Remember – #MonthsOfLove (July)

 Remember

A fanfiction by Felicia Rena

Ficlet – 894 words

NCT Taeyong & A-Pink Hayoung

For projects Months of Love – Juli

Song of the month : Remember by A-Pink

.

.

Let’s leave together, in the cool breeze

Let’s forget today and go back to those times

Do you remember, the sun that shone on us

The wide and blue ocean, just like yesterday

(Remember – A-Pink)

.

“Oh Hayoung!”

“Berhenti berteriak! Aku bisa mendengarmu!”

“Lucu sekali, karena aku sudah memanggilmu sejak tadi dan kau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kau mendengarku,” ujar Taeyong sambil mengacak-acak rambut cokelat panjang Hayoung.

“Berhenti mengacak-acak rambutku!”

“Kalau begitu berhenti melamun dan katakan padaku apa yang sedang mengganggu pikiranmu,” kata Taeyong.

Hayoung menghela napasnya. Ia terdiam lagi selama beberapa saat sebelum mengulang hal yang sama.

“Aku hanya sedang stres, oke?” aku Hayoung. “Aku berusaha keras untuk beradaptasi dengan pekerjaanku yang baru, tetapi aku tidak akan menyangkal kalau pekerjaan ini  cukup menekanku. Ditambah lagi senior-seniorku sama sekali tidak membantu mengurangi keteganganku di kantor!”

Taeyong hanya duduk diam dan membiarkan Hayoung mengeluarkan semua keluh kesahnya. Sesekali ia akan menepuk-nepuk punggung tangan sahabatnya itu sebagai bentuk simpatinya. Ia bisa merasakan rasa frustasi yang telah disimpan Hayoung selama hampir dua bulan terakhir ini.

Hayoung baru saja lulus sebagai sarjana arsitektur dan kini ia bekerja di salah satu perusahaan arsitektur yang cukup ternama di Kota Seoul. Ia baru mulai bekerja di kantor barunya selama kurang lebih dua bulan.

Taeyong menatap Hayoung dalam diam selama beberapa saat setelah gadis itu selesai mengeluarkan semua pikiran yang mengganggunya. Ia lalu berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk menghibur sahabatnya itu yang bisa membantunya mengurangi stres karena pekerjaannya.

Taeyong dan Hayoung sudah bersahabat sejak mereka masih kecil. Terima kasih kepada kedua orang tua mereka yang sudah lebih dulu menjalin persahabatan sejak masih duduk di bangku SMA. Hal ini membuat Taeyong dan Hayoung menghabiskan hampir seumur hidup mereka bersama. Maka tidak heran jika mereka sangat mengenal satu sama lain seperti layaknya saudara. Banyak orang yang bahkan mengira hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat, tetapi keduanya selalu hanya tertawa setiap kali ada orang yang mempertanyakan hubungan mereka.

Taeyong menjentikkan jarinya ketika sebuah tempat melintas di kepalanya. Tanpa meminta persetujuan Hayoung, ia bangkit berdiri dan meraih tangan gadis itu, menariknya pergi.

Ya! Apa yang kau lakukan? Kita mau pergi kemana?” Hayoung berteriak tetapi tidak menghentikan Taeyong menarik tangannya.

“Ikut saja. Aku akan membawamu ke suatu tempat dan kau pasti akan menyukainya,” sahut Taeyong sambil berjalan ke arah mobilnya.

Taeyong membuka pintu mobilnya dan menyuruh Hayoung untuk masuk dengan gerakan tangannya. Hayoung menatap Taeyong dengan kedua alis terangkat sebelum masuk ke dalam mobil tanpa bertanya lebih lanjut.

Selama hampir tiga puluh menit, Taeyong mengemudikan mobilnya ke suatu tempat yang hanya ia ketahui karena sampai saat ini ia masih menolak untuk memberitahu Hayoung kemana ia membawa mereka pergi. Setelah bertanya selama lebih dari sepuluh kali tanpa jawaban, Hayoung akhirnya menyerah dan berhenti bertanya.

