dikantorku?” tanya Jonghyun lagi. Sejujurnya, ia benar-benar terkejut mendapati Yoona berada di kantornya. Sedemikian luasnya Seoul, bagaimana bisa mereka bertemu di kantor Jonghyun?

“Oh, aku baru saja selesai bertemu dengan Direktur Kim untuk membahas proyek bersama dengan perusahaan ayahku,” jawab Yoona sambil tertawa kecil, lalu melanjutkan, “Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disana.”

Jonghyun hanya tersenyum menanggapi Yoona. Setelah itu mereka berdua sama-sama terdiam selama beberapa saat. Keduanya sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin terlalu banyak hal yang ingin mereka utarakan, sampai mereka tidak tahu mana yang harus diucapkan terlebih dahulu.

“Aku mencarimu, kau tahu?” Yoona tiba-tiba berkata.

Jonghyun mengangkat sebelah alisnya bingung, menandakan bahwa ia tidak tahu apa-apa.

“Aku mencarimu,” ulang Yoona. “Segera setelah aku kembali ke Seoul. Tapi ternyata kau sudah pindah.”

“Ah, ya. Orangtuaku memutuskan untuk kembali ke Busan setelah aku lulus SMA. Sekarang aku tinggal sendiri di sini,” jelas Jonghyun.

Yoona menganggukkan kepalanya. “Pantas saja. Aku mendatangi rumahmu dan mereka mengatakan kalau kau sudah pindah sejak bertahun-tahun lalu.”

“Kau sendiri tidak ikut pindah bersama orangtuamu?” tanya Yoona lagi.

Jonghyun mengulas senyum di wajahnya. “Aku tidak bisa pindah dari Seoul,” ucapnya. “Jika aku ikut pindah ke Busan, aku mungkin tidak akan bisa bertemu denganmu ketika kau kembali ke Seoul.”

Rona merah muda muncul di pipi Yoona. Ia harus mengakui kalau laki-laki itu benar. Ia mungkin tidak akan bisa menemukan Jonghyun jika laki-laki itu pindah ke Busan. Tunggu—Bukankah itu berarti—

“Kau menungguku?”

Jonghyun mengangkat wajahnya menatap Yoona. Wanita itu sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit di artikan. Jonghyun menimbang jawabannya, walaupun sesungguhnya jawabannya sudah jelas.

“Ya.”

Kedua manik Yoona menatap Jonghyun dengan sedikit terkejut, tetapi kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Ia berpikir kalau Jonghyun mungkin tidak akan menunggunya. Bagaimanapun juga, Jonghyun adalah seorang lelaki yang—Yoona harus mengakuinya—tampan dan mapan. Pastinya banyak wanita yang akan mengantri untuk berkencan dengannya dan di antara wanita-wanita itu mungkin ada yang jauh lebih baik darinya, jadi kenapa Jonghyun harus menunggu dirinya yang tidak tahu kapan akan kembali. Begitu pikir Yoona sejak tadi.

“Kau—apa kau tidak memiliki kekasih?” Yoona bertanya pada Jonghyun untuk meyakinkan karena ia tidak mau berspekulasi sendiri.

“Aku baru saja mengatakan kalau aku menunggumu kembali, Im Yoona. Kenapa aku harus berkencan dengan orang lain?” balas Jonghyun. “Kau sendiri? Apa kau tidak memiliki seorang kekasih?”

“Kenapa aku harus berkencan dengan orang lain ketika aku memilikimu yang menungguku kembali?” sahut Yoona.

“Bagaimana mungkin kau menungguku kembali selama ini ketika aku bahkan tidak memberimu kepastian apakah aku akan kembali atau tidak,” ujar Yoona sambil tertawa kecil. “Bagaimana jika aku tidak pernah kembali?”

Jonghyun tersenyum kecil. “Aku tahu kau pasti akan kembali. Jangan tanya kenapa, Yoona-ya. Aku hanya tahu, itu saja,” katanya.