Hayoung hampir saja terbangun dengan kaget ketika Taeyong menghentikan mobilnya. Ia baru menyadari kalau ia tertidur di tengah perjalanan. Dalam hati ia mengutuk pekerjaannya yang membuatnya kehilangan jam-jam tidurnya yang berharga selama beberapa hari ini.

“Kau sudah bangun?” Taeyong tertawa kecil melihat Hayoung yang terlihat belum sadar sepenuhnya.

“Dimana kita?” tanya Hayoung sambil mengerjapkan kedua matanya, berusaha beradaptasi dengan sinar matahari yang meluncur masuk menembus kaca jendela mobil di sebelahnya.

“Turun dan lihatlah,” ucap Taeyong seraya turun dari mobilnya dan berjalan ke arah Hayoung untuk membukakan pintu mobilnya.

Masih dengan mata yang setengah terpejam, Hayoung melangkah turuh dari mobil. Ia lalu membuka kedua matanya dan dengan segera disambut oleh pemandangan air berwarna biru yang luas dari ujung hingga ujung matanya memandang.

“Kau ingat tempat ini?” tanya Taeyong yang juga menatap laut di hadapan mereka.

“Aku rindu tempat ini,” gumam Hayoung pelan.

Taeyong membawanya ke laut dekat tempat tinggal mereka dulu. Ketika mereka masih kecil, mereka sering sekali berkunjung ke laut ini bersama dengan keluarga mereka. Taeyong dan Hayoung akan bermain air bersama, membangun istana pasir atau berenang bersama ayah mereka. Ketika mereka sudah lebih besar, mereka akan datang ke tempat itu untuk melepaskan rasa penat dari sekolah dan belajar. Tempat itu adalah tempat favorit mereka.

Hanya saja, sejak sama-sama kuliah dan bekerja, mereka tidak pernah lagi datang ke laut ini bersama. Kesibukan mereka membuat mereka tidak memiliki waktu untuk mengunjungi tempat tersebut dan baik Taeyong maupun Hayoung tidak mau berkunjung ke tempat tersebut tanpa yang satunya.

Hayoung menutup kedua matanya, membiarkan angin sejuk dari arah laut berhembus ke arahnya. Di sebelahnya, Taeyong melakukan hal yang sama.

Taeyong menoleh ke arah Hayoung. “Tidakkah kau merindukan masa-masa dimana kita menjadikan tenpat ini sebagai pelarian ketika kita merasa jenuh atau frustasi akan suatu hal?”

Hayoung tersenyum pada Taeyong. “Tentu saja! Kau tidak tahu betapa aku sangat merindukan tempat ini!” balasnya.

“Kalau begitu, lupakan semua hal yang mengganggu pikiranmu dan nikmati saja hari ini,” kata Taeyong sambil tersenyum.

Hayoung menganggukkan kepalanya. Ia lalu melepaskan sepatunya dan berlari ke arah garis pantai. Ia berdiri disana dan membiarkan air laut membasahi kakinya sampai ke mata kaki. Tidak lama kemudian, Taeyong menyusulnya tanpa alas kaki dan ikut membiarkan air laut menyapunya.

Gomawo,” ucap Hayoung setelah beberapa saat. “Terima kasih.”

Taeyong menoleh dan melihat Hayoung menatapnya sambil tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih. Taeyong balas tersenyum pada Hayoung. Selama sekilas, Hayoung yakin ia melihat kilat jahil di kedua mata Taeyong. Kecurigaan Hayoung terbukti ketika detik berikutnya Taeyong mendorongnya ke arah laut sampai setinggi lututnya.

“LEE TAEYONG!”

Taeyong hanya tertawa sambil berusaha menghalau serangan air dari Hayoung dan membalasnya dengan melakukan hal yang sama. Mereka tertawa bersama tanpa mempedulikan baju mereka yang mulai basah akibat bermain air. Hari ini saja, mereka ingin melupakan kehidupan mereka yang padat dan kembali ke masa lalu dimana mereka bermain bersama di tengah lautan biru dan sinar matahari yang bersinar terang.

End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s