Yoona menatap Jonghyun dan membiarkan memori ketika mereka masih bersama masuk ke dalam pikirannya. Ia dan Jonghyun tumbuh bersama sejak mereka masih berumur lima tahun. Selama sepuluh tahun mereka tidak pernah terpisahkan sampai akhirnya Yoona harus pergi. Saat itulah Yoona baru menyadari kalau ia menyukai Jonghyun, tetapi ia tidak pernah mengatakannya. Ia tetap harus pergi dan mengungkapkan perasaannya mungkin hanya akan membuat Jonghyun sedih. Akan tetapi Yoona tidak bisa memungkiri bahwa selama sepuluh tahun ia tidak bertemu Jonghyun, ia merasa menyesal tidak mengungkapkan perasaannya. Karena alasan itulah Yoona berusaha untuk kembali ke Seoul. Untuk bertemu kembali dengan Jonghyun dan mengungkapkan perasaannya.

Yoona melirik jam tangannya dan menghela napas. Ia harus pergi karena ada pekerjaan lain yang menunggunya. Mungkin hari ini bukanlah hari yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.

“Aku harus pergi. Aku harus kembali ke kantor sekarang,” ucap Yoona dengan nada menyesal.

Jonghyun tersenyum mengerti. Bagaimanapun mereka kini bukan lagi anak sekolah yang memiliki banyak waktu luang. Mereka kini juga memiliki tanggung jawab akan pekerjaan masing-masing.

“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku juga harus kembali ke kantor,” ujar Jonghyun.

“Kita akan bertemu lagi kan?” tanya Jonghyun cepat. “Tidak, kita harus bertemu lagi!”

Yoona tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya. “Tentu saja! Tentu saja kita akan bertemu lagi. Aku tidak kembali ke sini hanya untuk bertemu denganmu sekali,” jawabnya.

Jonghyun tersenyum dan ketika mereka bangkit berdiri, ia menarik Yoona ke dalam pelukannya. Yoona boleh saja lebih tinggi darinya ketika mereka berusia lima belas tahun, tetapi sekarang wanita itu tampak kecil dalam pelukannya.

“Aku merindukanmu,” ucap Jonghyun.

Nado. Aku juga merindukanmu, Jonghyun-ah. Sangat,” balas Yoona.

Jonghyun melepaskan pelukannya dan sambil tetap tersenyum ia berkata, “Terima kasih sudah kembali.”

“Terima kasih sudah menungguku kembali,” kata Yoona.

Wanita itu tertawa seraya melepaskan genggaman tangan Jonghyun pada tangannya. Mereka berjalan keluar bersama. Jonghyun mengantarkan Yoona sampai ke mobilnya.

“Ah! Jonghyun-ah!” Yoona yang hendak masuk ke dalam mobilnya berbalik ke arah Jonghyun dan tersenyum lembut.

 “Saengil chukhahaeyo!” ucapnya sebelum melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil.

Jonghyun terpaku sesaat ditempatnya. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman lebar.

Mungkin memang benar, mengucapkan permintaan sebelum meniup lilin akan membuat keinginanmu terkabulkan. Setidaknya, permintaan Jonghyun telah terkabulkan.

END

Advertisements

9 thoughts on “Wish

  1. Sukaaaaaaaak. Penantian yang tidak sia-sia ya. Aaaaa kange jongyoon moment lagi jadinya. Terus ff mereka jg udh jarang ditemuin
    Huhu.
    Ayo lanjut buat kisah mereka dong min. 🙂

  2. wowww. ini simple tapi berhasil buat fly ahahaha. kaka daebak issh kaka kemana aja? lama tak post ff sekalinya post ff buat terbang sama buat senyum2 sendiri kekeke. keren ka suka suka suka. sequel kaa ayolah ne? wwkwk

  3. Waah udah lama gak baca yoona jonghyun. Dan ini sukses buat senyum senyum bahagiaaa😁 terimakasih author! Lanjutkan terus ff yang lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s